MURID SEJATI – SEJATINE MURID

Dasaring wong ngudi kawruh pawitané ngandel dhisik, marang para leluhurira ingkang bisa apeparing pepadhang, dunungé marga beneré lakuning urip.
Wis jamaké wong sinau ngudi undhaké pangerti, ya kudu wani kangèlan terkadang kélangan duwit, kalamun emoh rekasa nora perlu mlebu murid.

Paparan tembang Kinanthi di atas menunjukkan rambu-rambu bagaimana menjadi murid dan apa yang harus disiapkan dalam belajar atau mencari ilmu. Lalu, apa hakekat murit (sejatiné murid) dan bagaimana murid yang sesungguhnya (murid sejati). Jawaban pertanyaan itu sesungguhnya dapat ditemukan pada diri tokoh pewayangan yang buntas kawruh, yakni Bima. Sebagian di antara kita tentu masih ingat cerita Dewaruci, bagaimana laku dan perjuangan Bima untuk mencari air kehidupan (tirtapawitra) ke gunung Reksamuka yang sangat angker, kemudian harus njegur ing samodra dan bergelut dengan seekor naga raksasa. Air kehidupan adalah simbol ilmu yang diperlukan manusia dalam hidup dan kehidupan, sedangkan bergelut dengan naga raksasa dapat dimaknai sebagai bentuk godaan dan cobaan pada setiap proses penemuan ilmu.
Apa yang lakukan Bima semata-mata karena kepercayaan Bima atas gurunya Sang Durna dan keyakinannya atas ilmu yang akan diperolehnya, sehingga segala perintah Sang guru selalu dilaksanakan dengan kepatuhan dan penuh tanggung jawab sebagai seorang murit. Meskipun apa yang dilakukan Bima itu ditentang oleh para saudaranya Pandawa yang sangat dicintainya karena dipandang tidak nalar, berbahaya atas keselamatan hidupnya. Bahkan diduga perintah Durna itu hanya untuk tujuan memperdaya agar Bima celaka, menderita, dan mati. Dugaan para Pandawa seperti itu karena Durna telah dikooptasi oleh Kurawa yang selalu memusuhi dan mencelakakan Pandawa. Namun wayang adalah representasi bahasa simbol, yang tidak setiap orang mampu menangkap nilai dan makna secara baik dan tepat terhadap apa yang disimbolkan, karena lekat dengan sistem nilai budaya masyarakat. Sistem nilai budaya yang dimaksud adalah wacana-wacana yang hidup dalam alam pikiran suatu warga masyarakat tentang apa yang dianggap bernilai, berharga, dan penting bagi hidup sehingga mampu menjadi pedoman yang mengarahkan kehidupan warga masyarakat yang bersangkutan.
Sesungguhnya apa yang terjadi atas diri Bima tersebut menunjukkan tentang hakekat belajar dan kedudukan murit terhadap seorang guru. Sang guru Durna telah memperlihatkan bagaimana seseorang yang hendak belajar dan menjadi murit perlu mempunyai niat, sikap, dan keyakinan secara total agar mendapatkan kawruh, ilmu yang sebenarnya. Sebab, dalam belajar diperlukan minat, kesungguhan, kedisiplinan, kesabaran, dan keyakinan yang teguh agar apa yang diinginkan dapat tercapai. Bukankah dasaring wong ngudi kawruh pawitané ngandel dhisik, artinya tanpa keyakinan diri dan percaya diri mustahil dapat memperoleh ilmu yang diharapkan. Sikap keyakinan dan kepercayaan diri inilah memuat suatu energi kebulatan tekat yang mampu menjadi daya kekuatan setiap orang agar tidak mudah patah semangat atau pantang mundur, selalu optimis, aktif, dan kreatif dalam setiap menghadapi tantangan maupun kesulitan belajar yang datang silih berganti dan terus menerus. Dalam belajar, kesulitan dan hambatan senantiasa menjadi bagian dari proses belajar. Demikian pula halnya rasa frustasi, stress, jenuh, pesimis, selalu menjadi bagian dari proses belajar.Namun Bima telah membuktikan bahwa dirinya mampu mengatasi segala hambatan, kendala, kesulitan dalam mencari ilmu, dan akhirnya mampu mencapai ilmu yang tinggi, ilmu untuk hidup dan kehidupan di dunia maupun akherat.
Seseorang yang mau dan mampu menyiapkan masa depan demi hidup dan kehidupan secara bertanggung jawab dapat disebut murid sejati. Dia harus mampu menerima transfer of knowledge, transfer of value, dan mau mengamalkan apa yang telah diperolehnya itu demi kemaslahatan banyak orang dalam kerangka mamayu hayuning bawana. Ini adalah misi suci bagi orang yang belajar ilmu pengetahuan maupun belajar pengetahuan ilmu. Murid sejati dapat dikenali melalui tanda-tanda yang mencerminkan kegemaran mencari ilmu, ulet dan rajin dalam belajar, suka bekerja keras dan berdisiplin, sikap dan tindakannya yang terpuji dalam arti tidak suka pamer dan tidak sombong, senantiasa membela kebenaran dan keadilan, serta menegakkan kejujuran.
Untuk mencapai apa yang disebut sejatiné murid diperlukan persyaratan mengenai sikap, mental, dan perspektif yang memadai. Keutamaan seorang murit dia antaranya: harus mempunyai sikap selalu mengutamakan sikap rasional dan humanis, progresif atau menatap masa depan yang lebih cerah, dinamis yaitu selalu aktif, proaktif, dan kreatif, dan bersikap loyal artinya memiliki rasa pengabdian dan kebanggaan terhadap profesi dan lingkungannya. Perspektif semacam itu hanya mungkin terwujud bila dilandasi oleh sikap tangguh (disiplin diri, bekerja keras, dan berani mandiri), tanggap (responsif, cerdas-terampil, dan bertanggung jawab), tanggon (memiliki kepribadian dan pekerti luhur, sehat jasmani dan rohani), dan tawakal (mengakui kebesaran kekuasaan Tuhan). Seorang murit hendaknya mempunyai perspektif yang logis (cara pandangnya berdasarkan penalaran), realistis (selalu melihat kenyataan sebagai wilayah pandangnya), etis (menjunjung tinggi moralitas, kejujuran, dan kesetaraan), dan estetis (cinta perbedaan demi indahnya kerukunan, tolerans).
Akhirnya, sampai dimanakah para orang tua, guru, dan pemimpin bangsa ini berupaya mewujudkan para anak bangsa agar menjadi murit sejati dan sejatiné murit? Jawabnya tentu beraneka ragam, namun yang pasti berada pada diri kita sendiri.

Dimuat oleh Suara Merdeka

Semarang, 9 Juni 2004

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: