Pertunjukan Drama/Teater Tradisional Jawa Tengah

Prof Dr Muhammad Jazuli

Jawa Tengah sekurang-kurangnya memiliki seni pertunjukan teater tradisional yang berupa: wayang ada 6 jenis, kethoprak ada 4 jenis, dan 8 jenis pertunjukan teater tradisional lainnya. Fungsi seni pertunjukan teater tradisional adalah ritual, hiburan, wahana integrasi sosial dan pendidikan. Nilai dan maknanya bagi masyarakat pendukungnya di antaranya sebagai wadah untukĀ  solidaritas kelompok, pergaulan sosial, dan profesi dalam hidup. Buku ini memberikan informasi yang komprehensif mengenai berbagai jenis seni pertunjukan teater/drama tradisional beserta keragaman bentuk, jenis atau tema, fungsi, nilai dan makna, serta bentuk pengembangannya.

Lihat pos aslinya

Iklan

Pertunjukan Drama/Teater Tradisional Jawa Tengah

Jawa Tengah sekurang-kurangnya memiliki seni pertunjukan teater tradisional yang berupa: wayang ada 6 jenis, kethoprak ada 4 jenis, dan 8 jenis pertunjukan teater tradisional lainnya. Fungsi seni pertunjukan teater tradisional adalah ritual, hiburan, wahana integrasi sosial dan pendidikan. Nilai dan maknanya bagi masyarakat pendukungnya di antaranya sebagai wadah untukĀ  solidaritas kelompok, pergaulan sosial, dan profesi dalam hidup. Buku ini memberikan informasi yang komprehensif mengenai berbagai jenis seni pertunjukan teater/drama tradisional beserta keragaman bentuk, jenis atau tema, fungsi, nilai dan makna, serta bentuk pengembangannya.

Konservasi Seni Budaya Jawa Tengah

KONSERVASI SENI BUDAYA TRADISI JAWA TENGAH

Oleh: M. Jazuli

Abstrak
Seni pertunjukan tradisional sebagai bagian dari budaya tradisi banyak memberikan harapan, kemanfaatan, dan kebermaknaan bagi kehidupan manusia. Untuk itu perlu dilakukan konservasi (perlindungan dan pemeliharaan). Eksistensi, bentuk, jenis, tema dan perkembangan seni pertunjukan tradisional di Jawa Tengah sangat bergantung pada fungsinya, artinya hanya bentuk dan jenis seni pertunjukan tradisional yang fungsional bagi masyarakat saja yang memperoleh perhatian. Adapun bentuk konservasi meliputi pelestarian, pemanfaatan, dan pedayagunaan atau pengembangan seni pertunjukan untuk tujuan identitas budaya (lokal) daerah, penanaman nilai etika dan norma adat istiadat yang sudah mengkristal serta berlangsung secara turun-temurun. Upaya konservasi dilakukan dengan cara pembelajaran seni pertunjukan tradisional di lembaga pendidikan (formal maupun nonformal), mengadakan lomba atau festival, dimanfaatkan untuk peristiwa-peristiwa penting di daerahnya, pelengkap suatu upacara tertentu, dan atau peningkatan frekuensi pementasan.
Kata kunci: seni pertunjukan tradisional dan konservasi

Laporan hasil penelitian tahap pertama ini terdiri dari dua jenis, yakni berupa deskripsi dan rekaman audio visual seni pertunjukan tradisional tari dan musik Jawa Tengah. Capaian hasil penelitian dikelompokkan dalam tiga bagian. Pertama, Jawa Tengah bagian utara (daerah pesisir pantai utara) terdiri dari kabupaten-kabupaten Tegal, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Batang, kota Semarang, Demak, Pati, dan Rembang; Kedua, Jawa Tengah bagian tengah meliputi daerah Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga, Magelang, dan Temanggung; Ketiga, Jawa Tengah bagian selatan yakni daerah kabupaten Blora, Semarang, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan kota Surakarta. Pengelompokkan semacam itu dengan pertimbangan letak geografi yang berdekatan antarkabupaten dalam suatu bagian. Selain itu ditinjau dari kehidupan sosial budaya adanya kemiripan gaya seni budaya yang letak daerahnya berdekatan. Contohnya Jawa Tengah bagian tengah, ada kemiripan gaya seni budaya antara Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Purbalingga.
Penelitian ini telah berhasil mendeskripsikan 50 jenis dari 87 jenis seni pertunjukan tradisional yang masih eksis di Jawa Tengah, terdiri atas 42 jenis tari dan 8 jenis musik. Koreografi tari terdiri atas tari tunggal, berpasangan dan kelompok. Jenis musik terdiri atas musik gamelan, terbang, calung, dan lesung. Tema seni pertunjukan tradisional musik dan tari meliputi: (1) peniruan (pantomim) (2) percintaan (erotik), (3) pergaulan, (4) kepahlawanan atau perjuangan, (5) persembahan (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa atau berkait dengan keagamaan). Fungsi seni pertunjukan tradisional meliputi ritual, hiburan atau tontonan, media pendidikan, dan wahana integrasi sosial. Makna bagi kehidupan masyarakat terkait dengan keempat fungsi seni pertunjukan tradisional, yang terekspresi ke dalam nilai-nilai simbolis, religius dan nilai patriotis seni pertunjukan tradisional. Upaya konservasi seni pertunjukan tradisional melalui pembelajaran, lomba atau festival, ditampilkan pada peristiwa penting daerahnya, dan untuk perlengkapan upacara tertentu (peningkatan frekuensi pentas). Semua itu bertujuan untuk identitas budaya daerah (lokal) dan konservasi nilai etika dan norma adat istiadat di daerahnya.

Untuk informasi lebih lengkap bisa menghbungi saya. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

BUKU MANAJEMEN SENI PERTUNJUKAN

Bersikap efisien dan efektif dalam bekerja, menakar nilai kemanfaatan dan kualitas produk kompetitif merupakan sebuah tuntutan pada era perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sistem informasi yang makin canggih dewasa ini. Untuk itu setiap kegiatan bertujuan memerlukan strategi pencapaian dengan cara membangun tata kelola organisasi yang unggul. Dari sinilah peran manajemen menjadi sangat penting, terutama dalam pemograman berbagai kegiatan bertujuan, tidak terkecuali kegiatan berkesenian. Sungguhpun demikian, sampai saat ini perhatian terhadap manajemen seni pertunjukan belum proporsional dan profesional. Buku-buku tentang pengelolaan maupun penyelenggaraan pertunjukan masih terasa sangat miskin. Tentu saja, hal ini menjadi keprihatinan dan perlu segera mendapatkan tanggapan yang serius. Sebab, apapun yang berhubungan dengan urusan pengelolaan bidang seni membutuhkan kepemimpinan serta keahlian fungsional.
Buku ini berusaha memberikan gambaran mengenai pengelolaan suatu produksi seni pertunjukan. Di antaranya adalah cara menyelenggarakan pertunjukan, aspek-aspek yang diperlukan dalam produksi sebagai suatu sistem organisasi keahlian, bentuk organisasi pertunjukan serta mekanisme kerjanya. Buku ini berupaya menggabungkan prinsip-prinsip yang sekiranya dapat diterima di dalam meletakkan kebijakan praktis sebuah produk pertunjukan yang pragmatis. Dengan perspektif ini, penulis berharap semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama mahasiswa, pecinta dan pemerhati seni, serta seniman seni pertunjukan. Penerbit Graha ilmu Yogyakarta 2014)