MEMBANGUN KECERDASAN MELALUI PENDIDIKAN SENI

Pendahuluan
Selama ini kebijakan pendidikan nasional cenderung masih mengedepankan pendidikan sains dan teknologi sehingga pendidikan humaniora termasuk bidang kesenian tampak terpinggirkan. Dampak dari kebijakan semacam itu di antaranya adalah muncul krisis moral, budaya, dan krisis eksistensial (lihat pula Jazuli, 2000). Indikatornya, banyak orang yang berperilaku menyimpang dan tak bermoral, seperti perilaku anarkis, kriminal, pemerkosaan, dan bentuk kekerasan lainnya. Fenomena seperti ini tak pelak menjadi santapan kita setiap hari sebagaimana ditayangkan oleh televisi maupun media cetak. Ironisnya, perilaku semacam itu tidak sedikit dilakukan oleh kalangan remaja maupun anak-anak. Dalam konteks inilah urgensi pendidikan humaniora khususnya pendidikan seni perlu mendapatkan perhatian serius dan proposional. Betapa tidak, karena banyak ahli yang berpendapat bahwa seni sangat berperan dalam memenuhi kebutuhan dasar pendidikan manusia (Basic Experience in Education). Misalnya gagasan Herbert Read (1982) tentang education through art yang menekankan naluri berolah seni bagi anak adalah suatu yang universal, yaitu sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya. Bagi Ki Hajar Dewantara, seni sebagai bentuk pendidikan humaniora untuk pengembangan sikap dan kepribadian, memenuhi kebutuhan dasar estetika, dan determinan terhadap kecerdasan lainnya. Pendidikan seni yang berdimensi mental (moral) seperti itu kiranya dapat menumbuhkan kecerdasan ganda baik kecerdasan emosional (EQ) maupun kecerdasan intelektual (IQ). Dalam proyek Quantum Learning (bandingkan DePorter dan Mike Hinarcki, 1999) seni menempati posisi strategis pada metode dan proses pengajaran. Pendidkan seni dapat membantu seseorang untuk menghargai pluralitas budaya dan alam semesta, menumbuhkan daya kreativitas, imajinasi, motivasi dan harmonisasi seseorang dalam menyiasati atau menanggapi setiap fenomena sosial budaya (Jazuli, 2001). Oleh karena itu, tujuan pendidikan seni seperti halnya tujuan pendidikan umumnya yaitu berkaitan dengan norma dan sistem nilai yang tidak bisa diamati secara langsung (intangible). Gejala rohani dan sistem nilai hanya mungkin dapat direfleksikan secara filosofis, dalam arti dapat ditangkap makna simbolisnya berdasar perilaku lahiriah. Berdasarkan fakta itu maka pendidikan seni memerlukan kajian secara ontologis (substansi), epistemologis (metode pendekatan), dan aksiologi (nilai-nilai), terutama dalam kaitannya dengan pembangunan kecerdasan.
Bertolak dari paparan di atas, pendidikan seni harus mengarah pada sesuatu paling mendasar, yaitu Konsep Dasar dan Sistem Penyelenggaraan Pendidikan Seni. Kedua hal inilah perlu memperoleh porsi kajian secara luas, mendalam, dan terus-menerus. Dengan demikian, kedudukan pendidikan seni akan memiliki arti penting dalam usaha pengembangan kedewasaan maupun kecerdasan emosional dan intelektual, serta merupakan bentuk pendidikan yang mampu memberikan keseimbangan (equilibrium) antara kebutuhan intelektualitas dan sensibilitas kehidupan seseorang (Lihat Shapiro, 1997). Dengan pertimbangan tersebut, tulisan ini mencoba untuk memberikan suatu pandangan konseptual.

Konsep Dasar Pendidikan Seni
Dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan, upaya peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional khususnya pendidikan seni, hendaknya disesuaikan dengan tuntutan situasi, yakni perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan masyarakat, serta kebutuhan pembangunan, The values of Education in the context of Nation and Character Building).
Visi pendidikan seni perlu mengarah kepada: 1) pemahaman terhadap peranan seni dalam kehidupan manusia yang beradab dan berbudaya; 2) kemampuan menilai dan pengalaman seni yang bermakna dalam kerangka kehidupan berbudaya; 3) meningkatkan kompetensi untuk menggali, mengungkap, dan mengkomunikasikan gagasan, pandangan, perasaan melalui media seni; 4) memberikan pertimbangan (justification) estetik dalam kapasitas pribadi maupun kelompok; 5) membantu menumbuhkan kemampuan persepsi dan sensitivitas terhadap berbagai fenomena sosial budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan lingkungannya. Dengan visi pendidikan seni semacam itu, setiap orang akan memperoleh peluang untuk mengungkapkan segenap pengalaman cipta, karsa, dan rasa estetikanya, serta mampu menjangkau dan membina secara utuh dan menyeluruh segala aspek kemampuannya.
Misi pendidikan seni hendaknya mampu mendidik dan membelajarkan peserta didik (Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi) melalui media seni dalam kerangka untuk: 1) mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan bidang seni (musik, tari, rupa, dan sebagainya) sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan dasar estetika, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan selanjutnya; 2) meningkatkan kesadaran dan kepekaan sensoris; 3) memberikan peluang kebebasan untuk berekspresi kreatif; 4) menumbuhkan dan mengembangkan rasa percaya diri, tanggung jawab dalam kehidupan bersama (bermasyarakat); 5) membangun kebersamaan dalam perbedaan, pluralitas budaya (Tim FBS UNNES, 2001). Dengan misi tersebut pendidikan seni agaknya akan mampu menjadi wahana untuk menanamkan nilai-nilai tertentu di dalam diri peserta didik , terutama tentang hal-hal yang berkaitan dengan konsep diri; pemahaman terhadap orang lain, budaya lain, dan lingkungan yang beragam; berkehendak untuk belajar dan terampil belajar; tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa; kearifan dalam menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan peka terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Dengan kata lain, seni dalam dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat penting, sebagai: 1) kebutuhan dasar pendidkan manusia (Basic Experience in Education), 2) memenuhi kebutuhan dasar estetika, 3) pengembangan sikap dan kepribadian, 4) determinan terhadap kecerdasan lainnya (Lansing, 1990; Holden, 1977). Implikasi dari kedudukan strategis tersebut, kegiatan dalam pendidikan seni harus dirancang secara sistematis dan sistemik agar mampu mengimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan, meningkatkan produktivitas, membantu mengatasi kekerasan (pengendali diri), mendukung intelegensia lainnya, mempromosikan pembelajaran yang nikmat (Joyfull learning), memiliki peluang bisnis, mengajarkan budaya mendengar,melihay dan merasakan, serta mengembangkan apresiasi, kreasi dan toleransi.

Sistem Penyelenggaraan Pendidikan Seni
Tujuan penyelenggaraan pendidikan seni di berbagai jenjang pendidikan (Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi) tidak mungkin terlepas dari kondisi masyarakat dan budaya lingkungannya. Oleh karena itu, pengembangan tujuan pendidikan seni hendaknya mendasarkan nilai-nilai, gagasan (cita-cita dan tingkat kedewasaan) peserta didik, dan pola-pola hidup konstruktif dan kreatif melalui latihan-latihan, baik secara emosional maupun intelektual. Dengan kata lain bahwa tujuan tersebut hendaknya diarahkan kepada pemahaman sepenuhnya terhadap seni berdasarkan nilai-nilai sosial budaya, sehingga memberikan peluang bagi setiap orang (peserta didik) untuk melakukan kegiatan kreatif dan konstruktif. Kegiatan kreatif tersebut merupakan manifestasi dari kemampuannya berkomunikasi dengan sesama dan lingkungannya, serta merupakan bentuk aktualisasi diri dalam kehidupannya. Kegiatan konstruktif dalam arti berdayaguna bagi hidup dan kehidupan yang lebih bermakna. Atas dasar inilah pendidikan seni perlu memfokuskan perhatian kepada kebutuhan dan kemampuan peserta didik beserta berbagai fenomena (tuntutan dan tantangan zaman) yang sedang berlangsung di sekitarnya. Dengan pemahaman semacam itu tujuan pendidikan seni harus diarahkan kepada kemampuan untuk: 1) memupuk dan mengembangkan kreativitas (intelegensia) dan sensitivitas (emosional) peserta didik, 2) menunjang pembentukan dan pengembangan pribadi peserta didik secara utuh, 3) memberikan peluang seluas-luasnya untuk berekspresi kreatif. Jika tujuan ini bisa terpenuhi, maka pendidikan seni dapat menjadi wahana pengembangan budaya bangsa menuju pembentukan kualitas manusia dan untuk aktualisasi diri; serta menjadi wahana pelestarian nilai-nilai budaya tradisi, khususnya nilai-nilai etis (moral) dan estetis kesenian tradisional yang muaranya dapat memperkuat dasar bagi pembentukan karakter dan identitas budaya lokal maupun budaya nasional.
Refleksi tujuan pendidikan seni mencakup berbagai sikap maupun perilaku yang penuh nilai, yaitu empati, pengekspresian dan pemahaman perasaan, pengendalian diri, kemandirian, adaptif, kenikmatan melakukan, kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, kesetiakawanan, ketekunan, dan sikap hormat atau menghargai. Pencapaian berbagai sikap dan perilaku tersebut mencakup berbagai dimensi bagi keberhasilan kegiatan pendidikan di sekolah sebagaimana yang diajukan oleh Brent G. Wilson yang menafsirkan tiga dimensi perilaku dari Bloom, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik menjadi tujuh dimensi perilaku seni, meliputi: 1) persepsi, 2) pengetahuan, 3) pemahaman, 4) analisis, 5) evaluasi, 6) apresiasi, 7) produksi. Ketujuh aspek tersebut bersifat berjenjang dan perlu dipelajari peserta didik melalui seni yang beragam. Untuk itu dalam penyusunan peta kompetensi dasar pendidikan seni perlu digariskan perilaku yang akan dicapai, dengan mempertimbangkan visi, misi, jenjang pendidikan, dan perkembangan peserta didik (Surono, 2001).
Berbagai bentuk perilaku semacam itu sangat mudah diwujudkan dalam pendididikan seni, terutama seni pertunjukan tari, musik, dan drama. Seni tari misalnya, seseorang yang sedang (belajar) menari tidak bisa lepas dari kerja sama dengan para musisi yang mengiringinya, pengatur pentas, penata rias dan busana, serta aspek penunjang lainnya. Apalagi jika tarian itu dilakukan dengan orang lain, jelas memerlukan sikap dan perilaku yang adaptif, hormat dan menghargai. Pada sisi lain, belajar menari sangat membutuhkan ketekunan, kegembiraan, kemampuan mengendalikan diri, komitmen untuk mandiri, dan senantiasa menjaga perasaan agar apa yang sedang ditarikan tampak ekspresif, hidup dan mempesona. Hal semacam ini juga berlaku dalam belajar atau bermain drama maupun musik, khususnya musik orkestra. Sebab dalam musik orkestra, betapa pun seseorang piawai memainkan suatu alat musik tanpa kerja sama, adaptif, dan menghormati pemain musik lainnya, maka orkestra tersebut tak berarti apa-apa. Dengan beberapa bentuk sikap dan perilaku yang terkandung dalam pendidikan seni seperti itulah menunjukkan bahwa pendidikan seni tidak mungkin terwujud tanpa kecerdasan intelektual maupun emosional. Demikian sebaliknya, tanpa melibatkan kedua kecerdasan tersebut pendidikan seni menjadi tidak bermakna.

Pengajaran Seni
Pembelajaran seni pada dasarnya merupakan upaya untuk membelajarkan peserta didik dengan menggunakan seni sebagai media (education through art), seni sebagai alat, dan seni sebagai materi ajaran. Seni sebagai media (wahana) untuk menggali subject matter melalui karya seni dari suatu konsep mata pelajaran, seperti belajar matematika menggunakan perlengkapan yang berbentuk dan bernilai seni. Seni sebagai alat dalam arti untuk memahami subject matter dari suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya belajar anatomi manusia dengan cara mengupas fungsi dan struktur bentuk manusia sebagai ciptaan Tuhan, meskipun bentuknya sama tetapi rupanya berbeda-beda. Seni sebagai materi ajaran, yaitu menggali, memahami, mencipta dan mengekspresikan berbagai konsep dan prinsip seni dalam karya seni. Konsep dan prinsip dalam seni tersebut bisa dimanfaatkan untuk menganalisis fenomena lain, seperti prinsip keutuhan, keharmonisan, dan sebagainya (Lihat Golberg, 1997; Surono, 2001). Dengan strategi seperti itu diharapkan agar peserta didik yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru. Pengetahuan dan pengalaman baru itu tidak selalu harus bersifat fungsional atau langsung bermanfaat dalam kehidupan nyata, melainkan lebih dari itu yaitu merupakan perpetual grappling (pergulatan terus-menerus) dengan pengetahuan yang ada, artinya pergulatan tersebut dipahami sebagai pemikiran kritis dan rekonstruktif terhadap gagasan yang telah ada sebelumnya. Oleh karena itu, bentuk kegiatan seni harus berupa penggalian experience dan experiment-exploration.
Pengajaran seni (baik materi maupun metode) hendaknya disesuaikan dengan taraf perkembangan (psikologis) peserta didik. Misalnya: pengenalan elemen-elemen musikal, elemen-elemen tari dan elemen-elemen rupa melalui kegiatan yang diawali dengan kegiatan meniru (imitation), dan kemudian dikembangkan pada kegiatan yang mengarah kebebasan berekspresi dan berapresiasi, dan atau sebaliknya yang penting sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik.
Mengenai materi (bahan) ajar sebaiknya dirumuskan secara luwes, artinya disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik maupun lingkungan di sekitarnya. Keluwesan dimaksudkan agar kegiatan berolah seni dalam setiap jenjang pendidikan (SD sampai PT) dapat lebih efektif dan efisien. Semua itu tentunya harus dirancang sesuai dengan tingkat kemampuan dan keterampilan, minat, kematangan pemahaman dan imajinasi, serta kebutuhan peserta didik. Misalnya: untuk usia 12 tahun bisa dimulai dengan materi pembelajaran berupa pengenalan konsep, gagasan, dan pemikiran; untuk usia 17 tahun dengan materi yang berupa topik-topik berhubungan dengan sensory experience with concrete rather that abstract learning; dan sebagainya. Pengembangan materi sebagai subsistem kurikulum hendaknya taat asas atau kontinu, artinya dari tingkat kelas ke tingkat kelas yang lain (jenjang studi berikutnya) harus ada kesinambungan materi ajar. Dengan kata lain, bahwa materi ajar untuk SD, SLTP, dan SMU harus berkesinambungan dan perbedaanya terletak pada keluasan, kedalaman, dan tingkat abstraksinya. Sementara itu pada tingkat Perguruan Tinggi dapat mengarah kepada eksperimen-eksperimen tertentu hingga pada model-model pengemasan selaras tuntutan zaman. Pemilihan dan pengembangan materi juga harus memperhatikan signifikansi, daya tarik atau perhatian, dan kemampuan belajar. Suatu bentuk keterampilan dalam pendidikan seni hendaknya dipahami sebagai media untuk mengekspresikan materi-materi yang merupakan perpaduan antara pengalaman individu, fenomena sosial budaya dan fenomena alam sekitarnya. Oleh karena itu, materi ajar pendidikan seni harus berupa informasi, fakta, prinsip, konsep, prosedur, dan filosofis (bila perlu dan mampu) yang dikemas dan direalisasikan dalam bentuk aktivitas yang bermakna bagi peserta didik.
Adapun metode pendekatan yang dipilih dan dikembangkan hendaknya berupa pemberian bimbingan kepada peserta didik dalam mempelajari hal-hal yang bersifat praktis ke teoretis, konkret ke abstrak, inderawi ke intelektual (Creative Problem Solving), dan atau sebaliknya. Cara lain yang bisa dilakukan lewat pendekatan ekspresi bebas, disiplin, dan multikultural (Salam, 2001). Ciri pendekatan ekspresi bebas adalah mempedulikan kebutuhan peserta didik dengan cara memberikan kesempatan seluas-luasnya tanpa gangguan, artinya tidak diikat dengan tema atau topik-topik tertentu. Tugas guru adalah memberi pengalaman yang mampu merangsang munculnya ekspresi pribadi peserta didik, guru berperan sebagai fasilitator. Ciri pendekatan disiplin adalah berpedoman pada kurikulum yang dirancang secara sistematis guna mencapai kualitas tertentu dan menjangkau wilayah masyarakat luas. Peran guru adalah membentuk peserta didik dan bukan membiarkan peserta didik tumbuh secara alamiah. Pendekatakan multikultural merupakan sebuah pendekatan yang dilandasi oleh semangat untuk melepaskan diri dari dominasi satu budaya (budaya Barat) deng tujuan untuk mempromosikan keragaman budaya melalui penciptaan, penikmatan, pembahasan keindahan dan nilai-nilai simbolik dari berbagai bentuk kebudayaan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran seni di sekolah (khususnya SD sampai SMU) harus diarahkan pada: 1) pengembangan kreativitas dan sensitivitas pribadi peserta didik; 2) pembentukan dan pengembangan pribadi peserta didik; 3) pemberian kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk berekspresi dan berapresiasi lewat aktivitas-aktivitas seni yang mampu mengungkapkan pengalaman yang telah diperoleh peserta didik . Hal tersebut secara konkret dapat ditempuh melalui berbagai macam pendekatan. Misalnya: (1) stimulus-respons, (2) non indoktriner, (3) meningkatkan motivasi terus menerus, (4) kritik konstruktif, (5) kecukupan alokasi waktu yang sesuai atau proporsional (2 jam per minggu untuk tiap bidang seni musik, tari, rupa), (6) peniruan (imitation) untuk peserta didik SD, (7) eksplorasi atau penemuan untuk SMU.
Sungguhpun demikian berbagai fenomena menunjukkan, bahwa sebagian besar para pengajar (guru) sering terjebak pada kompetensi akhir (produksi) dalam proses pembelajaran seni, sehingga cenderung mengesampingkan kepekaan indrawi. Cara pengajaran semacam itu jelas tidak sesuai dengan tujuan pendidikan seni, meskipun mungkin peserta didik sangat terampil, tetapi cenderung tidak mempunyai kepekaan estetis, imajinatif, dan kreatif. Demikian pula dalam kegiatan apresiasi, peserta didik hanya diberi pengetahuan teoretis, hafalan, cara berkarya seni, tetapi tidak dengan serta merta diberi bagaimana berempati, merenungkan, merasakan, mengevaluasi, dan menghargai. Sesungguhnya proses dari kompetensi itu sendiri juga penting, bahkan lebih utama dari produk akhir terutama untuk mengetahui perkembangan pendidikan nilai bagai peserta didik.

Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar adalah kemampuan yang memadai atas pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan nilai yang harus dimiliki dan dikembangkan pada diri setiap peserta didik (Yulaelawati, 2001). Kompetensi dasar yang penting dikembangkan melalui pendidikan seni adalah kemampuan yang mampu menjebatani dan mendukung tercapainya tujuan pendidikan umum secara menyeluruh (art education should be the basic of education). Dengan kata lain bahwa pendidikan seni hendaknya tetap mengarah sebagai education throught art. Berdasarkan hal ini kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik di antaranya adalah: 1) kemampuan mengantisipasi masa depan secara kritis dengan mendasarkan kepada pengetahuan dan pengalamannya; 2) kemampuan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi; 3) kemampuan mengakomodasi atas perubahan-perubahan yang terjadi; 4) mkemampuan mengaplikasikan dan mengembangkan nilai-nilai, sikap, pikiran sesuai dengan identitas diri dan budayanya. Untuk sampai pada kompetensi tersebut, maka setiap peserta didik perlu dilatih dan dibimbing dengan kegiatan seni yang mengarah kepada: 1) kemampuan dan keterampilan menyajikan bidang seni yang diminati, seperti musik, tari, rupa, dan atau jenis seni lainnya; 2) kemampuan berekspresi dan berapresiasi untuk keperluan aktualisasi diri; 3) kemampuan untuk mengembangkan ide sebagai dasar berkreasi; 4) kemampuan merefleksikan fenomena sosial budaya yang terjadi di sekitarnya. Dari sinilah diperlukan standar materi dan standar pencapaian hasil belajar.
Standar materi merupakan bagian dari struktur keilmuan yang menyajikan suatu bahan kajian yang dapat berupa bahan ajar, gugus isi, proses, keterampilan, konteks, dan atau pengertian konseptual yang dipilih untuk mencapai kompetensi dasar yang ditentukan. Standar pencapaian hasil merupakan ukuran dan tingkatan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah ditetapkan, untuk dipahami, dilakukan dan dihayati oleh peserta didik agar mampu memberdayakan dirinya dalam kegiatan belajar yang efektif. Contoh standar materi, seperti peserta didik memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar menguasai elemen-elemen bidang seni tertentu, seperti elemen musikal (seni musik), komposisi gerak, ruang dan waktu (elemen dasar seni tari), dan elemen dasar seni rupa (garis, bentuk, warna dan sebagainya), serta mampu mengaktualisasikan dalam bentuk ekspresi kreati, apresiatif, dan konstruktif. Disamping itu peserta didik memiliki sikap dan kepribadian yang positif yang tercermin pada perilaku atau tindakannya. Standar pencapaian hasilnya bergantung pada kriteria-kriteria yang telah ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran sebelumnya.

Penutup
Berdasarkan bahasan tentang pendidikan seni tersebut, dapat dikemukakan simpulan dan implikasinya seperti berikut ini.
Pertama, dalam pendidkan seni senantiasa melibatkan dan sekaligus berfungsi untuk membangun kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Implikasinya tampak pada nilai sikap dan perilaku empati, pengekspresian dan pemahaman perasaan, pengendalian diri, kemandirian, adaptif, kenikmatan melakukan (kegembiraan), kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, kesetiakawanan, ketekunan, dan sikap hormat atau menghargai. Sikap dan perilaku semacam itu sangat diperlukan bagi pembentukan karakter seseorang agar memiliki kepribadian yang relatif kokoh.
Kedua, sifat multidimensi, multilingual, dan multikultural pendidikan seni berimplikasi terhadap materi, metode, dan strategi pengajaran dari Sang guru seni. Oleh karena itu, seorang guru bidang seni diharapkan dapat memenuhi persyaratan tertentu, di antaranya adalah: 1) berwawasan luas, terampil, dan bertanggungjawab terhadap profesinya; 2) menguasai bidang ilmu (seni) dan dapat mengembangkan materi ajar secara kreatif dan produktif; 3) mamahami maturitas dan perkembangan peserta didik dalam belajar seni; 4) menguasai teori dan praktik dalam kerangka pembelajaran seni; 5) mampu menjadi fasilitator yang kreatif dan konstruktif serta mampu merancang dan mengelola pembelajaran seni ke arah bangunan kecerdasan ganda peserta didiknya.
Sesungguhnya, apabila pendidikan seni dikaji secara intens dan diterapkan secara proporsional dan profesional akan mampu berperan multifungsi, bukan hanya mencerdaskan peserta didik dalam konteks emosional dan intelegensia tetapi juga mampu mencerdaskan moral (MQ), siritual (SQ) dan adversitas (AQ). Pendidikan seni mampu menjadi wahana untuk menguasai banyak ilmu tetapi sangat ahli dalam bidang yang ditekuni oleh setiap orang, “Direct Delta and White Nois”.

Daftar Pustaka

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Lerning. Terjemahan oleh Alwiyah Aburrahman. Bandung: Kaifa.
Golberg, Merryl. 1997. Arts and Learning: An Integrated Approach to Teaching and Learning in Multicultural and Multilingual settings. New York: Longman.
Holden, D.C. 1977. “The art in General Education: Aethetic Education”, dalam Rubin, L. (ed). Curriculum Handbook. Boston: Allyn and Bacon, p. 122-132.
Jazuli, M. 2000. “Tiada Keunggulan Tanpa Kekuasaan”. Makalah Kongres Pendidikan Nasional, Hotel Indonesia Jakarta 11-20 September 2000.
_____. 2001. “Mempertimbangkan Konsep Pendidikan Seni”. Jurnal Harmonia, Vol 2, No. 2/Mei-Agustus 2001. Sendratasik FBS Universitas Negeri Semarang.
Lansing, K.M. 1990. Art, Artists and Education. London: MsGraw-Hill Book Company.
Read, Herbert. 1982. The Meaning of Art. Faber and Faber.
Salam, Sofyan. 2001. “Pendekatan Ekspresi-Diri, Disiplin, dan Multikultural dalam Pendidikan Seni Rupa”. Wacana Seni Rupa. Vol. 1 No. 3. Hal 12-22.
Shapiro, Lawrence E. 1997. Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Alih Bahasa Alex Tri Kantjono. Jakarta: Gramedia
Surono, Cut Kamaril. 2001. “Konsep Pendidikan Seni Tingkat SD-SLTP-SMU”. Makalah Semiloka Pendidikan Seni, Jakarta 18-20 April 2001.
Tim Pengembang Pendidikan Seni FBS Semarang. 2001. “Konsep Pendidikan Seni di Indonesia”. Makalah Semiloka Pendidikan Seni, Jakarta 18-20 April 2001.
Yulaelawati, Ella. 2001. “ Pendekatan Kompetensi dalam Perubahan Kurikulum Nasional Pendidikan Seni”. Makalah Semiloka Pendidikan Seni, Jakarta 18-20 April 2001.

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: