SINDHEN

Fenomena sindhèn identik dengan orang yang kompeten dalam bidang tarik suara (penyanyi tembang Jawa), mempunyai suara bagus, melankolis, penuh cengkok (variatif), merak ati, dengan suaranya pandai menghadirkan suasana sedih dan gembira, trenyuh dan sereng bagi orang yang mendengarkannya. Pada masa lampau kita mengenal maestro sindhèn seperti Nyi Bei Madusari dengan cengkok Mangkunagaran dan Nyi Bei Mintararas. Dengan suaranya pula muncul sebutan sidhèn dengan mengacu pada nama-nama burung, seperti Nyi Prenjak, Nyi Podang, dan sebagainya. Kini sindhèn yang tergolong populer alias laris, seperti Sunyahni dan Nurhana.
Sindhèn, dalam sejarahnya menjadi bagian tak terpisahkan dengan pertunjukan wayang kulit dan talèdhèk atau ronggèng dalam seni tayub. Dalam wayang kulit, sindhèn bukan saja berperan sebagai pendukung pertunjukan, tetapi juga berfungsi sebagai daya pikat bahkan menjadi bagian dari bentuk kemasan sebuah pertunjukan komersial. Lihat saja kemasan pertujukan wayang sekarang, di samping Ki dalang berderetan pesindhèn berparas cantik dengan penampilan bahenol, mengundang syaraf “tegang”, sensual, sehingga tak pelak menjadi daya tarik tersendiri dan membuat penonton betah semalam suntuk.
Nyi Rio Larasati seorang hamba (abdi dalem) Sultan yang dulu tersohor sebagai talèdhèk pernah bercerita tentang pengalamannya. Pada setiap mempergelarkan kebolehannya menyanyi (nyindhèn) dan juga menari selalu berusaha menarik perhatian salah seorang penontonnya. Dengan sepenuh hati ia berusaha berkontak rasa dengan penonton tadi. Setelah ada komunikasi maka terasa seluruh tontonan menjadi menarik dan bergairah, sehingga semua penonton lainnya juga merasakan daya tarik itu. Apa yang dilakukan Nyi Rio Larasati itu tidaklah dimaksudkan untuk secara sungguh-sungguh agar seorang penonton tadi tertarik terus atau dirinya sendiri yang tertarik pada penonton tadi sampai sesudah pementasan, tidak sama sekali. Apa yang dilakukan Nyi Rio semata-mata untuk membikin tontonan bergairah (grengseng) dan sama sekali tidak ada niat lainnya. Meskipun tak jarang terjadi kesalahpahaman dari para penontonnya sehingga ia dipandang bisa dikencani, diboking seusai pementasan.
Sebagaimana diketahui secara luas, bahwa pada umumnya kehidupan wanita sebagai talèdhèk identik dengan kehidupan wanita pelacur yang setiap saat bisa dibeli oleh kaum lelaki, meskipun tidak semua demikian. Lalu pertanyaan yang muncul adalah apakah fenomena seperti itu masih berpengaruh terhadap kehidupan sindhèn sekarang? Dengan kata lain, apakah popularitas yang dimiliki oleh seorang sindhèn sekarang ada indikasi pada hal-hal yang sesungguhnya tidak berhubungan langsung dengan kompetensi profesi sindhèn? Jawabnya, tentu of the record bagi setiap sindhèn, meskipun sebagian orang boleh dan sah untuk menjawab “ya…ya…ya…….”.
Kini, kehidupan sindhèn agaknya tak lebih dari kehidupan selebretis atau artis lainnya dengan berbagai gaya dan trick-trick penampilannya. Oleh karena itu, adalah wajar bila setiap sindhèn selalu ingin populer, tersohor, dikagumi, sehingga bersedia menempuh berbagai cara untuk mencapai keinginannya itu. Secara rasional, untuk menjadi sindhèn yang baik harus memperlengkapi diri dengan kemampuan suara yang dipersyaratkan, dan menghindari berbagai pantangan yang bisa mengganggu suaranya. Namun demikian, konon ada pula cara yang tidak rasional yang dilakukan oleh sebagian sindhèn untuk mencapai keinginannya itu, seperti memakai susuk atau sipat kandel pengasihan, dan sejenisnya. Jika demikian, maka teknologi tradisional “mistik” seperti itu tetap mewarnai fenomena modernitas. Oleh karena itu perlu dipertanyakan pula tesis yang mengatakan bahwa “semakin rasional suatu bangsa semakin modern sikap suatu bangsa tersebut”.
Terlepas dari semuanya itu barangkali parikan berikut ini menarik untuk disimak dan direnungkan kembali. Wajik klethik gula Jawa, Luwih becik sing prasaja; Kembang mlathi warna peni nggganda wangi, Watak putri kudu setiti lan ngati-ati.

Demak, 24 Pebruari 2001 (Suara Merdeka)

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: