Popularitas Sindhen

Artikel di bawah ini cuplikan  dari jurnal  Harmonia   berjudul “POPULARITAS SINDHEN” oleh  M. Jazuli.  Tidak ditampilkan semua tulisan, hanya  mencuplik pada kisah Nyi Ngatirah. Bagi penggemar Condong Raos pimpinan Ki Nartosabdho, sosok sindhen ini tentu sudah tidak asing lagi.

1. Latar Belakang Kehidupan Ngatirah

Ngatirah lahir pada tanggal 31 Desember 1944 di kampung Karangan, Sabrang, Jurang Jero, Karanganom, kabupaten Klaten. Ayahnya bernama Djojoredjo, seorang pengrawit (penabuh gamelan Jawa). Ibunya bernama Gladrah seorang wirasuasta yang mempunyai usaha home industry pencetakan genting (atap rumah) di kampungnya. Gladrah adalah istri kedua Djojoredjo memiliki tiga orang anak, yaitu Sugiyem, Ngatimin, dan Ngatirah. Perkawinan Djojoredjo dengan istri pertama mbok Nyendir tidak dikaruniai anak.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan sekaligus menyalurkan hobinya, Djojoredjo bekerja sebagai pengendang ketoprak dan wayang wong Tobong (kemidhên). Kesenian kemidhên dalam hal ini ketoprak dan wayang wong adalah suatu pertunjukan kesenian yang diselenggarakan di tempat yang tidak permanen, selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain dalam kurun waktu tertentu. Gedung pertunjukannya juga tidak permanen, biasanya terbuat dari anyaman bambu dengan atap dari dedaunan.

Jangka waktu penyelenggaraan pertunjukan tidak tentu, biasanya antara satu bulan sampai empat bulan karena tergantung pada animo jumlah penontonnya. Kemampuan dan kondisi penonton juga merupakan dasar pertimbangan utama pemilihan lokasi pentas kesenian Tobong karena biaya produksi pergelaran sangat bergantung dari hasil penjualan tiket. Dari hasil penjualan tiket itulah digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup para anggota kelompok kesenian Tobong serta membiayai segala perlengkapan pergelarannya.

Ngatirah sejak usia tujuh tahun sudah berafiliasi dengan lingkungan masyarakat seniman, mengikuti ayahnya bergabung dengan kesenian Tobong yang senantiasa melakukan pentas berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Sebagai konsekuensinya proses pendidikan Ngatirah agak terbengkelai, tidak lancar karena kesulitan membagi waktu antara bersekolah dan berpentas. Indikasinya, Ngatirah sering tidak masuk sekolah dengan alasan lelah, malas, dan mengantuk. Kenyataan itu bisa dimaklumi mengingat durasi pergelaran ketoprak maupun wayang wong relatif lama antara 4 sampai 6 jam, dan biasanya pergelaran dimulai sekitar pukul 20.00. Puncak persoalan yang dihadapi Ngatirah dalam pendidikan formalnya terjadi ketika wilayah pentas berjauhan dengan lokasi sekolahnya. Segala upaya telah dilakukan Ngatirah agar tetap bisa bersekolah, di antaranya berpindah sekolah yang dekat dengan wilayah pentasnya. Hal ini dilakukan sampai tiga kali berpindah sekolah. Namun usaha itu akhirnya kandas sampai di kelas 3 Sekolah Rakyat (setingkat SD) karena mau tak mau Ngatirah harus memilih antara bersekolah atau menjadi pengembara berkesenian.

Tentu saja hal ini merupakan pilihan yang sulit bagi Ngatirah. Jika bersekolah butuh biaya dan waktu sedangkan tingkat kemampuan ekonomi keluarga sangat lemah. Sebagaimana dia katakan, ”kadospundi badhé sekolah kanggé mangan mawon rekaos, wong tiyang mboten gadhah (bagaimana mau sekolah untuk makan saja sulit, saya orang miskin, wawancara 18 Oktober 2008)”. Sungguhpun demikian Ngatirah merasa bersyukur karena dari pendidikannya yang hanya sampai kelas 3 tersebut dia tidak buta aksara, Ngatirah mampu membaca dan menulis. Dengan kemampuan membaca dan menulis Ngatirah dapat belajar sindhén kepada maestro dalang Ki Narto Sabdo yang selalu memberikan materi gending dan tembang dengan notasi yang memerlukan keterampilan membaca.

Pada tahun 1956 Ngatirah yang berusia 12 tahun pindah ke Semarang mengikuti ayahnya bergabung dengan grup wayang orang Ngesti Pandawa dan hidup satu rumah dengan ibu tirinya Wasiyem atau akrab dipanggil mbok Welas, istri ketiga Djojorejo. Meskipun harus tinggal bersama ibu tirinya, Ngatirah merasa senang menjalani hidupnya karena Wasiyem memahami aktivitasnya bersenian dan memperlakukan dirinya cukup baik. Dari hari ke hari aktivitas seni Ngatirah di Ngesti Pandawa semakin padat baik latihan tari, latihan nyindhén, dan pentas bersama kelompok Ngesti Pandawa. Kepadatan aktivitas tersebut membuat Ngatirah tidak sempat membantu pekerjaan rumah mbok Welas secara maksimal, bahkan jarang di rumah. Meskipun demikian mbok Welas tidak mempersoalkan bahkan mendorong Ngatirah untuk mengembangkan bakat seninya.

Kehadiran Ngatirah di panggung wayang orang Ngesti Pandawa memiliki makna penting. Berkat bimbingan Ki Narto Sabdo (waktu itu sebagai pakarnya karawitan di Ngesti Pandawa) Ngatirah menjadi seniwati yang bisa diandalkan. Kemampuan seni olah vokalnya yang terus meningkat baik, menjadi perhatian teman-temannya, bahkan menjadi sindhén andalan Ngesti Pandawa. Salah seorang yang memberikan perhatian yang lebih kepada Ngatirah adalah Siswanto seorang pemuda dari Boyolali kelahiran tahun 1941 dan bintang panggung spesialis pemeran tokoh Gatutkaca dan Cakil. Siswanto tertarik kepada Ngatirah karena suara emasnya, sedangkan Ngatirah jatuh hati kepada Siswanto karena kepiawaiannya dalam memerankan tokoh Gatutkaca dan Cakil sehingga menjadi pujaan penggemar wayang wong Ngesti Pandawa. Gayung bersambut, tumbu éntuk tutup, tahun 1960 Ngatirah dan Siswanto kemudian membina rumah tangga. Ketika itu Ngatirah baru berusia 16 tahun.

2. Kesenimanan Ngatirah

Seniman atau seniwati merupakan predikat yang diberikan kepada orang yang dianggap memiliki kompensi tinggi dalam bidang seni. Kompetensi itu ditandai oleh kemampuan, keterampilan, kepekaan, penghayatan, dan penguasaan pada bidang seni yang spesifik secara baik. Kompetensi senantiasa terefleksi pada karya seni yang dihasilkan, diaktualisasikan, dan diakui kualitasnya oleh khalayak luas. Ada empat faktor yang mendukung kenenimanan Ngatirah, yaitu bakat, lingkungan (pergaulan sosial), pendidikan, laku brata. [4]

Ngatirah memiliki bakat seni karena faktor heriditas yakni dilahirkan dari seorang ayah seniman. Ngatirah berafiliasi dengan berbagai lingkungan masyarakat seni ketoprak dan wayang wong Tobong, grup wayang orang Ngesti Pandawa, wayang kulit, dan karawitan Condhongraos maupun karawitan RRI Semarang. Dalam pendidikan Ngatirah memiliki dua pengalaman, yaitu belajar secara autodidak tanpa guru dengan cara sering mendengarkan dan menonton, sedangkan yang kedua melalui bimbingan seorang guru. Dari kedua pengalaman pendidikan tersebut, Ngatirah merasa cara kedualah yang banyak membuahkan hasil.

Ki Narto Sabdo seorang seniman lengkap dengan kemampuan sebagai dalang, pengrawit, aranger, komponis, sastrawan adalah guru Ngatirah dalam berolah suara. Menurut Sutarmi seorang sindhén Semarang dan praktisi karawitan Budi Muhanto, bahwa Ngatirah sangat tepat (pas) dan sangat menjiwai terhadap tembang-tembang céngkok Semarangan, dan hal itu menjadi salah ciri khasnya. Selain itu Ngatirah sangat rajin dan percaya diri atas kemampun sindhenannya, sehingga tidak perlu menekuni bidang lain seperti menjadi penyanyi langgam, keroncong, apalagi dang dut. Ngatirah sendiri pernah mengatakan bahwa ”apapun bidang yang digeluti, bila dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh ketekunan tentu akan membuahkan hasil.”

Oleh karena itu, ia sangat senang dan merasa bangga melantunkan tembang Jawa, khususnya tembang Semarangan, Salah satu tembang yang paling ia sukai adalah Pangkur Semarangan, pélog Nem. Bahkan menurut para ahli dan praktisi karawitan di Jawa Tengah cengkok dan wiled Ngatirah pada Pangkur Semarangan tiada duanya, tidak ada yang menandingi keindahannya. Pada hal nada-nada tembang tersebut memiliki tingkat kesulitan tinggi sehingga membutuhkan teknik olah vokal yang tinggi pula. Mengenai struktur tembang Pangkur Semarangan, pélog Nem dapat dicermati pada contoh berikut ini.

Pangkur Semarangan, pélog Nem
3 5 5 5 3 3 2 4 3
Ming-kar ming-kur ing u – ka – ra
3 2 3 1 6 5 4 2 4 45 32.321
a – ka – ra – na ka – re – nan mar – di si – wi
4 4 4 5 2 4 4 3 456453 245321 143165645
si – na – rung res – mi –ning ki – dung
1 4 4 4 4 4 4 3 4 5
si – nu – ba si – nu kar – ta
3 2 3 1 6 6 5 4 2 4 5 6 32.4321
mrih kre – tar – ta pa – kar – ti – né ngêl – mu lu – hung
1 4 3 1 6 5 4 5 6 5
kang tu – mrap ing ta – nah Ja – wi
1 4 4 4 4 4 3 4 5.6453.2453.2.1
a – ga – ma a – ge –ming a – ji

Ditinjau dari segi hereditas, Ngatirah tergolong orang yang memiliki bakat besar dalam bidang seni olah vokal, terutama tembang Jawa. Hal ini terkait dengan faktor keseniman dari ayahnya yang nota bene seorang seniman karawitan (pengendang) profesional. Bertolak dari aspek keturunan itulah proses pergulatan Ngatirah pada dunia seni suara (kepesindhénan) menunjukkan bakatnya.

Faktor lingkungan dapat menciptakan atmosfer tertentu yang mampu mempengaruhi kepribadian seseorang. Secara sosiologis lingkungan merupakan konstruksi sosial, yang dapat membentuk dan dibentuk oleh orang per orang, termasuk seni yang bersifat tradisi (lihat Jazuli, 2003). Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pada usia tujuh tahun Ngatirah sudah berafiliasi dengan lingkungan seni tradisional, ketoprak dan wayang wong Tobong, serta dengan lingkungan masyarakat yang berbeda-beda di sekitar wilayah pentasnya. Dengan lingkungan atau pergaulan sosial yang berbeda siapa pun orangnya akan selalu menjalin hubungan sosial, tepatnya pergaulan sosial.

Demikian pula dengan Ngatirah, banyak memperoleh pengalaman yang dapat mempengaruhi dirinya. Salah satu contohnya adalah Ngatirah sering menjalankan puasa pada setiap hari kelahirannya (pasa weton). Bagi Ngatirah laku brata pasa weton bukan hanya untuk memperoleh keridhoan atau berkah dari Tuhan, melainkan juga untuk mempertajam kepekaan terhadap fenomena hidup dan kehidupan manusia. Bagi orang Jawa berpuasa pada hari pasaran kelahirannya merupakan bentuk interaksi antara diri pribadi dengan saudaranya yang tak tampak kasat mata (kakang kawah adi ari-ari). Jadi, sadar atau tidak, diakui atau tidak, langsung atau tidak langsung, Ngatirah tergembleng kedewasaannya dalam interaksi sosial maupun kematangan mental panggungnya.

Kepekaan seni senantiasa terasah dan terlatih setiap saat karena pergaulan sosial dengan komunitas seniman. Intensitas pergaulan sosial dengan lingkungan semacam itu menumbuhkan penguatan potensi seninya atau sekurang-kurang berpengaruh terhadap kesenimanan Ngatirah, baik yang berasal dari grup kesenian Tobong, Ngesti Pandawa, Condhongraos, dan RRI Semarang. Sebagai bentuk kematangan, kekuatan, dan kepercayaan diri, Ngatirah tidak pernah berpaling dari profesi sindhén untuk menekuni bidang lain yang seirama, seperti keroncong dan langgam yang pada waktu itu juga digemari masyarakat.

Profesional kesenimanan Ngatirah lebih banyak diperoleh melalui proses pendidikan nonformal. Potensi kesenimanan Ngatirah diperoleh melalui proses belajar dari pengalaman, dia tergembleng dan terbesarkan oleh pengalamannya dalam pergaulan sosial, seperti bergaul dengan para pengrawit, belajar bersama sindhénlain di antaranya dengan Supatmi dan Sutarmi, serta mendengarkan suara sindhénlain (belajar nguping). Exprerince is the best teacher menjadi ungkapan yang tepat bagi perjalanan Ngatirah dalam menggapai puncak karirnya sebagai seniwati sindhén. Pergaulannya dengan lingkungan seni yang berbeda-beda menuntut cara pemahaman yang berbeda pula agar pengetahuan bisa merasuk ke dalam dirinya.

3. Meniti Karir Profesional

Proses pencapaian karir Ngatirah sebagai sindhén populer melalui jalan yang panjang, relatif tidak mulus, penuh liku-liku, dan butuh jam terbang manggung yang lama. Proses seperti itu justru membuat Ngatirah besar dan populer. Fase-fase penting tempat persinggahan Ngatirah dalam perjalanan menapaki profesi sindhén hingga menjadi populer dapat dikemukakan dalam 4 fase, yaitu bergabung dengan grup ketoprak dan wayang wong Tobong, grup wayang orang Ngesti Pandawa, menjadi anggota grup karawitan Radio Republik Indonsia (RRI) Semarang dan grup karawitan Condongraos.

Ketika bergabung dengan Grup Ketoprak dan Wayang Wong Tobong, peran pertama yang dia peroleh adalah sebagai penari beksan Gambyongan. Perlu diketahui bahwa Gambyongan biasanya ditampilkan sebelum repertoar ketoprak maupun wayang wong dimulai, dapat dikatakan sebagai ‘adegan pembuka’. Pada sajian tari (beksan) Gambyong itulah setiap penari tidak hanya menari saja, melainkan juga wajib nyindhéni (melantunkan tembang) gending iringan tarinya. Dengan menari beksan Gambyong berarti melakukan dua aktivitas seni secara simultan, yakni menari sekaligus melantunkan tembang Jawa. Ngatirah tergolong orang yang cepat menangkap materi dan rajin berlatih. Ketika itu kemampuan seni tari Ngatirah lebih menonjol daripada kemampuan olah suara, tembangnya. Maka tak pelak bila masyarakat sekitarnya lebih mengenal Ngatirah sebagai penarik cilik daripada sebagai pesindhén.

Meskipun sebenarnya Ngatirah juga memiliki bakat yang bagus dalam olah suara. Ngatirah memiliki warna suara yang khas yakni halus dan lembut, pandai membuat gregel dan wiledan sehingga kesan suaranya menimbulkan tregel, rongêh, renyah, dan berak. Demikian kata Widodo seorang praktisi seni karawitan dan staf pengajar FBS Universitas Negeri Semarang (UNNES). Menurut Slamet Suparno, ibu Ngatirah selain memiliki céngkok yang khas juga mempunyai ambitus suara yang panjang dan tinggi sehingga bisa melagukan sindhenan yang bernada tinggi dan wiledan (variasi yang khas) yang panjang. Maka tak heran bila bu Ngatirah menjadi kéblat (contoh/tauladan) para pesindhén muda di Jawa Tengah. Banyak para pesindhén muda yang mencontoh céngkok, wiledan bu Ngatirah.

Pada tahun 1956. ia diajak ayahnya ke Semarang bergabung dengan grup kesenian komersial Wayang Orang Ngesti Pandawa yang berdiri pada 01 Juli 1937. Wayang Orang Ngesti Pandawa pernah menjalani kehidupan secara berpindah-pindah (Tobong/kemidhen) selama 12 tahun. Namun sejak tahun 1949 grup ini menetap di sebuah gedung milik yayasan GRIS di jalan Pemuda Semarang, dan kini telah berpindah dan menetap di TBRS jalan Sriwijaya Semarang.

Proses adaptasi Ngatirah terhadap grup Wayang Orang Ngesti Pandawa relatif cepat, terbukti dalam hitungan hari ia sudah dipercaya oleh pimpinan grup yakni Ki Sastro Sabdo untuk tampil di atas panggung. sebagai penari untuk mengisi acara tarian (adegan pembuka) sebelum pergelaran wayang orang dimulai. Kemudian Ngatirah mulai diberi peran sebagai mbok emban (abdi atau pembantu putri atau istri bangsawan). Tugas utama peran mbok emban adalah menghibur Sang bendara (tuannya), yang dihibur biasanya istri atau puteri raja atau seorang pangeran. Oleh karena itu peran mbok emban harus pandai menembang. Agar bisa memenuhi tuntutan peran sebagai mbok emban yang bertugas menghibur bendara-nya, Ngatirah harus banyak belajar gending dan belajar menembang lelagon (lagu dalam karawitan).

Gending yang sering ditampilkan untuk peran mbok emban adalah Ketawang Kinanthi Sandung sléndro manyura. Ketika Ngatirah menembangkan gending tersebut ternyata mampu menarik hati Ki Narto Sabdo seorang dalang yang memulai kirirnya sebagai pengendang Ngesti Pandawa. Kemudian meminta Ngatirah untuk bergabung dengan kelompok karawitan, dan Ki Narto Sabdo sanggup mengajari sindhénan kepadanya.

Menurut Ki Narto Sabdo, Ngatirah lebih tepat dan berbakat menjadi sindhén karena sudah memiliki dasar suara yang bagus dan warna suara yang khas. Sebaliknya Ngatirah kurang memenuhi persyaratan sebagai seorang penari, seperti bentuk tubuh yang kurang proporsional dan paras yang kurang menawan untuk ditampilkan dalam seni komersial.

Ngatirah masih ingat perkataan Ki Narto Sabdo kepadanya pada waktu itu seperti berikut ini ”ora éntuk rupa, ora éntuk dedeg. Wis tak ajari nyindhén waé (tidak memiliki berparas cantik, tidak memiliki bentuk tubuh yang baik untuk menari. Sudah saya ajari nyindhen saja)” (wawancara 10 Juli 2008). Perjumpaannya dengan Ki Narto Sabdo Sang maestro seni tradisional (karawitan) mempunyai makna penting dalam sejarah kehidupan Ngatirah dalam meniti karir sebagai seorang seniwati.

Sejak bergaul dengan Ki Narto Sabdo ia merasa dibekali gurunya untuk mengembara dan menelusuri dunia kepesindhénan, ia merasa mendapat petunjuk untuk menemukan jati dirinya sebagai seorang pesindhén atau waranggana yang profesional. Ki Narto Sabdo sangat berarti, berjasa dalam mengorbitkan Ngatirah pada kehidupan seninya sehingga ia merasa berhutang budi terhadap gurunya. Ketika Ki Narto Sabdo dipanggil kepangkuan Tuhan pada hari Senin, 07 Oktober 1985, Ngatirah merasa kehilangan kekuatan yang selalu mengayominya, kaya macam kélangan siyung. Namun demikian sampai sekarang Ngatirah tetap selalu mengenang dan menaruh hormat atas berbagai jasa kepada dirinya, yang telah menjadikan diri sebagai orang tenar, pesindhén misuwur, sindhén legendaris.

Ngatirah mengalami masa kejayaan Ngesti Pandawa pada tahun 1970-1980an dan masa memprihatikan setelah tahun 1980 hingga sekarang. Mengingat jasa gurunya tersebut, sampai sekarang (1966-2008) Ngatirah tetap mengabdi kepada grup Wayang Orang Ngesti Pandawa sampai selama hayat masih dikandung badan.

Selama di RRI Semarang Ngatirah banyak melakukan latihan dan aktivitas lain guna mendukung kepentingan RRI Semarang, seperti siaran langsung atau tidak langsung dan pentas bersama kelompok karawitan RRI Semarang. Sesungguhnya ketika masuk di RRI Semarang ia telah menjadi seorang pesindhén yang relatif sudah matang berkat bimbingan Ki Narto Sabdo selam 10 tahun. Sungguhpun ia telah menjadi karyawati RRI Semarang, kegiatan bersama Ngesti Pandawa tetap berjalan. Pada siang hari ia masuk kantor untuk memenuhi kewajiban sebagai PNS RRI Semarang, dan pada malam hari bergabung dengan Ngesti Pandawa, baik untuk latihan maupun pentas bersama.

Melihat kondisi Ngatirah yang mendua dalam hal pekerjaan, di satu pihak RRI Semarang dan di pihak lain sebagai pemain Ngesti Pandawa sangat dipahami dan dihormati oleh Ki Narto Sabdo. Dia ingat betul ucapan Ki Narto Sabdo ketika memintanya untuk ikut latihan seperti berikut ini: ”RRI ana gawéan apa ora Rah, yén ora ana ayo mêlu latihan (di RRI ada pekerjaan apa tidak Rah, bila tidak ada ayo ikut latihan). Namun sesungguhnya seberapa penting arti Ngatirah dalam perjalanan kreatif Ki Narto Sabdo? Jawaban yang pasti tentu sulit diketahui, tetapi melalui salah satu karya tembang Ki Narto Sabdo yang berjudul Kinudang-kudang berikut ini barangkali jawaban dapat ditemukan.

Tembang Kinudang-kudang, slendro Sanga

Kinudang-kudang tansah bisa leladi
Narbuka rasa tentrem angayomi
Tata susilo dadi tepa tuladha
Sabdane dhe iku sarawungan kudu
Ngrawuhi luhuring kabudayan
Tinulat sakehing bangsa manca
Rahayu sedya angembang rembaka


Tembang tersebut bila dianalisis dari setiap suku kata pertama menunjuk pada bentuk sandiasma (nama yang disandikan, perhatikan kata yang dicetak tebal) dalam penulisan tembang sebagai karya sastra. Tembang Kinudang-kudang dengan cukup jelas menyiratkan obsesi sang pencipta terhadap seseorang yang dikagumi dari segi kemampuan sindhénan serta dari sikap dan perilaku yang bisa menjadi tauladan bagi orang lain. Sebuah pengakuan yang bermakna penting dan sekaligus pengakuan atas kualitas Ngatirah sebagai pesindhényang dapat diadalkan.

Ngatirah menjalankan kegiatan di RRI Semarang dengan senang hati dan dijalaninya hingga pensiun. Kini di hari tuanya Ngatirah menikmati masa tuanya bersama uang pensiunan yang diperoleh selama bekerja di RRI Semarang. Selain itu, setiap sabtu malam masih ikut pentas di Ngesti Pandawa – barangkali hal ini sebagai hiburan, refressing, sekaligus untuk mengabdi atas kecitaannya terhadap grup Ngesti Pandawa yang membesarkannya.

Pada tahun 1969 Ngatirah bergabung dengan Grup Karawitan Condhongraos yang berdiri pada 01 april 1969 dan dipelopori oleh Ki Narto Sabdo. Para anggota pendukung grup karawitan Condhongraos mayoritas berasal dari paguyuban karawitan Ngripta Raras Semarang ditambah beberapa orang dari RRI Semarang dan RRI Surakarta. Latar belakang berdirinya grup karawitan Condhongraos adalah untuk kepentingan senimanan Ki Narto Sabdo, khususnya untuk melayani permintaan rekaman dari perusahaan rekaman kaset di Surakarta Lokananta Recording.

Rekaman pertamakali berlangsung sekitar tahun 1967, ketika itu Ki Narto Sabdo meminta dua orang dari Semarang yakni Ngatirah dan Ponidi sebagai wirasuara atau sindhén dan diiringi oleh grup karawitan RRI Surakarta. Selaian itu juga karena dorongan dari Ki Sastro Sabdo (ketika itu sebagai pimpinan Ngesti Pandawa). Dengan pertimbangan bahwa Ki Narto Sabdo telah tumbuh menjadi dalang wayang kulit purwa yang terpandang dan laku laris.

Untuk mendukung karir pedalangan Ki Narto Sabdo perlu dukungan kelompok karawitan yang bisa dikoordinasi dengan mudah. Apa yang diasumsikan Ki Sastro Sabdo benar adanya. Bukan rahasia lagi pada sekitar tahun 1970 sampai 1980-an merupakan era keemasan Ki Narto Sabdo, ia merajai panggung pertunjukan wayang. Namanya demikian moncêr (tersohor) dan laku laris tanggapan. Sebagaimana yang dikatakan Ngatirah sebagai pesindhén utama Ki Narto Sabdo bahwa: ”ing wekdal punika kula dhêrêk Bapak ngantos mboten naté wangsul dateng griya, puter-puter terus, bebasan njajah desa milangkori, prasasat mboten naté lêrên (pada masa itu saya selalu mengiringi pergelaran wayang Bapak sampai jarang pulang ke rumah, pentas terus menerus, ibarat masuk satu desa kemudian pindah ke desa lain, hampir tidak pernah istirahat).

Wilayah pentas yang sering disinggahi Ngatirah di antaranya adalah Jakarta, Surabaya, Bandung, kota-kota di wilayah Jawa Tengah, sedangkan di luar Jawa meliputi Kalimantan dan Sumatera. Dalam penjelajahan wilayah pentas, dari pangung ke panggung, dari daerah ke daerah tentu banyak pendapatan yang diperoleh Ngatirah. Namun ketika ditanya berapa honor setiap pentas, beliau dengan agak tersipu dan sungkan menjawab, pinten nggih mas, pokoké kula saget kanggé nglipur kesenengan kula (berapa ya mas, pokoknya bisa untuk bersenang-senang menyenangkan hati). Ketika ditanya lagi beliau baru agak terbuka, nggih menawi kanggé itungan sak menika antawis gangsal ngantos sedosa yutanan (untuk perhitungan uang sekarang sekitar lima juta sampai sepuluh juta setiap pentas).

Boleh jadi pernyataan itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan karena nilai tanggapan dalang ketika itu sekitar Rp 2.000.000 – Rp 3.000.000 (dua sampai juta rupiah). Pada waktu itu nilai satu dolar Amerika adalah seribu rupiah sampai seribu lima ratus rupiah. Artinya bila nilai tanggapan dalang Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah) pada saat itu kurang lebih sama dengan Rp 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah) untuk kondisi sekarang. Namun sayang pendapatan yang besar tersebut tidak dapat dinikmati pada hari tuanya karena ternyata Ngatirah pada waktu itu mempunyai kesenangan bermain kartu (keplek: Jawa) dan merokok, lawan utamanya dalam bermain kartu adalah istri Ki Nartosabdo. Namun demikian kesenangan itu sirna bersama keredupan popularitasnya.

Pengakuan Ngatirah tersebut jika dibandingkan dan diperhitungkan dengan pengalaman pentas dalang sekarang laku laris, frekuensi bisa mencapai 20 kali sampai 25 kali pentas setiap bulan. Ki Manteb Soedarsono dalam suatu kesempatan pernah menceritakan pengalamannya pentas sampai 27 kali setiap bulan sepanjang enam bulan. Dalam tradisi pedalangan, para dalang biasa tidak banyak memperoleh tanggapan (dikontrak) pada bulan Ramadhan, paceklik (sepi) tanggapan. Bertolak dari cerita Ki Manteb Soedarsono tersebut, boleh jadi frekuensi pentas Ki Narto Sabdo dan Ngatirah bisa lebih dari itu karena pada masa itu tidak sedikit dalang yang mayang (mendalang) pada siang dan malam hari. Pada tahun 1980-an Ki Narto Sabdo tampak sudah udzur karena usianya tua, Ngatirah yang masih relatif muda semakin menjulang kepopulerannya. Ia sering diminta para dalang terkenal pasca Ki Narto Sabdo untuk mendukung pergelaran wayangnya. Di antara para dalang itu adalah Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Soedarsono (Surakarta), Ki Timbul Hadiprajitno, Ki Suparman, dan Ki Hadi Sugito (Yogyakarta).

Kini Ngatirah sudah berusia 64 tahun tetapi masih setia menyumbangkan suara emasnya pada beberapa grup karawitan yang berkembang di Semarang, di antaranya Ngesti Pandawa dan RRI Semarang. Nama Ngatirah hingga sekarang masih dikenal oleh masyarakat Semarang dan Jawa Tengah. Ngatirah menjadi sindhén legendaris bagi pecinta, pemerhati serta pelaku karawitan dan pedalangan di Jawa Tengah. Beberapa penghargaan berupa uang tali asih yang pernah ia peroleh di antaranya dari Mardiyanto Gubernur Jawa Tengah (sekitar tahun 2003), Soetrisno Wali Kota Semarang, dan Teater Lingkar Semarang (tahun 2008). Penghargaan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jasa Ngatirah dalam melestarikan, mengembangkan, loyalitasnya kepada seni dan budaya tradisional Jawa. Sekarang Ngatirah sedang menikmati hari tuanya dengan dukukang uang pensiun pegawai negeri, hidup bersama kedua cucunya di Perumahan Tlogosari Semarang.

Ditulis di :  http://wayangprabu.com/sedikit-tentang-site/

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: