DALANG

Peran dalang erat hubungannya dengan fungsi wayang dalam kehidupan sosial. Pada masa lampau (sebelum tahun 1965-an), wayang bagi masyarakat Jawa bukanlah sekedar ekspresi seni dan hiburan, melainkan juga sebagai sumber acuan hidup, sebuah frame of reference, mitologi, dan cermin budaya Jawa. Lewat lakon, di dalam pertunjukan wayang memuat nilai-nilai filsafat, etika, estetika, religius, dan pendidikan. Maka wayang merupakan media pengajaran bagi manusia yang melambangkan pergulatan hidup dan budi pekerti luhur (tuntunan). Menurut para ahli budaya Jawa, lakon-lakon wayang melukiskan kehidupan masyarakat dan negara, kebijakan dan praktik kenegaraan, sehingga tak pelak bila Umar Kayam pernah mensinyalir bahwa untuk mengetahui kehidupan negara perlu melihat wayang. Oleh karena itu pula lakon wayang sering dipercaya dapat berpengaruh bagi kehidupan penanggapnya.
Dari fungsi wayang semacam itulah, dalang sebagai sutradara dan pelaku utama dalam pertunjukan sering diibaratkan dengan seorang pembawa kaca benggala, simbol perantara antara mikrokosmos dan makrokosmos, guru masyarakat (ngudal piwulang). Dalang memiliki kedudukan yang tinggi setingkat kiai, pendeta dan pujangga. Kemudian muncul pula dua kategori dalang, yaitu dalang tontonan dan dalang temenan. Dalang tontonan adalah dalang yang bekerja (mendalang) sekedar untuk ditonton dan memperoleh tepuk tangan dari penontonnya. Dalang semacam ini dipandang sering merusak pakem, membuat cerita sendiri, tidak segan mengorbankan harga diri demi upah dan memuaskan penanggapnya. Dalang temenan adalah dalang yang bekerja penuh rasa tanggung jawab sesuai dengan visi, misi, dan fungsinya yang lebih mengutamakan nilai-nilai kemanusiawian. Pada kelompok dalang temenan inilah terdapat sebutan atau predikat dalang, di antaranya adalah dalang wikalpa yang selalu mengikuti pakem, dalang guna yang senantiasa beradaptasi dengan semangat jaman tanpa mengesampingkan kaidah etis dan estetis pedalangan (manut jaman kelakoné), dalang guru yang mengutamakan peran sebagai pendidik, dalang sejati sebagai dalang yang menguasai ilmu kesempurnaan hidup (ilmu lebet), dalang purba yang memiliki misi membangun masyarakat ke arah kedamaian, dan sebagainya. Namun seiring dengan perubahan jaman dan berbagai tuntutan sistuasi, masih adakah sebutan dalang semacam itu? Apakah wayang juga masih merefleksikan kehidupan masyarakat dan negara? Jawabannya barangkali bisa beragam bergantung dari sudut pandang, cara pandang, dan wilayah pandang yang dikemukakan.
Pada masa kini, sebutan dalang sebagaimana yang telah dikemukakan mungkin tinggal nama saja. Sebagai gantinya timbul sebutan atau tipe-tipe dalang tertentu yang erat kaitannya dengan fungsi, keahlian, dan orientasi dari seorang dalang yang bersangkutan. Misalnya sebutan dalang edan (mbeling, gendheng) karena keberanian dan kreativitasnya, dalang kompilasi yang sering menempelkan unsur-unsur lain di luar dunia pewayangan dan pedalangan, dalang sabet karena kepiawaian memainkan boneka wayang, dalang setan karena keterampilan dan kecepatan menggerakkan boneka wayang, dalang cabul karena suka membuat banyolan berbau porno, dalang komersial karena selalu berorientasi profit, dalang idealis karena teguh mempertahankan pakem dan nilai-nilai tuntunan, dan sebagainya. Sebutan dalang semacam itu muncul bukan tanpa alasan, tetapi dapat dipastikan bahwa segala strategi, bentuk dan gaya ekspresi dalang sekarang bermuara pada tujuan untuk memperoleh pasar, digemari penontonnya sehingga banyak tanggapan alias payu laris dan populer tentunya.
Mengenai refleksi dalang (lewat wayang) dalam kehidupan sosial kiranya bisa disimak pada dua fenomena berikut ini. Ketika sabet atau kemampuan dan keterampilan memainkan boneka wayang seorang dalang menjadi tolok ukur dan kegemaran bagi sebagian besar penonton, Ki Panut Darmoko (dalang dari Nganjuk) pernah mengatakan, bahwa kata “sabet” sesungguhnya merefleksikan sebuah situasi yang sedang terjadi di masyarakat. Betapa tidak ironis, bila mayoritas upah kerja sekarang tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan untuk bisa cukup orang harus mencari tambahan penghasilan dari pekerjaaan lain, artinya harus berani nyabet sana nyabet sini agar supaya kebutuhan hidup dapat tercukupi. Demikian pula ketika pertunjukan wayang banyak dipenuhi adegan banyolan (dagelan), bahkan sampai sekarang adegan Limbuk-Cangik dan Gara-gara merupakan fenomena yang nge-trend dalam pertunjukan wayang, menjadi primadona penonton wayang, sehingga durasi waktu pada kedua adegan itu sering mencapai dua sampai tiga jam. Paralel dengan fenomena ini bisa disimak bahwa kondisi negara bangsa (entah kebetulan) juga dipenuhi oleh para elit politik dengan berbagai startegi permainan yang mencerminkan sebuah pertunjukan dagelan. Sebuah dagelan politik yang dikemas dalam sebuah sandiwara yang menarik dan sekaligus membingungkan bagi mereka yang tidak paham, terutama rakyat kecil yang selama ini selalu dalam posisi tertindas, terkooptasi, dan terhegemoni oleh para elit yang sarat dengan kepentingan dan kekuasaan termasuk sebagian besar dalang.
Akhirnya Ki Manteb Soedarsono pun pernah bersumpah, bahwa dirinya ingin kembali menjadi dalang temenan, maknanya adalah ingin mengembalikan pertunjukan wayang dari nuansa hura-hura (tontonan) kepada pertunjukan yang mampu memberikan pencerahan, tuntunan bagi khalayak luas. Alangkah arifnya bila hal ini secara simultan juga menjadi isyarat munculnya kesadaran para elit untuk berkehendak, berpikir, dan bertindak atas dasar kearifan dan emansipatoris dalam menata negara yang tengah gonjang ganjing ini. Apakah hal ini merupakan survival of the fittest – bagian dari seleksi (hukum) alam, dan bukankah jagat iku owah gingsir, cakra manggilingan. Mari kita tunggu saja!

Demak, 30 Maret 2001

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: