LORO-LORONING ATUNGGAL

Perkawinan secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu peristiwa pertemuan antara dua hal yang berbeda atau berlainan yang kemudian bersatu dan saling terikat. Makna yang lebih dalam dari perkawinan bisa terefleksi pada berbagai ragam bentuk dan dimensi, meskipun dalam budaya Jawa secara substansial terangkum pada istilah loro-loroning atunggal sebagai fenomena dunia yang terekspresi dalam berbagai bentuk, seperti kanan-kiri, siang-malam, langit-bumi atau bapa angkasa-ibu pertiwi, pria-wanita, lingga-yoni, dan sebagainya.
Dengan pemahaman seperti ini dapatlah mengerti mengapa dalam acara upacara perkawinan Jawa selalu terdapat bagian-bagian upacara seperti pambagi harjo atau selamat datang, panggih temantèn, yaitu bagian upacara pertemuan antara mempelai pria dengan mempelai wanita.
Di dalam upacara tersebut berlangsung subbagian peristiwa atau adegan upacara, seperti mbalang suruh, membasuk kaki mempelai pria yang dilakukan oleh mempelai wanita, kemudian adegan ngidak endhog, dan seterusnya.
Tentu bagian upacara beserta adegan-adegan seperti itu hanyalah sebuah simbolisasi yang merefleksikan harapan dan keinginan orang Jawa agar selalu selamat dalam mengarungi samodra kehidupan di dunia. Harapan dan keinginan itu ditujukan kepada pihak yang memiliki kekuatan gaib dan berkuasa atas penguasa dunia ini, yakni Tuhan. Untuk itulah dalam setiap peristiwa perkawinan selalu ada ‘wali’ (biasanya orang tua pihak mempelai wanita) sebagai representasi dari pihak yang sah (berkuasa) untuk mengawinkan kedua mempelai. Wali inilah sesungguhnya representasi simbolik dari yang lebih berkuasa, perkenan Tuhan atau lebih populer seizin Allah.
Masyarakat Jawa sangat percaya pada dunia gaib, dan kepercayaannya itu agaknya menjadi bagian dari ideologi orang Jawa. Penguasaan dan penghormatan terhadap dunia gaib lazim dilakukan dalam bentuk upacara, baik dalam wujud yang sederhana maupun yang rumit. Penghuni dunia gaib oleh masyarakat Jawa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu dewa-dewa, makhluk halus, dan kekuatan sakti. Menurut kepercayaan kekuatan sakti berada di dalam gejala-gejala, peristiwa-peristiwa, dan benda-benda yang luar biasa atau istimewa. Gejala luar biasa seperti gejala alam dan tokoh manusia; peristiwa istimewa seperti inisiasi; dan benda-benda luar biasa seperti benda pusaka (keris, tombak), benda lambang (bendera, umbul-umbul), dan senjata yang pernah digunakan untuk perang. Kekuatan sakti tersebut oleh orang Jawa selalu dihormati supaya mendapatkan berkah.
Karena itu peristiwa perkawinan selalu melibatkan pihak yang lebih berkuasa dan memiliki kekuatan yang luar bisa, maka perkawinan disakralkan melalui peristiwa ritual. Makna sakral dari perkawinan itulah dalam budaya Jawa pernah dikenal penyebutan peristiwa perkawinan sesuai dengan substansi dan situasinya, seperti kawin nggantung, kawin peti mati, kawin keris, dan sebagainya. Kesakralan itu sendiri sesungguhnya merupakan simbolisasi dari suatu penghormatan, permohonan, perlindungan orang Jawa kepada kekuatan dan kekuasaan yang maha dahsyat, maha gaib. Misalnya kawin peti mati, sebagai pencerminan ekspresi penghormatan kedua mempelai kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia, yakni dengan cara mengikrarkan dirinya dihadapan peti jenazah orang tuanya. Demikian juga kawin keris, adalah simbolisasi dari perkawinan dua kekuatan yang dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai kesaktian. Dengan perkawinan kekuatan seperti itu orang yang bersangkutan kesaktiannya semakin bertambah. Boleh jadi karena tidak mampu bersatu secara wadag, maka kekuatan yang ada pada diri masing-masing yang bisa disatukan atau dikawinkan sehingga menjadi kesaktiannya bertambah dan kekuatan yang lebih hebat. Fenomena bertambahnya kesaktian maupun kekuatan juga telah disimbolkan pada diri Arjuna yang kawin dengan banyak anak pertapa sakti.

Semarang, 18 Januari 2002

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: