WANITA DAN KEKUASAAN

Ketika tuntutan emansipasi wanita atas pria menyeruah ke permukaan, ketika itu pula sesungguhnya telah terjadi paralelitas kekuasaan. Keinginan wanita untuk sederajat dengan pria atau sebaliknya penguasaan pria atas wanita lebih merupakan tuntutan kepentingan ideologis dan bersifat superficial (kulit luar) alias tidak substansial. Secara kodrati harkat antara wanita dan pria memang berbeda karena masing-masing mempunyai fungsi dan peran yang berlainan, meskipun keduanya memiliki martabat yang sama sebagai manusia dalam mengarungi kehidupan. Dengan kata lain, sungguh tampak aneh bila wanita menginginkan kesederajatan, apalagi persamaan dalam kekuasaan. Sebaliknya, tampak semakin aneh lagi bila pria selalu berkeinginan untuk menguasai wanita.
Kepentingan ideologis tersebut sangat transparan dalam kebudayaan Jawa yang memandang wanita sebagai konco wingking, dalam arti dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas segala urusan dapur. Pemosisian subordinan atas wanita ini semakin dipertegas dalam ungkapan jarwa dhosok ‘wanita artinya wani ditata, mau diatur.’ Pemaknaan seperti itu tampak jelas bersifat superficial. Sebab dalam realitas kehidupan sehari-hari tidak jarang wanita lebih berwenang mengatur kehidupan khususnya kehidupan rumah tangga. Hal ini dapat dimaknai bahwa pada dasarnya wanita juga memiliki kekuasaan, tentu dalam konteks yang tidak selalu sama dengan wilayah kekuasaan pria. Kebesaran dan keluasan kekuasaan wanita semakin tampak nyata ketika mampu masuk (mempengaruhi) ke wilayah kewenangan pria, bahkan tidak jarang para wanita (istri) lebih kreatif dan piawai dalam merekayasa maupun membuat scenario untuk memperoleh kekuasaan. Hal ini dapat dicermati ketika para suami tak kuasa menolak permintaan istrinya, dalam hal-hal tertentu. Kenyataan lain bisa ditelusuri dalam sejarah penguasa Orde baru. Seberapa besar kekuasaan Soeharto ketika menjabat sebagai presiden tidak terlepas dari peranan dan skenario Tien Soeharto. Kita mungkin juga mencermati tanda-tanda keruntuhan kekuasaan Orde Baru yang sesungguhnya telah dimulai sejak wafatnya Ibu Negara pada waktu itu. Namun benarkah wanita sering lebih kreatif dan piawai dibandingkan pria dalam memanfaatkan sarana-sarana kekuasaan? Bagaimanakah kepiawaian itu dimunculkan dalam tindakan konkret?
Dalam sejarah kekuasaan Jawa, banyak para pria yang meraih kekuasaan dengan cara memanfaatkan keunggulan fisiknya, kesaktiannya atau senjata unggulannya, bahkan tak jarang wanita juga dijadikan sarana atau alat untuk mencapai kekuasaan. Hal ini bisa dilihat dalam sejarah Jaka Tingkir dalam menggapai tahta di Demak yang kemudian memindahkan kerajaannya ke Pajang, sejarah Panembahan Senopati raja Mataram dalam menundukkan Ki Ageng Magir, maupun dalam cerita-cerita pewayangan. Lalu bagaimana dengan strategi wanita dalam memanfaatkan sarana-sarana untuk merengkuh kekuasaan?
Tradisi kekuasaan bagi wanita sesungguhnya telah ada sejak zaman Hindu, seperti Ratu Sima di Kalingga, Ratu Kencana Wungu di Majapahit, Ratu Kalinyamat zaman Mataram, dan cerita-cerita rakyat seperti Calonarang. Para wanita yang berkuasa tersebut ternyata lebih kreatif dan bervariasi dalam menggunakan sarana untuk mencapai kekuasaan. Ratu Sima mendapatkan kekuasaan di Kalingga bukan hanya karena kesaktiannya tetapi lebih utama karena keadilan dan kejujurannya. Lain halnya Ratu Kencana Wungu (dalam sejarah disebut Dewi Suhita) yang menemukan kekuasaan dengan cara memanfaatkan kekuatan pria. Ratu Kencana Wungu telah berhasil menundukkan tokoh sakti Kebo Marcuet yang hendak berkuasa di Majapahit melalui kesaktian Adipati Minak Jingga (Bre Wirabumi). Dan ketika Adipati Minak Jingga menginginkan tahta Majapahit dan sekaligus ingin memperistrinya, lagi-lagi Ratu Kencana Wungu memanfaatkan kelihaian dan kebagusan seorang pria bernama Damarwulan. Upaya meraih kekuasaan dengan memanfaatkan kekuatan pria semacam ini juga terjadi pada Ratu Kalinyamat. Dari ketiga contoh wanita penguasa tersebut, tampaknya hanya Calonarang yang menggunakan kemampuan dan keunggulan pribadinya, yaitu kesaktiannya dalam menebar racun dan kelihaian mengintimidasi penduduk di wilayah kekuasaannya. Fenomena penggunaan racun untuk memperoleh kekuasaan tampaknya juga sering terjadi dalam sejarah kehidupan kerajaan, meskipun sangat terselebung. Penggunaan racun ini disinyalir sering dilakukan oleh wanita. Barangkali sinyalemen kepiawaian wanita memanfaatkan ada benarnya jika melihat film-film tentang sejarah kekuasaan di kerajaan Cina. Memang kesubtilan peran racun sering lebih ampuh untuk meruntuhkan sebuah kekuasaan pada seseorang. Jika tidak ampuh, mana mungkin tokoh pejuang hak azasi manusia kita itu Si Munir bisa tumbang dalam menegakkan keadilan.
Mazab kekuasaan bagi wanita pada zaman Hindu mulai runtuh ketika Islam mempengaruhi kebudayaan Jawa, Menurut tradisi keyakinan Islam tidak memberikan peluang kepada wanita untuk berkuasa, tentu dengan alasan dan pertimbangan tertentu. Namun demikian mazab kekuasaan bagi wanita telah muncul kembali. Terlepas dari semua itu saya tetap memprediksi dan percaya bahwa dimanapun wanita ada, tetap akan mampu berperan dalam menempatkan siapa yang harus berkuasa, siapa yang harus didukung untuk berkuasa, dan tetap lebih piawai katimbang pria dalam memanfaatkan sarana-sarana untuk mendapatkan kekuasaan.
Persoalan yang menggelitik adalah apa dan bagaimana kekuasaan itu dimaknai dalam kehidupan. Apakah sekedar untuk menuruti ambisi-ambisi kepentingan atau sampai pada pemaknaan untuk kemanfaatan dan kearifan bagi kehidupan manusia. Semoga yang terakhir inilah menjadi pilihan bagi siapun yang telah dan ingin berkuasa.
Semarang, 15 Juli 2005

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: