Pertarungan Ideologis Seniman dalam Seni Pertunjukan Global

Globalisasi yang tengah merambah pada masyarakat dunia dewasa ini nampaknya lebih dipahami sebagai peristiwa dan proses kebudayaan. Hal ini berarti pula berhubungan dengan lembaga, sistem, dan strategi global dari pelakunya. Dalam globalisasi bukan hanya merupakan fenomena budaya melainkan juga fenomena komersial yang membentuk keseragaman tertentu sekaligus membutuhkan perbedaan tertentu sebagai identitas dalam permainan suatu sistem dunia. Dalam konteks ini bukan saja tenaga dan pemikiran yang dijual tetapi komitmen dan loyalitas dari peran aktor. Kesadaran individu versus kesadaran hidup bersama, lokal versus global bertemu dalam satu arena.
Implikasi fenomena global tersebut dalam jagad seni pertunjukan agaknya lebih merupakan suatu pertarungan ideologi, terutama ideologi senimannya. Pemikiran ini lebih didasarkan oleh kenyataan fenomena sosial, bahwa kini kekerabatan telah runtuh dan digantikan oleh keluarga, sedangkan posisi keluarga pun telah runtuh digantikan oleh peran individu. Ini bukan saja mengidikasikan pergeseran nilai-nilai sosial budaya tetapi yang lebih penting adalah pertaruhan ideologi. Fenomenanya dalam dunia kesenian sudah tampak dari pergeseran sikap dan orientasi seniman, pergeseran dari kolektivitas ke individualitas, pergeseran dari motif sosial ke motif ekonomi, dari kemapanan nilai kepada kebebasan nilai, dan sebagainya.
Namun terlepas dari plus dan minus dari fenomena global tersebut di atas, abstrak ini hendak mengkaji masalah substansial yang berkaitan dengan ideologi seniman. Pertanyaannya adalah: Apa saja dan bagaimana ideologi seniman menghadapi fenomena global? Dimanakah ideologi tersebut memposisikan diri? Apa konsekuensi dari posisi yang telah dipilih?
Jawaban akan dikaji melalui kesadaran seniman atas kiat atau obsesi orisinalisme atau estetisme, subjektivisme, elitisme (ketokohan), dan kolektivisme (layak untuk didiskusikan). Strateginya adalah seorang pelaku seni harus senantiasa memperhitungkan faktor konfirmasi sosial khususnya kecondongan budaya, bidang seni yang digeluti, masyarakat pengguna atau pasar, dan keprofesionalan diri. Analisis tersebut dilandasi oleh suatu pemikiran yang berhubungan secara dialektik dari kehidupan kesenian kita, terutama yang tradisional, bahwa: (1) hubungan antara seni tradisi dan inovasi memerlukan sistem manajeman; (2) hubungan antara inovasi dan patisipasi dibutuhkan pengkayaan; (3) hubungan partisipasi dengan profesi diikat oleh legalitas; (4) hubungan tradisi dan profesi diikat oleh tatanan normatif.

1. Pengantar
Globalisasi yang tengah merambah masyarakat dunia dewasa ini nampaknya lebih dipahami sebagai peristiwa dan proses kebudayaan dalam arti longgar. Kebudayaan tidak lagi dipahami secara substantif, melainkan proses untuk melihat praktik-praktik dalam penciptaan dan pembuatan kembali ruang identitas (Friedman, 1995). Globalisasi sebagai fenomena budaya, berada pada peradaban komersial, yang membentuk keseragaman tertentu dan sekaligus membutuhkan perbedaan tertentu sebagai identitas dalam permainan suatu sistem dunia. Hal ini akan melibatkan lembaga, sistem, dan strategi global dari para pelakunya (aktor). Sebab, di dalam globalisasi bukan saja tenaga dan pemikiran yang dijual, tetapi komitmen dan loyalitas dari peran aktor. Kesadaran individu versus kesadaran hidup bersama, lokal versus global bertemu dalam satu arena.
Secara sosiologis, kini kekerabatan telah runtuh dan digantikan oleh keluarga, sedangkan posisi keluarga pun telah runtuh digantikan oleh peran individu. Implikasi dari situasi seperti ini bukan saja terletak pada persoalan pergeseran nilai-nilai sosial budaya, tetapi juga cara pandang dan kepentingan para aktor yang berkembang. Situasi seperti ini tentu akan mempengaruhi sistem pengetahuan dan gagasan yang diyakini oleh orang atau kelompok orang.
Dalam dunia kesenian, khususnya seni pertunjukan, fenomenanya tampak dari bentuk atau warna karya yang dilahirkan oleh Sang seniman (pelaku, aktor). Kesadaran berekspresi seniman cenderung merefleksikan adanya pergeseran sikap, orientasi, dan kepentingannya. Misalnya: pergeseran dari kolektivitas ke individualitas, dari motif sosial ke motif ekonomi, dari kemapanan nilai kepada ketidakmapanan nilai. Kondisi seperti ini mempunyai implikasi terhadap ideologi senimannya. Oleh karena itu, terlepas dari nilai plus dan minus pengaruh globalisasi terhadap dunia seni pertunjukan, terdapat permasalahan yang relevan dan substansial untuk dikaji, yaitu tentang ideologi seniman.
Dalam paper ini saya mencoba mengajukan suatu kerangka pemikiran yang barangkali menarik untuk didiskusikan sehubungan dengan fenomena ideologi seniman. Pertanyaannya adalah: Apa saja dan bagaimana ideologi seniman menghadapi fenomena global? Dimanakah ideologi tersebut memposisikan diri? Apa konsekuensi dari posisi yang telah dipilih?

2. Fenomena Globalisasi
Globalisasi sering diterjemahkan sebagai gambaran dunia yang menjadi lebih seragam dan terstandar melalui teknologi, komersialisasi, dan sinkronisasi budaya yang dipengaruhi oleh Barat. Jika demikian, globalisasi erat kaitannya dengan modernitas. Namun dalam perkembangannya, konsep globalisasi masih menjadi perdebatan karena dipahami secara bervariasi. Setiap pakar mempunyai cara pandang dan argumennya sendiri tentang globalisasi.
Roland Robertson (1995) melihat adanya dua kubu dalam debat globalisasi, yakni homogenizer dan heterogenizer. Kubu homogenizer yang terdiri dari sejumlah Marxis dan kaum fungsionalis beranggapan bahwa globalisasi sebagai konsekuensi dari logika modernitas, sebagai gagasan sistem dunia yang hadir secara universal maupun partikular dalam skenario konvergen. Sistem seperti itu dipermasalahkan oleh kubu heterogenizer, bahkan menolak perbedaan antara yang universal dan yang partikular, serta konvergen. Robertson lebih mengacu pada proses ‘institusionalisasi’, yaitu penciptaan global-lokalitas (glocalization). Jan Nederveen Pieterse (1995) memandang globalisasi sebagai hybridization (hibridisasi). Pemikiran Pieterse tersebut ditentang oleh Friedman karena gagasan hibridisasi dipandang mengingkari identitasnya sendiri. Friedman beranggapan bahwa sistem dunia jauh mendahului masa moderen. 1
Sesuai dengan topik pembicaraan paper ini, saya akan mengikuti konsep globalisasi sebagai hibridisasi dari Pieterse. Hibridisasi dapat dipahami sebagai cara memilahkan praktik-praktik yang ada dan mengkombinasikan kembali dengan bentuk baru dalam praktik sehari-hari. Hibridisasi sendiri dimaksudkan untuk memunculkan jenis baru sebagai hasil saling silang atau pencangkokan dari berbagai budaya, transisi dari berbagai sumber budaya, dan pengemasan baru dari budaya lama. Prinsip ini bisa diperluas pada bentuk struktural dari organisasi sosial. Struktur hibridisasi ditandai munculnya jarak antara kebebasan organisasi, sedangkan hibridisasi budaya ditandai oleh lintas batas, karena itu lingkungan lokal (termasuk negara) tetap mempunyai posisi strategis. Nation-state adalah salah satu bentuk dan fungsi dari globalisasi, dan bukan hal yang berlawanan. Dalam konteks ini globalisasi merupakan penguatan kembali kebersamaan dengan lokalisme, sebagaimana ungkapan ‘think globaly, act locally’ (berpikir secara global bertindak secara lokal). Hibridasasi merupakan faktor reorganisasi ruang sosial demi munculnya praktik-praktik kompetisi, kerjasama sosial, dan ekspresi budaya translokal yang baru serta independen. Pandangan hibridisasi dalam mengatasi ketidaksamaan kondisi lokal dan manusia global, ditempuh dengan cara refleksi dan perjanjian antar nation, komunitas, etnisitas atau kelas.
Proses globalisasi budaya tercermin dalam lima dimensi, yaitu: (1) ethnoscape, yakni mengalirnya para imigran dan turis ke berbagai negara. Dalam hal ini mobilitas aktor sangat berperan, terutama dalam pembentukan corporation sebagai jaringan kerja; (2) technoscape, yakni terciptanya mesin, pabrik, dan perkembangan teknologi canggih yang dihasilkan oleh berbagai kawasan negeri; (3) finanscape, yakni mengalirnya arus pertukaran uang dan saham pada pasar bebas. Di sini capital flow bergerak sejalan dengan arus informasi; (4) mediascape, yakni melimpahnya arus informasi melalui media ke penjuru dunia, seperti informasi yang berlalu-lalang di angkasa lewat komputer dan internet (cyberspace). Hal ini tentu akan mempermudah proses komunikasi antaraktor dan antarkorporasi; (5) ideoscape, yakni derasnya gerakan ideologis terutama akibat inspirasi ide-ide pencerahan Barat, seperti demokrasi, hak asasi manusia, keterbukaan, dan kesejahteraan (Arjun Appadural, 1990: 2).
Dari kelima dimensi itulah nuansa globalisasi menampakkan diri melalui aktivitas dan perubahan dalam capital, corporation, communication, dan citizen dalam konteks sistem dunia (world system), seperti global culture, global flow, global wealth.

3. Fenomena Ideologis Seniman
Pembicaraan tentang ideologi tak terlepas dari pertautan antara pengetahuan, kenyataan, dan kekuasaan (dominasi). Ideologi dapat dimengerti sebagai sistem berpikir yang mencakup seperangkat gagasan dan pengetahuan, yang membentuk definisi tertentu tentang kenyataan secara kognitif maupun normatif, tidak bersifat netral karena berpihak pada nilai dan kepentingan tertentu, serta berhubungan dengan kekuasan untuk memelihara relasi kekuasaan atau dominasi (bandingkan Berger dan Luckmann, 1990; Mannheim, 1991; Larrain, 1996; Surbakti, 1997).
Secara fungsional, ideologi adalah seperangkat gagasan dan pengetahuan tentang kebaikan bersama. Biasanya dirumuskan dalam bentuk tujuan yang hendak dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Ideologi berfungsi untuk memberi justifikasi tindakan dan jalan keluar bagi mereka yang resah, menyembunyikan kontradiksi menuju kesesatan, memberi kerangka acuan bagi suatu komunitas yang loyal, mengatur dan memotivasi suatu tindakan, serta menjadi kriteria dalam evaluasi kebijakan dan tindakan. Secara struktural, ideologi adalah sebagai sistem pembenaran atas suatu kepentingan, seperti gagasan dan formula politik atas setiap kebijakan dan tindakan yang diambil oleh penguasa. Hal ini berarti bahwa pengklaiman terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataaan dapat disebut ideologis.
Sebagaimana telah dikemukakan pada awal paper ini, bahwa ada problem mendasar selain pergeseran nilai yang disebabkan oleh perubahan kondisi struktural, yaitu semakin berkembangnya cara pandang dan kepentingan seniman dalam kerangka global. Perkembangan tersebut terkait dengan ideologi seniman. Fenomenanya dapat dilihat dari visi dan misi 2 seniman yang tercermin dalam model kemasan karya seni pertunjukan yang ditampilkan, terutama wayang kulit.
Ideologi seniman seni pertunjukan dapat dikategorikan dalam tiga varian, yaitu konservatif, progresif, dan pragmatis. Ketiganya tidak berlaku ketat dan lebih merupakan suatu kecenderungan saja, karena sering tumpang tindih. Secara sederhana, setiap kategori akan dilihat dari beberapa indikator, yaitu orientasi, format sajian, hubungan dengan penonton/penikmat, profesionalisasi, tantangan dan strategi seniman.
Pertama, seniman berideologi konservatif. Kelompok seniman ini cenderung berorientasi pada masa lampau dengan tujuan preservasi. Seniman ini mempunyai kepentingan untuk memperoleh prestise. Format sajian karyanya masih tampak konvensional atau tradisional (relatif sederhana) dengan memanfaatkan teknologi yang relevan dalam jangkauan lokal. Posisi seniman dalam hubungan dengan penonton sebagai akomodator, yaitu mengkomunikasikan dan mengakomodasi berbagai kepentingan serta menyesuaikan dalam kesatuan sosial (menghindari konflik). Konsekuensi dari posisi tersebut adalah sering dianggap hipokrit (plinplan) dan bunglon. Predikat bunglon bisa bermakna ganda, yakni secara positif cenderung tidak merugikan pihak lain, dan secara negatif sering dianggap tidak memiliki pendirian tetap. Tingkat profesionalitasnya cenderung defensif, bersaingan terjadi dalam tataran internal (lingkungan tradisional). Tantangan yang dihadapi adalah tuntutan perubahan yang mengakibatkan krisis vitalitas dan intensitas (kehebatan), sedangkan jaringan (sistem) yang ada tidak berfungsi karena tak mampu mengeliminasi keadaan. Adapun strategi yang dilakukan untuk mengatasi tantangan oleh kelompok seniman ini, di antaranya adalah tetap mengikuti konvensi yang berlaku, mengadakan kaderisasi (pembinaan) secara terus menerus, melakukan pergelaran secara rutin, dan memanfaatkan teknologi yang relevan.
Kedua, seniman berideologi progresif. Kategori seniman yang berorientasi masa depan, dengan tujuan menawarkan alternatif. Kepentingan seniman seperti ini adalah pengenalan dan reputasi. Format sajian karyanya lebih bersifat inovatif, spektakuler, subtansial, hibrid, bisa berupa vokabuler tradisional maupun baru. Dalam hubungan dengan penonton, posisi seniman sebagai emansipator (kesetaraan), yaitu menyampaikan informasi sebagaimana adanya, bebas, berani, dan jujur tanpa represi. Konsekuensinya adalah kadang dianggap sebagai orang yang sulit diatur, idealis, kadang bunglon dalam arti positif. Profesionalitasnya adalah proaktif dan sinergi menurut seleksi alam (survival of the fittest). Tantangan yang dihadapi oleh kelompok seniman ini adalah belum memiliki jaringan yang kuat, masih bersifat fragmentaris (bagian-bagian), dan individual. Strategi yang dilakukan, di antaranya adalah proaktif dan kreatif dalam arti mencari alternatif lain atau penafsiran baru dari kecenderungan (nilai) yang ada, mengadakan eksperimen secara terus-menerus sebagai bentuk penawaran atas sejumlah kemungkinan, meningkatkan wawasan, menjalin dan membangun relasi, memanfaat berbagai kekuatan produksi (sumber daya manusia), serta berupaya menguasai teknologi yang ada.
Ketiga, seniman berideologi pragmatis. Kelompok seniman yang berorientasi masa kini. Kelompok seniman ini dapat dibedakan menjadi dua mazab, yaitu sub-kelompok seniman yang bermazab moderat yaitu selalu mencari keseimbangan; dan sub-kelompok seniman yang bermazab ambivalen yaitu selalu melayani kepentingan dan selera massa (pasar). Tujuan seniman moderat adalah prestise dan komersial, sedangkan tujuan seniman ambivalen adalah reputasi dan komersial. Format sajian (moderat dan ambivalen) cenderung glamor, spektakuler, sensasional, hibrid (pencakokkan berbagai unsur), asal beda, asal laku. Dalam hubungan dengan penonton, seniman seperti ini cenderung memposisikan sebagai reproduktor, yaitu mereproduksi permintaaan (melegitimasi), seperti bersedia menjadi alat propaganda bagi pihak-pihak yang berkepentingan demi popularitas dan kebutuhan ekonomis. Konsekuensinya adalah sering dianggap sebagai epigon, penjilat, dan oportunis. Tingkat profesionalitas, bagi sub-kelompok seniman moderat cenderung kondusif dan sinergi, yaitu mengimbangkan antara tuntutan situasi dengan norma dan komitmennya, sedangkan bagi sub-kelompok seniman ambivalen senantiasa merespons fenomena yang nge-trend, asal laku, asal beda. Tantangan yang dihadapi kelompok seniman ini (moderat dan ambivalen) di antaranya, yaitu harus selalu mempertahankan vitalitas dan intensitas sesuai tuntutan, harus produktif dan menarik penggemar agar laku, piawai mencari dan mengantisipasi peluang pasar, menjalin relasi, dan memanfaatkan berbagai sumber kekuatan produksi. Mengenai strategi yang dilakukan oleh kelompok seniman pragmatis adalah menjawab tantang tersebut, terutama lewat pemanfaatan berbagai bidang keahlian dan menggunakan kemajuan tekonologi sesuai perkembangan zaman bagi proses produksinya. Dalam hal ini komitmen seniman moderat adalah tetap mengutamakan nilai keseimbangan, sedangkan komitmen seniman ambivalen adalah melayani berbagai kepentingan dan selera pasar.

4. Pertarungan Ideologi Seniman
Analisis atas ideologi seniman dalam globalisasi dilandasi oleh dua asumsi.
Pertama, hubungan manusia dengan lingkungannya tidak pernah ‘netral’, karena manusia mempunyai kapasitas reflektif (konstitutif) bagi lingkungannya (faktor struktural). Dalam konteks inilah, ideologi seniman tidak berada dalam jagat yang vakum. Dengan kata lain, bahawa seniman memiliki posisi ganda, yakni sebagai aktor yang bermain dan sebagai agen yang berperan. Seniman sebagai aktor dapat berpikir dan bertindak atas kehendak bebas; sedangkan seniman sebagai agen selalu terkonstruksi oleh norma dan nilai tertentu dalam lingkungannya. Dengan demikian, seniman bukanlah hamba struktur yang pasif melainkan agen yang aktif, karena setiap pilihan tindakannya melibatkan interpretasi kesadaran dan makna subjektif tertentu.
Kedua, bahwa dalam kehidupan kesenian terdapat hubungan dialektik antara tradisi, inovasi, partisipasi, dan profesi. Logika demikian, menandakan bahwa kehidupan seniman tak terlepas dengan bidang kehidupan lainnya. Dalam konteks kehidupan seni tradisional dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) hubungan antara seni tradisi dan inovasi memerlukan pengaturan atau sistem manajeman; (2) hubungan antara inovasi dan patisipasi membutuhkan pengkayaan dan rekayasa; (3) hubungan partisipasi dengan profesi dimediasi oleh legalitas; (4) hubungan tradisi dan profesi dimediasi oleh tatanan etis dan normatif; (5) hubungan antara tradisi dan partisipasi memerlukan subsidi; (6) hubungan antara inovasi dan profesi memerlukan sikap proaktif dan kreativitas.
Berdasarkan paparan dan asumsi tersebut di atas, dapat dirumuskan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Ideologi seniman ditentukan oleh faktor kepentingan dan respons terhadap fenomena aktual berdasarkan interpretasi subjektifnya. Penentuan tersebut didasarkan oleh berbagai faktor di antaranya adalah orientasi, tujuan, kemampuan memformat sajian, respons terhadap penonton (konsumen), profesionalisasi, tantangan yang dihadapi dan strategi untuk mengatasinya. Dengan interpretasi subjektif, ideologi seniman dapat dikelompokkan dalam tiga varian ideologi, yaitu seniman berideologi konservatif, progresif, dan pragmatis (moderat dan ambivalen). Masing-masing ideologi memiliki konsekuensi sendiri sebagaimana tampak dari posisi atas hubungannya dengan penonton, seperti akomodator, emansipator, dan reproduktor. Mengingat kehidupan seniman tidak terlepas dari kepentingan dan klaim-klaim tertentu menurut dirinya sendiri, sehingga posisi ideologi cenderung ditentukan oleh makna dan konteks dari Sang seniman, artinya bisa berubah-ubah. Kondisi inilah sesungguhnya bermakna pertarungan ideologi. Betapa tidak, seniman akan selalu dihadapkan dengan berbagai situasi yang cukup beragam, kadangkala melibatkan pada situasi pertentangan, konsensus atau tawar-menawar, dilematis, dan sebagainya yang pada akhirnya seniman harus memilih, tidak memilih pun sudah bararti memilih.
Demikian paparan singkat paper ini, semoga mengundang perdebatan kritis dan konstruktif.

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: