PENDIDIKAN MULTIKULTURAL MELALUI PENDIDIKAN SENI

PENDIDIKAN SENI SEBAGAI WAHANA
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Oleh: M. Jazuli
Sendratasik FBS UNNES

Abstrak

Multikultural sebagai salah satu pendekatan pembelajaran seni sangat diperlukan dalam upaya pembentukan karakter seseorang agar memiliki kepribadian yang relatif kokoh. Pendekatan multikultural harus luwes bergantung pada kemampuan peserta didik, masyarakat, dan kondisi sosial budaya lingkungannya. Dalam pembelajaran pendekatan multikultural harus lebih menekankan pada pengembangan kepekaan rasa, estetika, kemampuan berimajinasi dan berkreasi. Hal tersebut berimplikasi terhadap peranan dan kompetensi guru seni. Guru seni dituntut dapat memiliki berwawasan luas, terampil dan bertanggungjawab terhadap profesinya; menguasai bidang ilmu (seni) dan dapat mengembangkan materi ajar; mamahami maturitas dan perkembangan peserta didik dalam belajar seni; menguasai teori dan praktik dalam kerangka pembelajaran seni; mampu merancang dan mengelola pembelajaran seni.

Kata kunci: multikultural, plural, pendidikan seni.

Pendahuluan
Sejak awal reformasi (1998) bergulir berbagai bentuk kerusuhan sering terjadi di negeri, seperti kerusuhan antarkampung, tawuran antarpelajar, permusuhan antaretnis, konflik kepentingan yang menimbulkan demonstrasi di mana-mana. Kemudian masih hangat dalam ingatan kita tentang kontraversial atas fatwa MUI hasil Munas pada Juli 2005 yang hingga kini masih menjadi polemik di tengah masyarakat, di antaranya menyatakan bahwa doa bersama antara muslim dan nonmuslim secara serentak adalah bid’ah, kawin lain agama adalah haram, aliran Ahmadiyah sesat, yang paling seru adalah pluralisme, sekularisme, liberalisme bertentangan dengan ajaran Islam.
Fakta-fakta di atas menunjukkan kebekuan wacana pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia. Pada hal keragaman dan perbedaan dalam hidup manusia dengan segala aktivitasnya merupakan suatu keniscayaan, sebuah anugerah, sunatullah. Alih-alih kehadiran manusia di dunia membawa kondrat ganda, yaitu sebagai makhluk individu maupun sosial. Kedudukan seperti ini tak jarang memunculkan benturan kepentingan dan keinginan yang berbeda-beda. Di dalam sebuah komunitas atau masyarakat bila terjadi kerjasama antarindividu, bisa dipastikan lebih bersifat antagonistic cooperation – bentuk kerjasama antara pihak-pihak yang memiliki prinsip yang berbeda, bahkan berseberangan. Inilah sesungguhnya akar dari terminologi pluralisme, yakni suatu pandangan atau pemahaman yang mengakui bahwa keanekaragaman terjadi akibat perbedaan ide, keinginan, kepentingan, bahkan latar belakang dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat (Alison, 1995).
Pluralitas masyarakat Indonesia merupakan keniscayaan sejarah yang membutuhkan perhatian dan keseriusan untuk selalu mengedepankan sikap saling menghormati, toleran, terbuka, inklusif, demokratis dengan substansi siap menerima berbagai konsekuensi akibat perbedaan yang ada (plural society). Jauh sebelum kebutuhan ini mencuat ke permukaan Mpu Tantural dalam kitab Sotasoma telah mempromosikan ”Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”. Hal ini juga telah terefleksi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia yakni pada peristiwa Sumpah Pemuda. Jika semangat, ruh, dan perhatian keberagaman maupun perbedaan semacam ini terinternalisasi pada setiap orang untuk meciptakan keserasian dan keselarasan dengan pola hidup saling menghormati dan saling menghargai, maka merupakan landasan terwujudnya multikulturalisme.
Indikasi pluralisme di Indonesia bukan saja tampak keragaman kepulauan beserta kebudayaan yang survival, melainkan juga dari cara hidup dan kehidupan masyarakatnya terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan lainnya. Faktor lain yang ikut menentukan keragaman masyarakat di kota besar beserta latar belakang budaya, ras, suku, agama, stratifikasi kelas sosial, jender, dan pandangan tertentu adalah kebijakan politik, desakan ekonomi, serta perkembangan teknologi informasi-komunikasi. Faktor inilah berdampak kepada akselerasi mobilitas penduduk di kota–kota besar yang makin tak terbantahkan. Apalagi kota-kota besar lebih menjamin ketersediaan berbagai fasilitas sehingga dipandang lebih menjanjikan untuk hidup lebih nikmat. Pemukiman menjadi daya tarik bagi orang yang ingin mengembangkan karier atau sekedar mengadu nasibnya di kota besar. Ironisnya, pemukiman penduduk asli serta aktivitas budayanya semakin terpinggirkan.
Fenomena pluralitas dan perubahan komposisi penduduk di kota-kota besar di atas berdampak terhadap dunia pendidikan. Program pendidikan yang ditawarkan sangat diharapkan memiliki kepedulian terhadap kondisi dan latar belakang peserta didik. Dengan kesadaran atas kondisi dan latar belakang peserta didik berarti perlu mempertimbangkan pendidikan pluralisme dan multikulturalisme pada setiap jenis sekolah baik secara formal maupun nonformal. Pada sisi lain, pendidikan pluralisme dan multikulturalisme dipandang sebagai media yang tepat untuk mencairkan kebekuan spirit kesadaran akan perbedaan dan keragaman fenomena kehidupan sosial-budaya. Pertanyaannya adalah pendidikan multikultural macam apa yang perlu dikembangkan? Bagamana cara menumbuhkan dan mengembangkan pendidikan multikultural? Persyaratan apa saja yang dibutuhkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan pendidikan multikultural?
Pada tulisan ini hendak dicoba mengulas pendidikan seni sebagai alternatif pendidikan multikultural.

Pendidikan Multikultural
Konsep pendidikan multikultural di dunia ketiga (termasuk Indonesia) mulai gencar dipromosikan sejak tahun 1980 sampai 1990-an. Sungguhpun konsep pendidikan multikultural lahir di Amerika Serikat pada dekade awal tahun 1960-an yang kemudian berkembang di luar Amerika sejak tahun 1970-an. Keinginan untuk mempromosikan kembali pendidikan multikultural memang beralasan khususnya pendidikan formal yang sejak awal diwarnai oleh budaya Barat. Warna budaya Barat pada pendidikan formal merupakan peristiwa alamiah karena secara historis memang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam tradisi Barat.
Kemunculan pendidikan multikultural terkait dengan sejarah lahirnya multikulturalisme, yaitu dari kondisi plural masyarakat yang berbeda atas dasar suku, ras, agama, kelas sosial, jenis kelamin, pandangan, maupun kondisi tertentu. Perbedaan ini sering menimbulkan ketidakadilan ekonomi, rasial, dan jender yang dibawa oleh ideologi dominan kebudayaan Barat. Oleh karena itu, maksud dan tujuan multikulturalisme untuk melepaskan diri dari dominasi satu budaya (Barat) dan selanjutnya berupaya mempromosikan keragaman budaya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan identitas diri dengan cara membuka diri terhadap berbagai budaya lain. Pemahaman seperti ini tidak terlepas dari suatu pemikiran tentang konsep kebudayaan sebagai cara suatu kelompok untuk mempertahankan diri dan beradaptasi dengan lingkungannya (Davidman, 1996/1997).
Definisi pendidikan multikultural telah banyak dikemukakan oleh para ahli pendidikan, di antaranya adalah untuk mengajarkan mengenai keragaman kelompok sosial dan perbedaan cara hidup di dalam masyarakat pluralistik; Pendidikan multikultural merupakan gerakan reformasi pendidikan yang memberikan perhatian kepada peningkatan kesetaraan di bidang pendidikan bagi beragam kelompok sosial dan budaya (Jazuli, 2008). Kedua definisi tersebut memiliki spirit yang sama, yaitu untuk melepaskan diri dari sistem pendidikan yang lekat dengan dominasi satu budaya (budaya Barat) atas budaya lain, dan berupaya untuk mempromosikan keragaman sistem pendidikan dari budaya lain. Dengan demikian dalam pendidikan multikultural menuntut kesediaan untuk selalu membuka diri terhadap berbagai sistem pendidikan dari budaya lain. Pendidikan multikultural dalam konteks tertentu dapat dipandang sebagai sebuah pendekatan pendidikan untuk mempromosikan keragaman budaya.

Persyaratan Pendidikan Multikultural
Untuk menumbuhkan dan mengembangkan pendidikan multikultural diperlukan adanya pandangan dan sikap bukan saja toleran tetapi juga saling menghormati sebagai wacana penting di tengah keberagaman. Untuk itu kita perlu mereparasi mindset (kerangka berpikir) yang mampu mendorong untuk duduk bersama, saling mendengar, saling bertukar pikiran, dan saling belajar. Seorang multikulturalis tidak menolak perbedaan, yang ditolak adalah membeda-bedakan yang berujung kepada ketidakrukunan.
Syarat selanjutnya adalah kesediaan untuk selalu berdialog. Dialog berarti kesediaan membuka diri dan terbuka bahwa ada kebenaran di luar diri sendiri. Dialog adalah pertemuan hati dan pikiran antara berbagai macam kepentingan, jalan bersama menuju kebenaran, partnership tanpa ikatan, tanpa pemaksaan dan tanpa maksud terselubung. Hidup bersama dalam suatu masyarakat merupakan bentuk dialog yang sesungguhnya.
Persyaratan di atas tidak semudah diucapkan karena untuk melakukan tidak jarang menghadapi kendala. Misalnya: kesulitan komunikasi karena keterbatasan pemahaman, bila masih ada kecurigaan, kurang peduli terhadap dialog yang dianggap sebagai urusan para pakar, ada peristiwa (sejarah) traumatik yang membayangi. Untuk mengatasi beberapa kendala tersebut adalah perlu kesadaran dan kearifan. Kesadaran bahwa keberadan kita semula memang berbeda (asal-usul, kelahiran, cara hidup, dsb) tetapi ketika kita bertemu dalam wilayah perjumpaan yang sama dengan orang lain, maka orang yang kita temui tidak selalu sama dengan kita. Kearifan dapat diwujudkan manakal setiap orang mampu dan bersedia untuk terbuka, toleran, saling menghormati dan saling menghargai, disiplin, berwawasan luas, serta senantiasa menekankan pada nilai-nilai moral, seperti cinta, kasih sayang, dan sikap kemanusiaan yang mulia lainnya. Jika sikap pluralis dan multikulturalis telah terinternalisasi dan menjadi tuntutan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita dapat hidup rukun tanpa rasa iri dan dengki.

Pendidikan Seni sebagai Pendidikan Multikultural
Pendidikan seni mampu menjadi media alternatif mewujudkan pendidikan multikultural melalui kegiatan apresiasi, kreasi, penikmatan, dan pengkajian nilai-nilai sebuah karya seni. Sebab dalam konsep pendidikan seni memuat wacana pendidikan plural dan multicultural, seperti untuk menanamkan suatu pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta menanamkan sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain kepada peserta didik. Hal ini juga mencakup upaya untuk mencoba memahami bagaimana kebudayaan tertentu dapat mengekspresikan suatu nilai bagi warga pendukungnya. Dengan penanaman seperti itu peserta didik dapat mengakui dan melindungi keragaman budaya yang bukan semata-mata berdasarkan etnis, tetapi juga kesetaraan derajat dari kebudayaan yang berbeda. Jadi penekanan terletak pada pemahaman dan upaya peserta didik untuk senantia bergumul dengan pihak lain yang berbeda sosial-budayanya, dan kemudian mampu menginternalisasikan ke dalam kehidupannya baik secara individu maupun kelompok (Lawrence A Blum). Dengan demikian, pendidikan seni seperti halnya konsep pendidikan multikultural yaitu harus memegang prinsip untuk selalu terbuka terhadap pendekatan pendidikan lain yang berasal dari kebudayaan dari orang lain.

Konsep Pendidikan Seni
Suatu kecerdasan yang matang barangkali hanya bisa ditunjukkan dengan cara mengimbangkan (equilibrium) antara kemampuan mengoptimalkan fungsi otak belahan kanan dan kiri. Hal ini berarti bahwa kecerdasan intelektual yang bersumber pada pengoptimalan fungsi otak belahan kiri harus sebanding dengan pengembangan fungsi otak belahan kanan sebagai sumber potensi emosi dan seni. Pada konteks inilah peranan pendidikan seni sangat krusial dalam membantu pendewasaan peserta didik. Asumsi tersebut cukup beralasan karena pendidikan seni berdimensi mental (moral), analisis, dan sistesis sehingga dapat membantu kecerdasan emosional dan intelektual, menghargai pluralitas budaya dan alam semesta, menumbuhkan daya imajinasi, motivasi dan harmonisasi peserta didik dalam menyiasati atau menanggapi setiap fenomena sosial budaya yang muncul ke permukaan (Jazuli, 2005). Oleh karena itu, pendidikan seni mempunyai tujuan seperti halnya tujuan pendidikan umumnya. Perbedaannya di dalam tujuan pendidikan seni hal-hal yang berkaitan dengan norma dan sistem nilai tidak bisa diamati secara langsung (intangible). Gejala rohani dan sistem nilai hanya dapat direfleksikan secara filosofis, dalam arti dapat ditangkap makna simbolisnya berdasarkan sikap dan perilaku lahiriah.
Berdasarkan perspektif di atas, pendidikan seni harus mengarah pada kebutuhan dasar manusia untuk mengembangkan diri secara alamiah maupun ilmiah berdasarkan kompetensi setiap individu. Dengan demikian, kedudukan pendidikan seni akan memiliki arti penting dalam usaha pengembangan kecerdasan emosional (EQ) dan intelektual (IQ), serta merupakan bentuk pendidikan yang mampu memberikan keseimbangan (equilibrium) antara kebutuhan intelektualitas dan sensibilitas kehidupan seseorang (Yulaelawati, 2001). Konsep pendidikan seni harus mencakup perencanaan dan pelaksanaan secara sistemik dan sistematik guna menunjang fungsi pendidikan pada umumnya. Dalam konteks Pendidikan Nasional, di antaranya ikut mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan kata lain, dasar pendidikan seni harus dilandasi oleh kemampuan rasional, keserasian dan keseimbangan, kesadaran tujuan hidup dan pandangan hidup yang menghendaki adanya pengendalian diri dan kepentingan-kepentingannya dalam upaya mencapai kebahagiaan bersama.

Visi
Visi pendidikan seni perlu mengarah kepada: pemahaman terhadap peranan seni dalam kehidupan manusia yang beradab dan berbudaya; membantu kemampuan persepsi dan sensitivitas terhadap berbagai fenomena sosial budaya yang tumbuh dan berkembangan di masyarakat dan lingkungannya; meningkatkan kemampuan menilai (justification) dan berpengalaman seni yang bermakna dalam kerangka kehidupan berbudaya dalam kapasitas pribadi maupun kelompok; meningkatkan kompetensi untuk menggali, mengungkap, dan mengkomunikasikan gagasan, pandangan, perasaan melalui media seni (Jazuli, 2008).
Dengan visi pendidikan seni tersebut, peserta didik memperoleh peluang untuk mengungkapkan segenap pengalaman cipta, karsa, dan rasa estetikanya, serta keseluruhan aspek kemampuan manusia dapat terjangkau dan terbina secara utuh dan harmonis.

Misi
Misi pendidikan seni yaitu mendidik dan membelajarkan peserta didik melalui media seni dalam kerangka untuk: mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan bidang seni (musik, tari, rupa) untuk memenuhi kebutuhan dasar estetika, serta mempersiapkan peserta didik (SD, SLTP, SMU) untuk mengikuti pendidikan selanjutnya; meningkatkan kesadaran dan kepekaan sensoris sehingga peserta didik memiliki daya persepsi memadai terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya; memberikan kebebasan untuk berekspresi kreatif sehingga mampu menumbuhkan dan mengembangkan rasa percaya diri, tanggung jawab dalam kehidupan bersama (bermasyarakat); membangun kebersamaan dalam perbedaan, pluralitas budaya ( Salam, 2001).
Dengan misi pendidikan seni semacam itu, dalam diri peserta didik dapat ditanamkan hal-hal yang berkaitan dengan konsep diri; pemahaman terhadap orang lain, budaya lain, dan lingkungan yang beragam; kehendak untuk belajar dan keterampilan belajar; tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa; kearifan dalam menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan kesadaran terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

Tujuan
Seni mempunyai peran yang sangat penting, sebagai: kebutuhan dasar pendidkan manusia (Basic Experience in Education), sarana berkomunikasi kepada orang lain maupun lingkungan budayanya, pengembangan sikap dan kepribadian, determinan atau memberi peluang terhadap kecerdasan lainnya (Lansing, 1990). Oleh karena itu, pengembangan tujuan pendidikan seni hendaknya mendasarkan nilai-nilai, gagasan (cita-cita dan tingkat kedewasaan) peserta didik, dan pola-pola hidup kreatif melalui latihan-latihan. Dengan kata lain bahwa tujuan tersebut hendaknya diarahkan kepada pemahaman sepenuhnya terhadap seni berdasarkan nilai-nilai sosial budaya, sehingga memberikan peluang bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan kreatif. Kegiatan kreatif tersebut merupakan manifestasi dari kemampuannya berkomunikasi dengan sesama dan lingkungannya, serta merupakan bentuk aktualisasi diri dalam kehidupannya. Atas dasar itulah pendidikan seni perlu memfokuskan perhatian kepada kebutuhan dan kemampuan peserta didik beserta berbagai fenomena (tuntutan dan tantangan zaman) yang sedang berlangsung di sekitarnya.

Refleksi
Berdasarkan pemahaman semacam itu pendidikan seni diharapkan dapat merefleksikan empati, pengendalian diri, kemandirian, dan kenikmatan hidup. Empati dapat ditimbulkan melalui kegiatan seni yang melibatkan banyak peserta didik agar senantiasa bekerjasama untuk mencapai tujuan kegiatan seni yang bersangkutan. Kerjasama itulah akan mampu menumbuhkan kesetiakawanan, toleransi, dan komunikasi sosial yang kondusif. Pengendalian diri dapat dipupuk dan dikembangkan melalui aktivitas seni kreatif yang melibatkan sensitivitas peserta didik dalam merespons suatu fenomena. Kemandirian tidak jarang mampu menimbulkan sikap percaya diri. Kemandirian dapat dilatih dengan cara memberikan peluang seluas-luasnya untuk berekspresi kreatif dan keberanian menampilkan diri. Kemampuan untuk menikmati hidup merupakan pengalaman yang perlu dibiasakan. Sebab kenikmatan hidup hanya bisa dirasakan oleh peserta didik atau orang yang telah mampu menunjukkan ketenangan, kepercayaan diri, toleransi, sikap sopan dan perilaku santun, serta cerdas dan kreatif mengantisipasi masa depan. Kenikmatan hidup yang dirasakan peserta didik menandakan pada pembentukan dan pengembangan pribadi peserta didik secara utuh. . Jika keempat refleksi tersebut bisa terpenuhi, maka pendidikan seni dapat menjadi wahana pembentukan dan pengembangan sumber daya manusia yang kualitas, manusia yang selalu berusaha untuk mengaktualisasikan diri, serta menjadi wahana pelestarian nilai-nilai budaya bangsa, khususnya nilai-nilai etis dan estetis seni-budaya bangsa yang muaranya dapat memperkuat bagi pembentukan identitas diri, budaya local, dan identitas budaya nasional. Dengan demikian, implikasi pendidikan seni berada pada The values of Education in the context of Nation and Character Building.

Penutup
Berdasarkan paparan tentang pemebelajaran seni tersebut, dapat dikemukakan implikasi-implikasi sebagai berikut.
Pertama, pembelajaran seni dengan pendekatan multikultural sangat diperlukan bagi pembentukan karakter seseorang agar memiliki kepribadian yang relatif kokoh. Kedua, Pendekatan multikultural harus luwes bergantung pada kemampuan peserta didik, masyarakat, dan kondisi sosial budaya lingkungannya. Ketiga, pendekatan multikultural harus lebih menekankan pada pengembangan kepekaan rasa, estetika, kemampuan berimajinasi dan berkreasi. Dari ketiga rumusan tersebut berimplikasi pula terhadap peranan dan kompetensi guru seni. Guru seni dituntut dapat memenuhi persyaratan tertentu, di antaranya adalah: 1) berwawasan luas, terampil, dan bertanggungjawab terhadap profesinya; 2) menguasai bidang ilmu (seni) dan dapat mengembangkan materi ajar; 3) mamahami maturitas dan perkembangan peserta didik dalam belajar seni; 4) menguasai teori dan praktik dalam kerangka pembelajaran seni; 5) mampu merancang dan mengelola pembelajaran seni.
Akhirnya, uraian ini masih menyisakan pertanyaan, yaitu: begaimanakah mewujudkan paradigma tata kehidupan budaya yang mampu mengembangkan (sub-sub) kebudayaan dalam kesederajatan dhuwur tan ngungkuli, banter nanging ora nglancangi? Bagaimana pula menciptakan arena-arena sosial (ruang publik) yang mampu untuk belajar hidup bersama dalam perbedaan dan berlangsung secara bebas dan damai penuh tanggung jawab dengan memperhatikan kepentingan pihak-pihak yang berbeda? Tentu hal ini membutuhkan komunikasi yang intens dan sikap kreatif secara terus-menerus baik pada tataran gagasan, sikap, dan perilaku nyata.

Daftar Pustaka
Lansing, K.M. 1990. Art, Artists and Education. London: MsGraw-Hill Book Company.
Golberg, Merryl. 1997. Arts and Learning: An Integrated Approach to Teaching and Learning in Multicultural and Multilingual settings. New York: Longman.
Jazuli, M.. 2005. “Membangun Kecerdasan melalui Pendidikan Seni”, dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi. Semarang: LUSTRUM VIII UNNES.
_____. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Surabaya: Unesa Press
Lansing, K.M. 1990. Art, Artists and Education. London: MsGraw-Hill Book Company.
Salam, Sofyan. 2001. “Pendekatan Ekspresi-Diri, Disiplin, dan Multikultural dalam Pendidikan Seni Rupa”. Wacana Seni Rupa. Vol. 1 No. 3. Hal 12-22.
Shapiro, Lawrence E. 1997. Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Alih Bahasa Alex Tri Kantjono. Jakarta: Gramedia
Yulaelawati, Ella. 2001. “ Pendekatan Kompetensi dalam Perubahan Kurikulum Nasional Pendidikan Seni”. Makalah Semiloka Pendidikan Seni, Jakarta 18-20 April 2001.

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: