SENI TUTUR “JEMBLUNG” DI KABUPATEN BANYUMAS

Pendahuluan
Kesenian Jemblung di Banyumas merupakan salah satu jenis folklor lisan. Dia hadir sebagai bentuk seni dengan media utamanya adalah tutur (oral action). Dengan mengandalkan kekuatan oral action sebagai media ungkap, memungkinkan Jemblung tampil komunikatif, egaliter, menarik, lucu, unik, dan dinamis. Sebagai bentuk ekspresi estetis masyarakat pedesaan yang relatif jauh dari hegemoni kehidupan kota. Jemblung tidak terlepas bentuk refleksi kondisi faktual masyarakat pendukungnya yang hidup dalam budaya tradisional-agraris yang relatif sangat kuat kehidupan tradisi lisan, dan mungkin akibat keterlambatan pengaruh tradisi tulis.
Pada masa lampau (pemerintahan feodal-agraris), daerah Banyumas merupakan salah satu subkultur Jawa yang tumbuh dan berkembang di luar batas wilayah Nagaragung, pusat kekuasaan sekaligus pusat perkembangan kebudayaan (Koentjaraningrat,1984:219). Posisinya sebagai daerah pinggiran telah menempatan Banyumas termasuk rumpun budaya desa (marginal) – yang sengaja dibedakan dengan budaya kota sebagai pusat (Nagaragung). Ketika itu di Banyumas terdapat kadipatén-kadipatén kecil seperti kadipatén Pasirluhur, Bayumas, Gendayakan, Sokaraja, Purwokerto, dan Wirasaba. Sebagai daerah pinggiran dapat diduga bahwa perkembang-an kebudayaan cenderung lambat dibandingkan dengan daerah Nagaragung. Kondisi semacam itu tampak dari kehidupan tradisi lisan yang kuat dalam kehidupanan masyarakatnya, sedangkan pada sisi lain sangat lambat masuknya budaya tulis.
Sekarang, Banyumas merupakan wilayah administrasi dalam bentuk karesidenan, tetapi dalam pembagian wilayah yang lebih kecil tidak jauh berbeda dari bentuk sebelumnya. Sebagai wilayah karesidenan Banyumas terbagi dalam empat kabupaten, yakni kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Dari keempat kabupaten tersebut hanya kabupaten Banyumas dan Cilacap yang masih melestarikan kesenian Jemblung. Menurut sumber gotèk, Jemblung yang dianggap paling tua adalah berasal dari kabupaten Banyumas, tepatnya di kecamatan Sumpiuh.
Berdasarkan uraian di atas, tulisan ini mencoba untuk memaparkan kesenian Jemblung di kabupaten Banyumas.

Dari Muyén, Munthiét hingga Jemblung
Sepasaran bayi merupakan salah satu peristiwa tradisi orang Banyumas dengan cara melakukan kegiatan macanan atau macapatan, yang kemudian lazim disebut muyèn (nemu bayèn). Acara kegiatan pada peristiwa tersebut berupa pembacaan tembang macapat oleh beberapa orang dengan tujuan untuk membuat suasana rumah orang yang mempunyai bayi tersebut senantiasa dalam keadaan tenteram dan damai. Waktu penyelenggaraannya di mulai sesudah salat Isya’ sampai menjelang Subuh. Dengan demikian, muyèn dapat dikatana sebagai wahana ungkapan syukur dan berdoa kepada Tuhan agar bayi yang baru lahir itu kelak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang berbudi luhur dan bertaqwa kepada Tuhan. Adapun tembang-tembang macapat yang umum disajikan bersumber dari serat babat dan cerita legenda, seperti cerita Menak, serat Ambya, babat Banyumas, babat Pasirluhur, dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, penyajian muyèn bukan hanya melagukan tembang, tetapi juga menyisipkan cerita dan dialog antara pelaku (tokoh) dalam cerita yang disajikan. Bentuk sajian yang demikian itu kemudian disebut menthièt. Ada persamaan dan perbedaan antara muyèn dengan menthièt. Persamaannya adalah keduanya menggunakan sumber cerita dari babad, legenda, dan cerita Menak. Perbedaannya yakni: (1) bila muyèn dilakukan oleh beberapa orang, sedangkan menthièt dilakukan oleh seorang saja sebagaimana layaknya seorang dalang; (2) fungsi menthièt tidak terbatas untuk sepasaran bayi saja melainkan juga untuk pernikahan, khitanan, syukuran, dan sebagainya. Menurut informan … kata “menthièt” berarti kenyang atau membawa barang bawaan dalam jumlah banyak. Pemahaman seperti itu agaknya berkaitan dengan kondisi kehidupan masyarakat pada masa pertumbuhan kesenian menthièt, yaitu suatu kondisi kehidupan yang serba kekurangan (miskin), sulit mencari nafkah, bahkan ada fenomena kelaparan. Atas dasar itulah bila ada kesempatan pertunjukan menthièt mendorong orang untuk makan sekenyang-kenyangnya, dan bagi para pelakunya selalu berusaha untuk bisa membawa pulang makanan sebanyak-banyaknya.
Pertunjukan menthièt dimulai dengan tembang macapat Dhandhanggula yang kemudian dilanjutkan dengan jenis tembang pacapat lainnya, seperti Kinanthi, Durma, Pucung, dan sebagainya. Di sela-sela penyajian tembang-tembang macapat itu, pelaku menthièt seperti layaknya seorang dalang melakukan janturan, nyandra tokoh-tokoh dalam cerita dan sekaligus juga berperan sebagai apa saja yang ada di dalam alur cerita yang dia bawakan (disajikan). Cara pelaku (dalang) dalam menyajikan pertunjukan menthièt dilakukan dengan berbagai sikap, seperti duduk bersila, jongkok, jégang, bahkan sambil tiduran. Pelaku menthièt juga menggunakan apa saja yang ada di sekitarnya sebagai properti, seperti makanan dalam sesaji dan hidangan untuk para tamu. Properti semacam itu dinterpretasikan atau diimajinasikan sebagai boneka wayang, bahkan tidak jarang properti itu kemudian dimakan sendiri. Mengenai tempat pementasan menthièt bisa di mana saja, seperti ruang tamu, halaman rumah, dan tempat lain yang memungkinkan dapat disaksikan oleh penonton.
Perilaku pelaku (dalang) menthièt seperti terebut di atas, oleh masyarakat pendukungnya sering dipandang sebagai perilaku orang gila atau disebut “gemblung”. Berasal dari penyebutan seperti itu, menthièt dalam perkembangannya disebut dengan istilah “jemblung”. Menurut beberapa informan dari desa Gumelar Lor kecamatan Sumpiuh Banyumas, istilah “jemblung” berasal dari perkataan jenjem-jenjemé wong gemblung (ketenteraman yang diperoleh orang gila). Hal ini bisa dianalogkan dengan para pelaku kesenian jemblung yang berperilaku seperti orang gila Dengan perubahan menthièt menjadi jemblung menunjukkan bahwa kesenian menthièt telah berkembang menjadi pertunjukan yang lebih lengkap dan lebih meriah.. Para pelaku dalam kesenian jemblung sebanyak empat orang yang masing-masing mempunyai peran tertentu, yaitu satu orang berperan sebagai dalang, sedangkan ketiga orang lainnya berperan sebagai niyaga, sindhèn, dan kadangkala merangkap sebagai tokoh-tokoh yang terdapat pada alur cerita yang dibawakan. Mereka bercerita, menyanyi (ngidung, nembang), marah, tertawa, menangis, bahkan makan sampai kenyang yang diiringi dengan suara-suara dari mulut pemain sebagai wahana instrumen dan bentuk ekspresinya. Keadaan semacam itu mengindikasikan bahwa mereka (para pelaku) seperti orang gila (kaya wong gemblung). Namun demikian perlu diketahui bahwa meskipun kesenian menthièt telah berubah menjadi kesenian jemblung, tetapi bukan berarti kehidupan kesenian menthièt mati karena masyarakat di sekitar Banyumas masih sering menyebut menthièt bila pertunjukan semacam itu dikakukan oleh satu orang saja.
Dewasa ini Jemblung di Banyumas berkembang di kecamatan Sumpiuh dan Rawakele.
Struktur Pertunjukan Jemblung
Ketika tradisi baca tulis berkembang di kota-kota kerajaan, di daerah Banyumas masih berlangsung tradisi lisan. Keakraban masyarakat Banyumas dengan tradisi lisan tampak dari tumbuh suburnya cerita lisan yang bersumber dari babad maupun legenda. Sebagian besar warga masyarakat di daerah ini mampu bercerita secara detail mengenai cerita-cerita yang ada di daerahnya sekalipun belum mengenal baca tulis. Mereka sangat lancar bercerita tentang alur cerita Menak, legenda Kamandaka, babad Banyumas, babad Majapahit, dan babad Tanah Jawi. Ada kecenderungan bagi masyarakat Banyumas bahwa mereka merasa lebih mantab dalam hidupnya jika mengerti isi cerita babad dan legenda yang dirasa penting untuk suri tauladan (tepa palupi). Sebagian besar dari mereka akan bercerita dalam rangka memberi ajaran (wewarah, pitutur) atau sekedar penggambaran keagungan dan keangkaramuurkaan tokoh-tokoh tertentu dalam cerita babad dan legenda untuk tujuan mawas diri dalam kehidupan sehari-hari.
Pertunjukan Jemblung dilaksanakan semalam suntuk seperti halnya kebiasaan seni pertunjukan di Jawa umumnya. Sumber cerita tersebut di atas dikemas dalam sebuah lakon drama dengan cara memadukan antara tembang, gending, dan dialog antartokoh yang terlibat dalam alur cerita kemudian diungkapkan secara oral. Dalam pertunjukan Jemblung peranan dalang sangat vital karena selain sebagai pimpinan pertunjukan, juga bertindak sebagai sutradara pertunjukan. Struktur sajian Jemblung terdiri dari beberapa adegan, yaitu pambuka, jejer sepisan, adegan Alus, adegan Gagah, adegan Karang Padésan, adegan Gecul, adegan Prenèsan, adegan Tangisan, dan Panutup. Penyajian adegan-adegan tersebut tampak ada kemiripan dengan sajian kethoprak, seperti ada peran raja, sentana, dan kawula. Namun demikian keberadaan peran-peran seperti itu disesuaikan dengan cerita yang disajikan.
Pambuka, pada bagian ini dimaksudkan disajikan tembang Dhandhanggula yang dilakukan oleh seorang pemain (pelaku), sedangkan pemain lainnya mbarungi (mengikuti sesuai dengan irama dan lagu yang dibawakan), kemudian dilanjutkan dengan gending-gending sulukan tertentu sesuai dengan adegan dan suasana pada suatu cerita yang akan disajikan. Tembang Dhandhanggula dimaksudkan untuk penggambaran jagat seisinya atau situasi dan kondisi lingkungan yang sedang berlangsung. Dengan demikian syair tembang Dhandhanggula ada bermacam-macam, dan salah satu contoh syairnya adalah sebagai berikut.

Ana kayu apurwa sawiji, wit bawana epang kéblat papat, agodhong méga rumembé, apradapa kekuwung, kembang lintang salaga langit, sari andaru kilat, who surya lan téngsuh, asirap bun lawan udan, apepucuk angkasa bungkah pratiwi, oyodé bayu bajra (ada sebuah kayu yang menjadi awal segalanya, pohon bumi bercabang empat mata angin, daun berupa mega terhampar, berhiaskan pelangi, bunga bintang seisi langit, sari ndaru dan kilat, berbuah matahari dan bulan, atap embun dan hujan, berpucuk angkasa dan bongkahan tanah, berakar angin).

Cakepan tembang tersebut menurut para pelakunya tidak diketahui sumbernya karena mereka memperoleh secara turun-menurun dari para pendahulunya.
Jejer Sepisan, merupakan awal dari pertunjukan Jemblung. Adegan ini menjadi awal terjadinya konflik yang kemudian berkembang menjadi sajian dramatik sesuai dengan sumber cerita. Pada adegan ini terdapat gending gumathok (jenis gending yang dipatuhi pada setiap pertunjukan Jemblung), yaitu gending Lung Gadhung laras slendro petet manyura. Gending ini terdiri dari dua jenis cakepan (syair) gérongan, yaitu jenis salisir dan jenis kinanthi. Cakepan salisir adalah sejenis cakepan wangsalan (pantun Jawa berupa teka-teki dengan jawaban yang sudah tersedia di dalamnya) yang terdiri dari empat baris. Cakepan kinanthi adalah salah satu jenis tembang macapat.
Adegan Alus merupakan sebuah adegan dengan tokoh-tokoh yang berwatak halus. Misalnya tokoh Damarwulan dalam cerita Damarwulan, tokoh Kamandaka dalam babad Kamandaka, tokoh Joko Tinggir dalam babad Pajang, dan sebagainya. Adegan Gagah adalah adegan dengan tokoh-tokoh yang memiliki watak kasar. Misalnya Prbu Pulebahas dalam babad Kamandaka, Kebo Marcuet dalambabad Majapahit, Menak Jingga dalam cerita Damarwulan, dan sebagainya.
Adegan Karang Padésan, sebagai penggambaran tokoh-tokoh orang desa. Misalnya tokoh Rekajaya dalam babad Kamndaka.
Adegan Gecul, adalah adegan dengan tokoh-tokoh lucu, biasanya ditampilkan tokoh para abdi yang sedang menunggu majikannya. Adegan ini biasanya digunakan untuk semacam jeda di tengah-tengah sajian, dengan tujuan memberikan peluang kepada penonton untuk beristirahat setelah mengikuti adegan-adegan serius. Pada adegan ini sering berisi lawakan, pesan sponsor, dan pesan-pesan dari yang mempunyai hajat, pesan pembangunan, dan hal-hal lain sebagai hiburan penonton.
Adegan Prenèsan, merupakan adegan dengan tokoh-tokoh yang sedang jatuh cinta (kasmaran). Adegan seperti ini banyak terjadi di dalam lakon-lakon jemblung, seperti adegan Kamandaka dengan Ciptara dalam lakon Kamandaka, Pranacitra dan Rara Mendut dalam lakon Rara Mendut, dan sebagainya.
Adegan Tangisan, merupakan adegan dengan tokoh-tokoh yang seang mengalami kesedihan. Misalnya dalam lakon Kamandaka yaitu pada adegan Dewi Ciptarasa sedang bersedih ketika mendengan bahwa kekasihnya (Kamandaka) telah meninggal dunia ketika berperang dengan Silih Warni.
Adegan Panutup, sebagai adegan terakhir dari pertunjukan jemblung ditandai dengan sajian gending lancaran Eling-éling laras slendro pathet manyura. Adegan ini biasanya menggambarkan pertemuan dari beberpa tokoh di dalam cerita dengan suasana bahagia, tenteram, dan damai (happy end).

Penutup
Kesenian Jemblung merupakan imitasi aransemen gending Jawa yang lazim disajikan melalui perangkat instrumen gamelan. Sebagai bentuk tiruan dari sajian gamelan Jawa biasanya suara pemainnya diatur sedemikian rupa sehingga mirip dengan instrumen-instrumen tertentu sebagaimana dalam gamelan Jawa. Gending di dalam Jemblung dibangun dan disajikan dari rangkaian bunyi instrumen dan vokal yang diciptakan melalui mulut para pemainnya.
Dalam rangka menyajikan gending, keempat pemain jemblung masing-masing berperan untuk membunyikan instrumen-instrumen gamelan tertentu. Kempat pemain mengorganisasikan bunyi-bunyi tertentu dari mulut mereka berdasarkan bentuk garapan, irama, tempo, dan laras sebagaimana pada sajian gending Jawa. Ada beberpa instrumrn (ricikan) pokok yang biasa dibunyikan, yaitu kendang, gendèr penerus, bonang barung, balungan, kenong, gong, dan vokal. Namun demikian mengingat jumlah pemain jemblung hanya empat orang, maka semua instrumrn tersebut tidak dibunyikan bersama-sama. Teknik yang biasa mereka gunakan adalah pancakan, yaitu di antara pemain saling berganti-ganti peran pada waktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan bunyi instrumrn yang diperlukan pada suasana tertentu dalam sebuah cerita.

Daftar Pustaka
Koentjaraningat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Para informan adalah: (1) Mad Wirana (69 th) seorang petani di desa Gumelar Lor kecamatan Tambak Banyumas, telah menjadi pemain jemblung yang berperan sebagai pembarung selama 42 tahun; (2) Mohammad Kusen (72 th) seorang petani dan telah menjadi dalang jemblung selama 54 tahun; (3) Talim (57 th) seorang petani yang telah menjadi pemain berperan sebagai penembang dan pengendang jemblung selama 34 tahun.; (4) Tuminah (47 th) seorang petani yangtelah menjadi pemain jemblung dan berperan sebagai sindhèn selama 27 tahun.

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: