DALANG SEBAGAI AGEN SOSIALISASI AJARAN WAYANG

I. Pengantar
Dewasa ini masyarakat Indonesia tengah memasuki babak baru dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu tatanan kehidupan yang mengedepankan nilai demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat beserta komponennya (civil society). Paradigma semacam itu nampaknya diyakini akan mampu memberikan kemajuan dan kesejahteraan di masa depan. Keadaan ini tentunya merupakan suatu perubahan mendasar yang akan melibatkan infrastruktur pada berbagai bidang, tak terkecuali jagat pewayangan dan pedalangan.
Wayang sebagai pertunjukan seni merupakan produk budaya mempunyai nilai pendidikan, filsafat, etika dan estetika, dan religius, sehingga bermakna bagi kehidupan jiwa manusia dalam mencapai keluhuran budi (lihat Anderson, 1965; Muljono, 1978; Amir, 1991). Namun makna seperti itu hanya mungkin dapat dirasakan bila Ki dalang berhasil dalam mensosialisasikan nilai-nilai ajaran wayang. Sebab, di dalam proses ini akan melibatkan visi, misi, posisi atau strategi tertentu dari Ki dalang guna mencapai sasaran dan manfaat bagi khalayak luas. Dengan demikian, posisi dalang sebagai pelaku utama pertunjukan wayang bukan saja menentukan kesuksesan sebuah pergelaran dan proses sosialisasi ajaran wayang, melainkan juga menjadi titik lemah.
Pada tulisan ini saya tidak hendak berbicara mengenai substansi dari ajaran wayang, melainkan lebih mengkonsentrasikan pada peran dalang sebagai agen (subjek/pelaku yang bertindak) dalam proses sosialisasi ajaran wayang. Secara definitif, sosialisasi dapat dipahami sebagai proses penyerapan nilai (ajaran, piwulang dalam wayang) yang berlangsung secara sukarela tanpa bentuk pemaksaan tertentu, seperti penentuan sarana dan sistem penyerapan nilai atau pemilihan nilai secara sepihak. Dalam sosialisasi biasanya diperkaya oleh model lain, seperti pendidikan, propaganda, indoktrinasi. Dengan model seperti itu dan dalam konteks tertentu sosialisasi dapat merupakan suatu bentuk hegemoni dari struktur atas (biasanya oleh negara atau penguasa). Model seperti itu agaknya sudah menjadi bagian dari pekerjaan dalang.
Persoalan yang hendak dibicarakan dalam tulisan ini adalah bagaimana dalang memposisikan diri dalan proses sosialisasi dan apa konsekuensi dari posisinya? Untuk menjawab persoalan tersebut agaknya tidak terlepas dari bagaimana pemahaman dalang terhadap wayang dan apa visi serta misinya?

II. Wayang Dalam Perspektif Dalang
Wayang dan dalang ibarat dua sisi mata uang, yaitu tiada yang satu tanpa lainnya. Pengandaian ini menunjukkan bahwa pemahaman dalang terhadap wayang dapat identik dengan pemahaman terhadap eksistensi dirinya.
Pemahaman dalang dan mungkin juga sebagian masyarakat pewayangan dan pedalangan terhadap wayang secara mendasar bersumber pada tiga kalimat kunci, yaitu ‘wayang iku pasemoné wong Jawa; wayang gambaraké wewayanganing ngaurip; wayang katon urip marga saka lakon lan sanggit dalang’. Ketiga kalimat tersebut dapat dipahami, bahwa wayang pada dasarnya adalah alat, media, wahana, sarana yang bersifat simbolis. Wayang merupakan wahana untuk mengungkapkan pandangan hidup, sistem berpikir, dan filsafat kebudayaan orang Jawa. Wayang melambangkan kehidupan semesta atau menggambarkan secara simbolis lakon kehidupan manusia dengan segala permasalahannya (lakoning dumadi) yang dapat memberikan contoh (teladan) kepada siapa pun yang menikmatinya. Wayang baru bermakna dan menjadi cermin kehidupan bila sudah melibatkan jalinan lakon yang digubah dan dimainkan berdasarkan kreativitas Ki dalang (lihat pula Serat Centini dan Serat Dewaruci).
Sebagian besar dalang dan pengamat wayang berpendapat bahwa pertunjukan wayang sebagai media bersifat ‘netral’, dan mempunyai dimensi internal maupun eksternal. ‘Netral’ dalam arti tidak memihak kepada siapa pun, kapan pun dan dimana pun ketika dipergelarkan. Dimensi internal, bahwa wayang sebagai seni pertunjukan akan mampu survive bila mengandung nilai tontonan (hiburan) dan nilai tuntutan (ajaran atau etis dan estetis), yang dalam pengkomunikasian (pengekspresian) secara inheren harus ditunjang oleh faktor tatanan (aturan normatif) dan tantangan (responsif). Manifestasi nilai tontonan, bahwa suatu pertunjukan wayang harus dapat memberi hiburan yang menarik dan bermakna bagi penontonnya, sehingga tetap bisa eksis dan dicintai penggemarnya. Nilai tuntunan, bahwa suatu pertunjukan wayang harus mampu memberi pencerahan batin penontonnya melalui ekspresi etis dan estetisnya, sehingga penonton merasa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman jiwa yang berguna bagi kehidupannya. Meskipun demikian, di dalam konteks dan cara pandang tertentu antara tontonan dan tuntunan sesungguhnya dapat merupakan satu kesatuan (kontinum), artinya setiap tontonan selalu mengandung tuntunan, demikian sebaliknya. Persoalannya terletak pada kadar nilai yang dilahirkan untuk disampaikan kepada publiknya. Contoh ekstremnya adalah bagaimana pun buruknya sebuah tontonan akan selalu mengandung nilai tuntunan, minimal tuntunan yang tidak baik itu sendiri. Sebaliknya, setiap tuntunan agar bisa disosialisasikan perlu dipertunjukkan, seperti melalui contoh perilaku, penggambaran secara realis atau simbolis, dan sebagainya.
Faktor tatanan, bahwa wayang sebagai suatu pertunjukan seni secara visual harus disusun dan diatur (dikemas) menurut norma aturan atau kaidah yang berlaku agar tampak sebagai sebuah pergelaran yang teratur, tertib, harmoni, dan enak dinikmati. Faktor tantangan, bahwa suatu pergelaran wayang hendaknya selalu merespons sekaligus mengungkap fenomena sosiokultural yang aktual, menggelitik (menantang) yang terjadi di sekitarnya, sehingga wayang dapat berkembang sesuai tuntutan situasi. Tantangan menjadi faktor pendorong keyakinan agar wayang tetap bisa survive. Semakin banyak tantangan cenderung semakin besar peluang untuk berkembang (Jazuli, 1994). Tentunya kedua faktor tersebut akan berimplikasi pada bentuk kemasan pergelaran sehingga sesuai dengan tuntutan zaman, perkembangan teknologi, dan mode yang berkembang pada masyarakat lingkungannya. Aplikasi dari kedua faktor tersebut hanya mungkin terwujud, bila pertunjukan wayang mampu menimbulkan penghayatan dan apresiasi pada penontonnya, dan hal ini sangat bergantung pada kreativitas, potensi, dan bakat dalang. Dimensi eksternal, bahwa pertunjukan wayang akan mampu survive bila berfungsi bagi masyarakat lingkungannya (sosiokultural). Selama ini wayang sebagai media telah mampu berperan sebagai wahana komunikasi massa, ekspresi estetik, dan profesi dalang.
Sebagai media komunikasi massa, pertunjukan wayang telah mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat (penanggap, penonton) yang berupa pemenuhan kebutuhan legitimasi (teknis-rasional), kebutuhan prestise sosial (praktis-normatif), dan kebutuhan pencerahan (analisis-ritual). Dengan kata lain, bahwa wayang sebagai media komunikasi massa dapat dimanfaatkan sebagai wahana untuk kepentingan yang bersifat ritual-sakral (pembersihan jiwa, ruwatan) maupun hiburan. Kedua kepentingan inilah sesungguhnya dapat dipandang sebagai paradigma pertunjukan. Wayang dapat membawakan informasi atau pesan secara menarik, mampu memotivasi dinamika masyarakat, tanggap terhadap keinginan massa, dan lebih banyak memberi kesempatan kepada penonton untuk mencari dan menafsirkan makna yang terkandung dalam pertunjukan (tidak menggurui, kesetaraan).. Wayang sebagai media ekspresi estetik merupakan wahana seorang seniman (dalang) untuk mengungkapkan nilai etis (normatif) dalam kehidupan sosial, nilai estetis dalam kehidupan spiritual (kejiwaan), dan nilai kehidupan lainnya yang bermanfaat bagi manusia. Salah satu contoh pengungkapan nilai tersebut dapat disimak dalam lakon “Gandamana Luweng” yang menceritakan perilaku Haria Suman (Sengkuni) yang dipenuhi ambisi pribadi dan kepentingan golongan. Wayang sebagai ekspresi estetik merupakan wahana dalang untuk menerjemahkan dan mengembangkan gagasan. Menerjemahkan gagasan dalam arti upaya dalang mereproduksi pesan dari penggemar (penanggap dan penonton) dan kemudian memproduksinya ke dalam pergelarannya. Mengembangkan gagasan adalah upaya dalang untuk membawa imajinasi penonton agar berkelana mencari pengalaman yang baik atau bermakna menurut diri mereka masing-masing. Contoh lakon “Gatutkaca Winisuda” yaitu pada adegan Puntadewa, Kresna, Bima dan Arjuna yang menunjuk Gatutkaca menghadapi Basukarna yang menyerang pada malam hari dalam perang Baratayuda. Pada adegan ini terjadi konflik nilai yang tidak mudah dipecahkan, yakni antara cinta tanah air lawan cinta keluarga. Di sini pula imajinasi penonton diajak mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya menurut persepsi dan makna masing-masing (kesetaraan). Mengenai visualisasi dari ekspresi estetik wayang tampak dari kreativitas dalang dalam menyajikan pergelaran secara menarik dan mempesona (keindahan lahir), serta bermakna bagi kebajikan hidup manusia (keindahan batin). Kreativitas ekspresi estetik dalang inilah sering menjadi tolok ukur bagi kredibilitas, prestise, dan pengabdian pada profesinya serta kehidupan sosialnya. Wayang sebagai media profesi dalang harus bisa menghidupi atau menjadi sumber mencari nafkah bagi dalang beserta orang-orang yang terkait dengan pertunjukan (staf produksi) guna memenuhi kebutuhan hidup dan penghidupannya.

III. Visi, Misi, dan Posisi Dalang
Perspektif dalang terhadap wayang tersebut di atas mempunyai implikasi pada status dan peran dalang. Kini dalang merasa lebih cocok disebut seniman, agen, pelaku budaya, daripada guru masyarakat atau pendidik (ajaran moral), dan ‘ahli filsafat’, meskipun dalang memiliki wawasan tentang hal itu. Sebab, sampai kini masih ada sebagian masyarakat, bahkan juga pemerintah, menganggap dalang sebagai guru masyarakat dan ahli filsafat.
Dalam kapasitas seperti itu, dalang senantiasa mendambakan agar bisa menempatkan diri sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Tugas utama (mendasar) dalang adalah menyampaikan isi lakon melalui aspek pakeliran. Isi lakon biasanya berupa pesan kepada penontonnya. Pesan itu bisa bersifat moral, estetis, pemikiran, politis, hiburan, keagamaan, filosofis, dan sebagainya. Pesan yang disampaikan bukan berupa rumusan ilmiah, melainkan suatu pesan (simbolis) yang menghimbau atau memotivasi yang diharapkan mampu memicu alam imajinasi penonton (kesan) untuk memperoleh pengalaman atau pencerahan jiwa yang berbudi luhur (meningkatkan kualitas kemanusiawian), sehingga dapat mempengaruhi sikap atau mengubah perilaku penonton wayang. Tugas dalang inilah sering berimplikasi terhadap fungsi dalang pada kehidupan sosial, yaitu sebagai komunikator, fasilitator, akomodator, motivator, dinamisator, emansipator pada satu sisi; sedangkan pada sisi lain dalang selalu berupaya melaksanakan preservasi dan inovasi kekaryaan seni pedalangannya.
Tanggung jawab dalang adalah meningkatkan mutu seni pedalangan yang mampu memberi kontribusi terhadap kehidupan manusia melalui kekaryaannya. Tanggung jawab dalang termuat dalam Trikarsa dan Pancagatra Pedalangan (Pepadi, 1995; Senawangi 1995). Trikarsa berisi tekad untuk melestarikan, mengagungkan, dan mengembangkan wayang. Pancagatra mencakup seni pentas yang bermutu, yaitu: (1) menampilkan pergelaran yang bermutu (seni pentas); (2) mengolah iringan sesuai dengan tatanan yang berlaku dan berakar dari tradisi (seni karawitan); (3) membanggakan masyarakat pemiliknya (seni kriya); (4) mencakup aspek pendidikan dan falsafah (seni widya); (5) memiliki kreativitas yang tinggi tanpa melanggar nilai adiluhung pedalangan (seni ripta). Dalam kehidupan sosial, tanggung jawab dalang bersumber pada sesanti ‘mamayu hayuning bawana, mamayu hayuning bangsa, mamayu hayuning diri (sasama)’’, artinya selalu berupaya ikut menciptakan ketertiban dan kedamaian bagi dunia, bagi negara-bangsa, dan bagi sesama umat manusia tanpa melupakan kepentingan pribadi. Kepentingan dalang dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu teknis, praktis, dan analisis. Kepentingan teknis yaitu menyangkut kebutuhan ekonomi dan keamanan. Kepentingan praktis berkaitan kebutuhan prestise sosial. Kepentingan analisis berkaitan dengan kebutuhan terhadap kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat.
Dari sesanti itulah kemudian diturunkan darma pedalangan yang mencakup penguasaan dan penjiwaan lima darma dalang atau disebut Pancadarma. Kelima darma yang dimaksud adalah pengetahuan tentang hakekat kebenaran (kagunan), berbagai norma yang disepakati secara budaya (kasusilan), keberanian dan berjiwa besar (kasudiran), bersikap bijaksana dan rendah hati (anuraga), dan selalu waspada (sambegana). Pancadarma dalang ini hendaknya selalu menjadi pegangan bagi dalang agar berani dan mampu menyaring secara selektif segala pesan dan kepentingan dari siapa pun, membebaskan diri dari intervensi mana pun dan kapan pun. Dengan pancadarma dalang berharap mampu menempatkan diri pada posisi yang ‘netral’ dalam menghadapi berbagai kepentingan yang berasal dari penggemarnya yang heterogen. Komitmen seperti itu identik dengan perspektif dalang tentang kedudukan dan fungsi wayang, yakni sebagai media yang netral. Namun demikian, komitmen ini nampaknya sangat bergantung pada visi, misi, dan orientasi atau kepentingan setiap dalang. Sebab, dalam praktiknya para dalang agaknya tidak mudah untuk bersikap netral atau tidak memihak.
Menilik pemahaman dalang terhadap wayang di atas, terdapat prinsip dasar yang berhubungan dengan apa yang disebut visi dan misi (dalang dalam pertunjukan wayang maupun dalam kehidupan sosial. Ada dua visi dalang, yaitu mediator dan inspirator. Visi mediator adalah bila seorang dalang selalu menempatkan diri sebagai penengah (penghubung, ‘tidak berpihak’) di antara berbagai kepentingan yang berbeda, ikut menjaga serta menciptakan kesejukan, ketertiban, ketenteraman, dan kedamaian bagi lingkungannya. Visi inspirator, yaitu bila dalang dengan darmanya harus selalu berusaha menjadi pendorong (motivator), membantu memberikan pencerahan bagi semua orang agar dapat hidup lebih bermakna melalui simbol ekspresi pergelaran maupun praktik sosialnya. Dengan demikian, dalang akan mampu memberi kontribusi bagi kehidupan manusia melalui karya seni pedalangan.
Mengenai misi dalang dapat ditarik dari komitmennya pada kehidupan sosialnya, yaitu misi tontonan dan misi tuntunan. Misi tontonan, bahwa dalang harus dapat memberi hiburan secara menarik dan bermakna bagi penontonnya melalui ekspresi estetis wayang, sehingga penonton merasa terpesona (terkesan, terhibur) dan semakin menggemari pertunjukan wayang. Misi tuntunan, bahwa dalang harus dapat memberi pencerahan batin penontonnya melalui ekspresi keindahan etisnya, sehingga penonton merasa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman (pencerahan) jiwa yang berguna bagi kehidupannya.
Dari berbagai fungsi sosial dalang sebagaimana telah disebutkan di atas, ada tiga kecenderungan yang menonjol pada diri dalang yang mengarah kepada cara dalang (strategi) untuk memposisikan dirinya. Ada sebagian dalang cenderung memposisikan diri sebagai emansipator, dengan strategi tindakan sebagai aktor yang mampu berpikir dan bertindak (berekspresi) atas kehendak bebas sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dalang semacam ini biasanya lebih mengutamakan nilai emansipatoris (kesetaraan), kejujuran, kebebasan demi kemanusiawian. Dalam konteks inilah dalang berperan sebagai seniman yang sesungguhnya, artinya dalang selalu mengekspresikan apa yang seharusnya diekspresikan menurut nurani kemanusiaan. Untuk saat ini barangkali bisa dilihat pada karya-karya ‘Ki Slamet Gundono dan Sujiwo Tejo, Timbul Hadiprayitno’. Konsekuensi dari posisi ini, adalah tampak dari sikap dalang yang cenderung sulit diatur, dalang idealis. Ada sebagian dalang yang cenderung memposisikan diri sebagai reproduktor, dengan strategi sebagai agen yang senantiasa ingin melayani selera penonton, mereproduksi gagasan atau pesan dari penanggapnya. Contohnya pergelaran wayang yang dilakukan oleh Ki Enthus Susmono, Joko Hadiwijaya, Ki Sunaryo, dan sebagainya. Konsekuensi dari posisi ini adalah dalang cenderung bersikap epigon, oportunis, penjilat atau membuat senang penggemarnya, sehingga muncul sebutan dalang édan, dalang lékoh, dalang mbeling, dan sebagainya. Namun ada pula sebagian dalang yang lain cenderung memposisikan diri sebagai akomodator, dengan strategi sebagai agensi yaitu selalu berusaha mengakomodasi berbagai kepentingan (tawar-menawar kepentingan) terutama yang berseberangan dari pihak penanggap, penonton maupun dirinya selaras dengan norma budaya yang berlaku. Dalang seperti ini kadang melayani selera penonton (hiburan), kadang memenuhi keinginan penanggap (pesan, titipan), dan kadang mengadakan kritik sosial atau himbauan kearifan tertentu menurut keyakinannya. Dalang semacam ini akan senantiasa berada dalam proses tawar-menawar atau lebih memprioritaskan nilai keseimbangan, seperti Ki Anom Soeroto, Purba Asmoro, Manteb Soedarsono, dan sebagainya. Dalam konteks ini dalang sebagai pelaku budaya akan selalu adaptif terhadap norma budaya yang survive. Konsekuensi dari posisi ini adalah sikap dalang cenderung hipokrit, plin-plan, dan kadang bunglon dalam arti tidak merugikan pihak lain (posistif).
Sesungguhnya, visi, misi, dan posisi dalang merupakan wahana dalang sebagai seniman, agen, pelaku budaya untuk mengabdikan, memberdayakan, dan mengaktualisasikan diri dan hidupnya pada profesi maupun kehidupan sosial. Pemilahan atau pembedaan tentang visi, misi, dan posisi dalang tersebut di atas lebih bersifat kecenderungan semata, tidak berlaku ketat karena sering tumpang-tindih, saling menggantikan, saling melengkapi, bergantung pada konteks (peristiwa pertunjukan) dan kepentingan dalang. Idealnya, visi, misi, dan posisi tersebut bisa dilakukan dalang secara simultan, seimbang, komplementer, dan koheren. Namun demikian dalam kenyataannya tidak mudah diwujudkan, karena salah satu di antara visi, misi, dan posisi lebih menonjol dari lainnya. Hal ini bergantung pada kepentingan (maksud, tujuan, ideologi) setiap dalang dan konteks peristiwa pertunjukannya. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa pada saat tertentu seorang dalang memposisikan diri sebagai reproduktor, tetapi pada saat yang lain dia mungkin memposisikan diri sebagai akomodator atau emansipator. Demikian pula dengan visi dan misi, sangat mungkin salah satu lebih kuat (transparan) dari yang lainnya, bergantung konteksnya. Matriks di bawah ini menggambarkan tentang visi, misi, kepentingan, posisi dalang sebagaimana telah dipaparkan.

IV. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, kiranya bisa diduga visi, misi, dan posisi manakah yang relevan diikuti oleh dalang agar dapat bertindak sebagai agen dalam proses sosialisasi ajaran wayang. Sebab, semua itu sangat bergantung kepada kepentingan dalang (ekonomi, prestise sosial, kebebasan tanpa represi) dan konteks pertunjukannya (ritual atau hiburan). Penentuan dalang atas visi, misi, dan posisinya akan berpengaruh terhadap sasaran yang dituju dan manfaatnya bagi klalayak luas yang menerimanya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kompentensi dalang berpengaruh terhadap kualitas (pesan) ajaran wayang yang dikomunikasikan.

Pustaka Acuan:
Amir, Hazim. 1991. Nilai-nilai Etis dalam Wayang. Jakarta: Sinar Harapan.
Anderson, Benedict R.O’G. 1965. Mythology and the Tolerance of Javanese. Monograf Series, Modern Indonesia Project, Southeast Asia Program, Departement of Asia Studies, Cornell University, Third authorized edition for study us in Indonesia.
Jazuli, M. 1994. “Manajemn Seni Pertunjukan Wisata Budaya di Istana Mangkunagaran Surakarta.” Tesis Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
_______. 1999. Seni Pertunjukan Global: Sebuah Pertarungan Ideologi Seniman. Paper Festival dan Temu Ilmiah Milleniart MSPI. Tirtagangga Karangasem Bali 9-14 September.
_______. 1999. “Dalang Pertujukan Wayang Kulit: Studi Ideologi Dalang Dalam Perspektif Hubungan Negara dan Masyarakat.” Disertasi Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.
Muljono, Sri. 1978. Wayang, Asal-usul, Filsafat, dan Masa Depannya. Jakarta: PT. Gunung Agung.
Pepadi. 1995. Laporan Hasil Rapat Paripurna Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Jakarta: Penyelenggara Rapat Pepadi.

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: