MUSIK REBANA: MATERI ALTERNATIF PENDIDIKAN SENI DI SEKOLAH

Abstrak

Musik rebana merupakan salah satu dari sekian banyak seni tradisional yang ada di berbagai daerah Indonesia yang bernafaskan keislaman. Seni rebana mengandung nilai-nilai religius, etika, dan norma ajaran yang diduga dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu mengatasi krisis moral bangsa Indonesia dewasa ini. Seni rebana tidak hanya dilestarikan oleh komunitas pendukungnya di pesantren, melainkan juga telah dikembangkan menjadi seni komersial yang mampu memberikan kontribusi bagi kelangsungan hidup pendukungnya, baik secara sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Dengan kemanfaatan tersebut, maka sangatlah krusial musik rebana dipertimbangkan untuk menjadi salah satu materi pembelajarn seni di sekolah umum.
Untuk mengoptimalkan fungsi musik rebana dalam dunia pendidikan, diperlukan pemahaman yang menyeluruh. Sekurang-kurangnya mencakup pemahaman terhadap makna-makna simbolik pada musik rebana, refleksi nilai-nilai dari musikalitas, dan perumusan metode pengajaran yang efektif dan efisien serta menyenangkan bagi peserta didik.

Kata kunci: musik rebana, pendidikan seni.

1. Pendahuluan
Di tengah krisis multidimensi yang sedang melanda bangsa Indonesia dewasa ini, khususnya krisis budaya, moral, dan etika, kemunculan bentuk-bentuk seni yang bernuansa religius dan bersifat spiritual menjadi fenomena menarik untuk disimak. Hal ini bukan hanya akan mendorong kesadaran realitas manusia sebagai hamba Tuhan yang relatif lemah, melainkan juga merupakan wacana baru atau paling tidak sebagai bentuk pemaknaan kembali terhadap nilai-nilai dan konvensi normatif dari budaya tradisi yang pernah ada. Dalam konteks ini pula dunia pendidikan mempunyai peran yang krusial dalam proses sosialisasi nilai dan norma budaya yang survival dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu.
Kemunculan bentuk-bentuk ekspresi seni tradisi seperti angguk, kobrasiswa, dolalak, rodat, badui, emprak, dan sebagainya agaknya tidak terlepas dari transformasi seni shalawatan atau sering disebut pula dengan istilah rebana atau terbangan yang tumbuh di lingkungan komunitas yang beragama Islam. Bentuk seni semacam itu kemudian dihidupkan dan dikembangkan secara dinamis oleh masyarakat yang tidak memeluk agama Islam menjadi bentuk-bentuk ekspresi seni yang relatif populer, yang kemudian melahirkan realitas baru dalam perkembangan seni di Indonesia. Realitas baru tersebut tampak dari kepopuleran jenis musik rebana atau shalawatan dengan kemasan baru yang diproduksi oleh media elektronik dan kultural, baik dalam skala lokal maupun nasional. Kemasan media elektronik seperti tampak pada bentuk kaset, compacdisk, radio, televisi; sedangkan kemasan media kultural seperti terlihat pada acara-acara festival, lomba, pergelaran seni pertujukan rakyat, hajatan, dan sebagainya.
Musik rebana sebagai bentuk seni merupakan salah satu bagian dari kebudayaan yang mengandung muatan nilai-nilai religi, etika, dan ajaran positif bagi kehidupan manusia (Al-Baghdadi,1991). Dalam konteks pendidikan, nilai-nilai seperti itu sangat diperlukan dalam upaya pengembangan kedewasaan emosional peserta didik. Kedewasaan emosional tidak hanya bermanfaat untuk membantu kelancaran hubungan sosial tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi pembentukan kepribadian, pertumbuhan dan perkembangan sikap kreatif, etis, dan estetis. Seni rebana di lingkungan Semarang merupakan salah satu dari sekian banyak seni tradisional yang ada di berbagai daerah (pondok pesantren) Indonesia yang bernafaskan keislaman. Seni rebana tersebut tidak hanya dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya, melainkan juga telah dikembangkan bahkan telah menjadi seni komersial yang mampu memberikan kontribusi bagi kelangsungan hidup pendukungnya, baik secara sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
Beberapa hasil penelitian menginformasikan, bahwa fungsi musik rebana adalah: (1) sebagai media dakwah untuk siar agama Islam, (2) hiburan, yakni untuk memberikan hiburan kepada khalayak luas, bahkan sering dipadukan dengan lagu-lagu pop; (3) ritual, yaitu untuk mengiringi arak-arakan pengantin pada pesta perkawinan, khitanan, dan untuk mengiringi zikir serta shalawatan terutama pada bulan Maulud (bandingkan Sedyawati, 1991; Supratno, 1994; Anikmah, 2000; Syamsul Hadi, 2001). Dengan fungsi tersebut, sangatlah krusial musik rebana dipertimbangkan untuk menjadi salah satu mata ajaran dalam pendidikan seni. Selain itu, muatan nilai dan norma di dalam musik rebana merupakan salah satu alternatif untuk membantu mengatasi krisis sebagaimana dipaparkan di atas. Namun demikian, sebelum musik rebana menjadi mata ajaran perlu dikaji secara lebih mendalam. Hal inilah yang menjadi motivasi utama penelitian ini.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka fenomena penelitian ini adalah mengenai musik rebana dan dunia pendidikan. Penelitian ini memfokuskan pada masalah apa makna simbolis musik rebana, dan aspek-aspek apa saja yang bisa dimanfaatkan bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan seni sekolah umum.
Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan (1) makna simbolis di dalam musik rebana dan (2) aspek-aspek yang bermanfaat untuk pendidikan seni.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan seni yaitu: Pertama, meningkatkan dan mengembang-kan pendidikan moral atau afeksi (value and behavior, bukan hanya knowledge) melalui bidang pendidikan seni. Dalam hal ini adalah pengkajian mengenai makna-makna simbolis dalam musik rebana. Kedua, memahami aspek-aspek humanistik yang tercermin dalam bentuk karya seni (musik rebana). Ketiga, memberikan informasi tentang cara pengajaran yang mampu menyenangkan peserta didik. Keempat, memberikan informasi tentang pola komunikasi yang efektif bagi pengajar dalam rangka meningkatkan kedewasaan peserta didik.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif, dengan metode deskriptif, karena bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan suatu keadaan sebagaimana adanya, dalam hal ini adalah makna simbolis dan aspek-aspek pendidikan yang terdapat pada musik rebana.
Lokasi penelitian adalah di kabupaten Semarang, kecamatan Gunungpati, kelurahan Gunungpati. Objek penelitian adalah grup musik rebana yang telah menjadi pemenang dalam Festival Rebana se Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Semarang pada bulan April 2001. Grup musik rebana yang dimaksud adalah grup rebana “Tombo Kangen” dari kecamatan Gunungpati.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara, serta dibantu dengan perekaman. Observasi yang dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan secara sistematis serta melibatkan diri dalam pertunjukan sebagai upaya untuk menemukan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Adapun hal-hal yang diamati dalam pertunjukan adalah jenis alat musiknya, cara bermain, kerja sama antarpemain, syair-syair lagu, dan musikalitasnya.
Wawancara dilakukan dengan para informan secara tertutup maupun terbuka. Adapun para informan yang diwawancarai dimaksud adalah: (a) Pimpinan grup rebana Tombo Kangen yakni Suharno. Dalam wawancara dengan Suharno diperoleh informasi tentang sejarah berdirinya, alat-alat musik yang digunakan oleh grup rebana tersebut; (b) Pelatih grup rebana yaitu Imron. Dari wawancara dengan Imron diperoleh informasi mengenai unsur-unsur komposisi, teknik permainan alat musik rebana; (c) Pemain dan sekaligus juga anggota grup rebana Tombo Kangen, yaitu Faizin dan Sutikno. Hasil wawancara dengan kedua pemain tersebut didapat informasi tentang jenis lagu yang sering dibawakan oleh grup rebana Tombo Kangen, hajdwal latihan, persipan pentas, dan catatan-catatan mengenai grup rebana Tombo Kangen; (d) dua orang warga masyarakat di sekitarnya yang memberikan informasi mengenai fungsi rebana Tamba Kangen bagi kehidupan lingkungannya.
Teknik analisis data digunakan analisis deskriptif dan content analysis. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan secara kritis semua data yang ada hubungannya dengan fokus penelitian. Teknik content analysis digunakan untuk menemukan makna data yang ada hubungannya dengan fokus penelitian.
Adapun langkah-langkah analisis meliputi: (a) data yang telah terkumpul ditelaah kemudian dideskripsikan dengan cara mengadakan penajaman, menggolongan, mengarahkan atau mengorganisasikan hasil catatan lapangan tentang eksistensi rebana, sarana dan prasarana pendukung, pemain dan permainannya, serta cara pelatih mengajarkan musik rebana; (b) mereduksi data yakni membuat atau menyusun satuan-satuan data yang kemudian dikategorisasikan, yaitu memisahkan data berdasarkan topik yang kemudian dianalisis melalu proses interpretasi; (c) mengadakan pemeriksaan keabsahan data dan selanjutkan disajikan. Pemeriksaan data dilakukan dengan cara mencek kembali data-data kepada para informan dan juga mengadakan diskusi dengan teman sejawat yang memahami musik rebana; (d) menyajikan dan menganalisis data secara keseluruhan, kemudian penarikan simpulan (verifikasi) untuk memperoleh wawasan umum yang bersifat hipotesis (Jazuli, 2001).

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
a. Makna Simbolis Musik Rebana
Makna simbolis dalam musik rebana dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu bentuk dan jenis instrumen, komposisi musik, bentuk lagu, dan syair lagu.
1. Bentuk dan jenis instrumen
Ditinjau dari bentuk dan jenis instrumen, bahwa semua alat utama musik rebana berbentuk bulat yakni terbang genjring, terbang kempling, dan gembur. Jenis instrumen yang bulat tersebut mengandung berbagai tafsir. Di antaranya adalah: (a) kebulatan tekad menjadi hal yang sangat penting dalam mengarungi hidup dan kehidupan, (b) hidup bagaikan sebuah lingkaran yang tak berujung, maknanya adalah di dalam kehidupan ini setiap orang tidak pernah mengetahui perjalanan nasibnya, kapan untung dan kapan rugi, dan selalu silih berganti antara enak dan tidak enak, sedih dan gembira, yang dalam budaya Jawa identik dengan cakra manggilingan. Kebulatan bentuk instrumen rebana juga dapat ditafsirkan sebagai manifestasi atau simbol kebulatan tekad dalam bertaqwa kepada Allah SWT. Taqwa sering dipandang sebagai modal yang sangat krusial dalam menjalani hidup.
2. Komposisi musik
Rebana bila diitinjau dari komposisi musiknya terdapat ketukan yang berirama lemah (ketukan setengah) dan kuat (ketukan konstan) sdengan pola ritmis yang cepat dan lambat.

Contoh pola irama yang sederhana dengan sistem pencatatan abjad:
TT-TT-D TTTT-D T-CT-T-D TCT-CDD
Keterangan: T dibunyikan tang, D dibunyikan dung, C dibunyikan crek.

Dari beberapa motif irama tersebut kemudian diolah dengan cara tertentu sehingga menimbulkan alunan irama lagu (musik) yang harmonis. Nilai harmoni memang menjadi suatu hal yang penting dalam penggrapan karya seni (musik). Keharonisan itu sendiri sesungguhnya berasal dari unsur-unsur yang belum harmonis, boleh jadi merupakan unsur-unsur yang berbeda dan saling bertentangan. Namum demikian unsur-unsur yang berbeda dan bertentangan setelah mengalami pengolahan/penggarpan mampu menghasilkan sesuatu yang harmonis. Dengan demikian nilai harmonis mengandung nilai pluralitas yang mampu dipersatukan untuk mencapai satu tujuan, yang dalam hal ini adalah suatu komposisi lagu musik rebana yang memberi kesan dinamis. Nilai-nilai semacam inilah sesungguhnya juga menjadi sebuah kenyataaan dalam kehidupan manusia. Di dalam hidup dan kehidupan ini selalu ada hal-hal yang bersifat bertentangan, berlainan, dilematis. Namun semua itu hendak dipahami sebagai sesuatu dinamika hidup yang harus demikian adanya. Oleh karenanya, komitmen untuk selalu harmonis sebagaimana yang diajarkan dalam musik dapat menjadi suatu kekuatan nilai yang bisa dimanfaatkan untuk menyiasati kehidupan.
3. Bentuk lagu
Bentuk lagu dalam musik rebana terdiri dari satu bagian dan dua bagian yang merupakan simbol komunikasi. Salah satu contoh bentuk lagu satu bagian adalah lagu “Tombo Ati”, sedangkan bentuk lagu dua bagian adalah lagu “Annabi Shollu’alaih”. Analoginya, bahwa di dalam bentuk lagu rebana bila dianalisis merupakan suatu kalimat bertanya dan menjawab. Demikian pula cara menabuh instrumennya, yaitu antara instrumen yang satu dengan instrumen lainnya saling mengisi dan melengkapi dengan variasi dan dinamika yang disesuaikan dengan irama lagunya. Berikut ini cuplikan kalimat pertanyaan (P) dan jawaban (J) dalam lagu berjudul “Annabi Shollu’alaih” :

Annabi shollualaih sholawatullaalaih (P)
Wayanalulbarokah kulluman shollaalaih (J)
Annabiya haadliriin ‘Ilamu ‘ilmal yaqin, (P)
Anna robbalalamin farodhosshollawat alaih (J)
Annabiyamanhadlor Annabizainul basyar, (P)
Mandanaalahulqomar wal ghozalsalam alaihi, (J) dan seterusnya.

Contoh lagu “Tombo Ati” :
Tombo ati iku limo ing wernane
Kaping pisan maca qur’an sakmaknane
Kaping loro sholat wengi lakonana
Kaping telu wong kang sholat kumpulana
Kaping pate kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Sakabehe sapa bisa anglakoni
Insya Allah Gusti pangeran nyembadani

Saling mengisi dan melengkapi maupun saling bertanya dan menjawab tidak mungkin bisa terwujud tanpa pemahaman yang komunikatif. Dengan komunikasi yang baik dapat membuahkan sikap toleransi, saling memahami, dan akhirnya menumbuhkan motivasi untuk bekerjasama. Nilai dan sikap semacam itulah menjadi sesuatu yang krusial bagi pendewasaan peserta didik.
Pada sisi lain, tempo lagu dalam musik rebana sering berubah ketika menjelang akhir lagu. Kenyataan ini merupakan simbol yang memaknakan, bahwa suatu perjalanan hidup pada akhirnya juga berubah menjadi tua, dan usia tua inilah biasanya orang semakin mendekatkan diri kepada Allah. Demikian juga ekspresi lagu rebana yang terdiri atas solo (suara tunggal) dan koor (suara kelompok) merupakan simbol hidup manusia sebagai mahkluk individual (solo) dan makhluk sosial (koor).

4. Syair lagu
Syair-syair lagu rebana merupakan sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW dan sebagian bermuatan dakwah Islam yaitu agar kita selalu ingat kepada Allah SWT. Sanjungan tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada seorang tokoh yang telah berjasa bagi kehidupan manusia untuk menuju jalan yang benar dan baik, taqwa kepada Allah SAW, dalam arti selalu menjauhi larangan dan menjalankan apa yang diperitahkan-Nya. Muatan nilai penghargaan dan penghormatan kepada orang yang direfleksikan dalam syair lagu-lagu rebana sangat signifikan bagi dunia pendidikan. Pemahaman terhadap nilai-nilai pendidikan dalam musik rebana dapat disimak pada uraian berikut ini.

b. Aspek-aspek Pendidikan dalam Musik Rebana
Aspek pendidikan musik rebana tampak pada syair-syairnya yang secara transparan dan konkret memberikan ajaran atau nasihat yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Namun demikian karena lagu dalam rebana berbahasa Arab, maka sebelum menyanyikan perlu memahami dahulu arti dan makna syair lagunya. Pemahaman ini selain dapat membantu pengekspresian orang yang menyanyikan lagu-lagu rebana, juga untuk pemahaman nilai-nilai yang terkandung dalamnya.
Dalam permainan maupun latihan musik rebana tidak bisa secara sendiri, melainkan harus bersama dengan orang lain. Fenomena ini mengajarkan kepada siapa pun yang bermain rebana harus mampu bekerjasama dengan orang lain. Untuk itu diperlukan sikap tenggang rasa dan saling memahami posisi masing-masing pemain, tanpa hal ini mustahil bisa bermain rebana. Lebih-lebih nyanyian rebana selalu dilagukan secara sendiri (solo) maupun secara berkelompok (koor). Dan yang tidak kalah pentingnya adalah di dalam permainan memerlukan kedisiplinan yang relatif tinggi, tanpa kedisiplinan tidak mungkin bisa mewujudkan musik yang harmonis.
Ditinjau dari fungsinya, musik rebana memiliki fungsi ritual atau sebagai sarana religius, sebagai seni pertunjukan, sebagai hiburan, dan sebagai promosi. Fungsi religius adalah sebagai sarana untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, serta sebagai dakwah agama Islam (nilai ritual-sakral dan bernuansa politik budaya). Dalam konteks inilah syair-syair rebana senantiasa mengajak kepada umat manusia kepada keselamatan hidup di dunia dan diakherat. Fungsi rebana sebagai seni pertunjukan (tontonan), dalam arti seni sebagai media komunikasi dengan pihak-pihak lain yang membutuhkan (nilai tontonan dan tuntunan yang bernuansa komunikasi sosial). Hal ini tampak dari cara memanfaatkan rebana pada acara peringatan hari-hari besar Islam, seperti Maulud Nabi, Isro’ Mi’roj, dan sebagainya. Dalam hal ini musik rebana selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan pada acara-acara tersebut. Fungsi rebana sebagai hiburan tampak pada acara-acara perkawinan, khitanan, yang intinya untuk memberi hiburan kepada para tamu yang hadir, dan sekaligus juga menjadi hiburan pribadi para pemainnya (nilai psikologi sosial). Fungsi rebana sebagai promosi terutama untuk memperkenalkan keberadaan suatu grup atau kelompok rebana termasuk tempat asal rebana yang bersangkutan (nilai pragmatis yang bernuansa ekonomi dan politik). Popularitas suatu grup rebana dengan serta merta juga akan mempopulerkan daerah asalnya.
Bertolak dari paparan data dan pembahasan di atas, musik rebana sangat penting dilibatkan dalam dunia pendidikan, terutama dalam proses pendidikan sikap dan moral peserta didik. Hal ini bukan saja berkaitan dengan misi dan tujuan pendidikan (seni), melainkan di dalam musik rebana juga banyak terdapat nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang sangat bermanfaat bagi setiap orang. Lebih-lebih selama ini jenis musik yang diajarkan di sekolah-sekolah kebanyakan jenis musik Barat, yang implikasi nilai-nilai belum bisa sepenuhnya dipahami oleh para peserta didik selain keterampilan bermain musik itu sendiri. Sebaliknya, pengajaran musik rebana tidak hanya menawarkan keterampilan musikal, tetapi juga nilai-nilai rohani yang relatif mudah untuk dipahami, direnungkan, dan diamalkan dalam kehidupan sosial yang lebih konkret.

4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: Pertama, Di dalam musik rebana terdapat berbagai makna simbolik yang bersumber pada: (a) jenis dan bentuk instrumen, (b) komposisi musik, (c) bentuk lagu, dan (d) syair-syair lagunya. Masing-masing komponen tersebut merefleksikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia. Kedua, Aspek-aspek yang dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan adalah: (a) syair-syair yang mengandung ajaran-ajaran budi pekerti luhur yang berguna bagi kehidupan setiap orang, (b) bentuk permainan musik rebana membutuhkan toleransi, kerjasama, dan kedisiplinan yang relatif tinggi, (c) secara fungsional musik rebana mengandung nilai-nilai religius (ritual-sakral), nilai tontonan (komunikasi), nilai hiburan, dan nilai pragmatik (ekonomi).
Saran-saran yang perlu dikemukakan dalam proses pengajaran rebana agar lebih bermanfaat bagi dunia pendidikan, yaitu: Pertama, pemahaman terhadap makna-makna simbolis yang tekandung di dalam musik rebana harus diprioritaskan terlebih dahulu sebelum musik rebana itu sendiri diajarkan kepada peserta didik; Kedua, metode pengajaran musik rebana yang efektif dan efisien perlu segera dirumuskan, terutama yang menyangkut pendidikan rasa (aspek musikalitas) maupun pendidikan moral (pemaknaan syair lagu).

Daftar Pustaka

Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni dalam Pandangan Islam. Jakarta: Gema Insani Press.
Anikmah. 2000. “Kesenian Rebana Grop Riska Dusun Karangbolo Desa Lerep Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang: Kajian Konseptual Islami”. Skripsi Sarjana S-1 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.
Hadi, Syamsul 2001. “ Kelompok Rebana Tombo Kangen: Kajian tentang Komposisi Musiknya”. Skripsi Sarjana S-1 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.
Jazuli, M. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Semarang: Sendratasik FBS UNNES.
Ritzer, George. 1992. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Terjemahan Alimandan. Jakarta: Rajawali Press.
Sedyawati, Edi. 1991. “Masalah-masalah Penanda Ke-Islaman dalam Karya-karya Seni Jawa.” Jelajah, No. I/1991. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
Shihab, Quraish. 1997. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’I Atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Suparlan, P. 1985. “Kebudayaan dan Pembangunan.” Makalah dalam Seminar Kependudukan dan Pembangunan. Jakarta: KLH.
Supratno, Haris. 1994. “Rebana: Sebuah Seni Tradisional Lombok Barat”, dalam Laporan Temu Ilmiah dan Festival MSPI, tanggal 1-3 Desember 1994, di Maumere Flores Nusa Tenggara Timur., p. 229-239.

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

One Response to MUSIK REBANA: MATERI ALTERNATIF PENDIDIKAN SENI DI SEKOLAH

  1. Maria mengatakan:

    Bagus amat, cocok banget untuk yang ku butuh kn
    untuk pr bhs Indonesia q … 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: