POSISI DAN PERAN INTELEKTUAL

Assalamualaikum wr wb
Salam sejahtera dan selamat siang

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah dan karunianya, sehingga pada siang ini kita diizinkan berkumpul bersama dalam acara Wisuda Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang. Pada hari ini saya merasa memperoleh kehormatan karena telah diberi kesempatan untuk melakukan orasi ilmiah dalam salah satu peristiwa ritual akademik.
Suatu pengamatan akademis mengindikasikan adanya kemerosotan budaya intelektual dalam masyarakat modern yang teknokratis dan terspesialisasi dalam proses diferensiasi. Gaya masyarakat semacam ini oleh Peter Berger disebut ‘segmentasi bidang-bidang kehidupan’, karena modernisasi telah membagi-bagi kehidupan sosial ke dalam sektor-sektor otonom dan spesialisasi-spesialisasi yang memiliki norma-normanya sendiri. Tak pelak lagi bila kemudian menimbulkan berbagai kritik. Misalnya: masyarakat modern lebih menekankan kepada: keterampilan (skiil) daripada pengembangan imajinasi, kemampuan teknis (technical competence) daripada pemahaman menyeluruh (overall comprehension); manusia diperlakukan sebagai objek dan mesin daripada subjek yang berpikir dan berhendak bebas; ilmu-ilmu positif-empiris dianggap memiliki standart kebenaran tertinggi sehingga mengakibatkan nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawa; dan objektivasi alam yang berlebihan mengakibatkan krisis ekologi. Apa yang disebut sebagai ‘kemerosotan budaya intelektual’ adalah manifestasi dari perubahan-perubahan ekonomi dan masyarakat dalam skala global (Dawan Rahardjo, 1993). Berangkat dari fenomena inilah, pada kesempatan ini saya hendak mengulas posisi dan peran intelektual dalam era globalisasi.
Mengawali pembicaraan tentang intelektual, kita tidak bisa melupakan khotbah klasik dari Harry Julian Benda di Eropa (1927) tentang ‘pengkhianatan kaum intelektual’. Dalam kotbahnya Benda mengecam para intelektual yang memburu dan bersekutu dengan kekuasaan, sebagai sosok yang telah mengkhianati jati diri dan integritas keintelektualannya. Menurut Benda kaum intelektual seharusnya berupaya membangun systematic knowledge, menegakkan kebenaran dan moral identity, bukan memperkokoh bangunan kekuasaan, mencari kursi mengail rejeki. Di Indonesia kotbah Benda tersebut menimbulkan dampak, yaitu perdebatan dan polemik yang tiada habis-habisnya. Pada tahun 1985-an terjadi debat tentang posisi intelektual, apakah harus berada di dalam atau di luar struktur kekuasaan agar mampu bersikap independen dan bebas berpikir kritis, dapat melanjutkan proses emansipasi dari emansipasi politik ke emansipasi kultural, dapat melakukan ‘transvaluasi nilai’ (istilah Nietzsche), dan tidak terjerat pada sifat ideologis keilmuan tertentu. Kemudian tahun 1993 eksistensi dan peran intelektual kembali menyeruak ke permukaan menjadi sebuah polemik di Harian Kompas, yang dimotori oleh Sobary, Fajrul Falaakh, Syamsul Hadi, dan Sumartana. Perdebatan maupun polemik itu agaknya tidak menemukan keniscayaan titik temu, meskipun muncul peringatan bahwa perubahan sosial dan kemunculan teknokratis di Indonesia memungkinkan ‘peran ganda’ kaum intelektual, sebagai birokrat atau teknokrat sekaligus sebagai pemikir bebas. Ini berarti pilihan-pilihan posisi dan peran bergantung kepada Sang intelektual itu sendiri. Namun demikian suatu keniscayaan yang mungkin, bahwa khotbah klasik Benda mengandung suatu standar moral bagi kiprah kaum intelektual yang hingga kini masih bergema. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kaum intelektual dalam menyiasati berbagai fenomena global seperti sekarang ini.
Globalisasi yang tengah merambah masyarakat dunia dewasa ini nampaknya lebih dipahami sebagai peristiwa dan proses kebudayaan dalam arti longgar. Kebudayaan tidak lagi dipahami secara substantif, melainkan proses untuk melihat praktik-praktik dalam penciptaan kembali ruang identitas (Friedman, 1995). Globalisasi sebagai fenomena budaya merupakan peradaban komersial, parameter modernitas, membentuk keseragaman dan sekaligus keragaman tertentu sebagai identitas dalam permainan sistem dunia (world system). Dalam perspektif sistem dunia, penciptaan dan hubungan lokal-global, pusat-pinggiran menjadi sesuatu yang penting karena hubungan tersebut mencakup pembagian kerja yang membatasi kehidupan sosial ekonomi dunia. Dari sinilah pola-pola dominasi dan hegemoni beroperasi melalui kekuatan pasar. Aktualisasi dominasi dan hegemoni tersebut tampak dalam bentuk keunggulan kekuatan untuk menguasai kekuatan lainnya, terutama dalam hal produksi, perdagangan dan keuangan secara serempak.
Proses globalisasi budaya tercermin dalam lima dimensi, yaitu: 1) ethnoscape, yaitu mengalirnya para imigran dan turis ke berbagai negara. Dalam hal ini mobilitas aktor sangat berperan, terutama dalam pembentukan corporation sebagai jaringan kerja. Contohnya merebaknya tawar studi ke luar negeri dan ekspor-impor tenaga kerja; 2) technoscape, yaitu terciptanya mesin, pabrik, dan perkembangan teknologi canggih yang dihasilkan oleh berbagai kawasan negeri. Hal ini bisa dilihat produksi CocaCola dan McDonald diberbagai negeri, 3) finanscape, yakni mengalirnya arus pertukaran uang dan saham pada pasar bebas. Di sini capital flow bergerak sejalan dengan arus informasi. Dari sini kita bisa mencermati gagasan tentang Pasar Bebas (AFTA), peran Bank Dunia; 4) mediascape, yaitu melimpahnya arus informasi melalui media ke penjuru dunia, seperti informasi yang berlalu-lalang di angkasa lewat komputer dan internet (cyberspace). Hal ini tentu akan mempermudah proses komunikasi antaraktor dan antarkorporasi; 5) ideoscape, yaitu derasnya gerakan ideologis terutama akibat inspirasi ide-ide pencerahan Barat, seperti demokrasi, hak asasi manusia, keterbukaan, dan kesejahteraan. Demokrasi yang tengah bergulir di negeri ini belum menemukan bentuknya, karena kita memang tidak punya tradisi demokrasi ala Barat (Arjun Appadurai,1990:2). Kelima dimensi itulah nuansa globalisasi menampakkan diri melalui aktivitas dan perubahan capital, corporation, communication, dan citizen, yang kemudian mucul istilah-istilah global culture, global flow, global wealth.
Situasi sebagaimana yang saya kemukakan akan melibatkan lembaga, sistem, dan strategi global dari para aktor pelakunya. Oleh karena itu, di dalam globalisasi bukan saja tenaga dan pemikiran yang dijual, tetapi juga komitmen dan loyalitas dari peran aktor yang ikut bermain, termasuk kaum intelektual. Interpretasi seperti ini akan melibatkan ideologi aktor (intelektual). Meskipun secara prinsipal maupun substansial, intelektual (isme) dan ideologi merupakan dua sisi yang berbeda. Pertanyaan yang muncul, mengapa keduanya dipertautkan? Bagaimana intelelektual harus memposisikan diri dan berperan dalam wacana global?

Intelektual dan Ideologi
Intelektual dapat dipahami secara longgar, yaitu para pemikir yang senantiasa mengambil sikap reflektif terhadap proses-proses sosial maupun mental kebudayaan, termasuk merefleksikan pandangannya, metodenya, paradigmanya dalam sebuah pergulatan dan pencarian secara terus menerus. Profil ini dibedakan dari mereka yang melakukan problem solving berdasarkan asas-asas mapan yang diterima secara taken for granted sebagai ciri pragmatisnya, seperti kaum profesional, teknokrat, birokrat dan sebagainya (Lihat Budi Hardiman, 1993). Ditinjau dari segmen masyarakat, intelektual merupakan ‘kaum’ yang mempunyai ciri dan karakteristik tertentu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kapasitas berpikir (rational competence) ‘lebih’ dan kapasitas mentransendensikan diri terhadap realitas sosial. Rational competence tampak dari pemikiran rasional yang kritis, bersifat memperbarui dan progresif, sehingga memungkinkan terjadinya perubahan pemikiran secara terus menerus. Jika seorang intelektual berpendapat bahwa dunia dapat diterangkan secara rasional, maka pendapat tersebut bisa digugat dan diubah sepanjang ia masih rasional. Ciri moralitas intelektual tampak dari komitmen, tanggungjawab, serta kepedulian yang tinggi atas kebenaran dan humanitas. Bertolak dari moralitas inilah moral perubahan menjadi penting bila dibandingkan dengan moral konservatif yang masih dianut oleh sebagian besar masyarakat kita. Sebab, moral konservatif selalu melindungi suatu tatanan atau nilai-nilai yang dianggap paling baik hingga saat ini, bahkan selama-lamanya. Pengidolaan dan pengkristalan terhadap kemapanan tatanan atau nilai-nilai lama semacam itu, yang kemudian dikemas dalam suatu sistem pemikiran dapat disebut ideologi.
Berbicara ideologi tak terlepas dari pertautan antara pengetahuan, kenyataan, dan kekuasaan (dominasi). Ideologi dapat dimengerti sebagai sistem berpikir yang mencakup seperangkat gagasan dan pengetahuan bermakna (kognitif maupun normatif), yang membentuk definisi tertentu tentang kenyataan, tidak bersifat netral karena berpihak pada nilai dan kepentingan tertentu, serta berhubungan dengan kekuasaan untuk memelihara relasi dominasi (lihat: Jazuli, 2000; 2001; bandingkan Berger dan Luckmann, 1990; Mannheim, 1991; Larrain, 1996). Kekuasaan di sini tidak selalu dimaknai dengan kekuasaan politik, melainkan bisa kekuasaan dalam bidang-bidang tertentu. Ideologi kapitalis selalu berupaya memperoleh keuntungan maksimal dengan biaya seminimal mungkin. Ideologi negara akan selalu menekankan apa yang boleh dan tidak boleh menurut UUD dan doktrin resmi pemerintah.
Ideologi dapat ditinjau secara fungsional maupun struktural. Secara fungsional, ideologi adalah seperangkat gagasan dan pengetahuan tentang kebaikan bersama. Biasanya dirumuskan dalam bentuk tujuan yang hendak dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Ideologi berfungsi untuk memberi justifikasi tindakan dan jalan keluar bagi mereka yang resah, menyembunyikan kontradiksi menuju kesesatan, memberi kerangka acuan bagi suatu komunitas yang loyal, mengatur dan memotivasi suatu tindakan, serta menjadi kriteria dalam evaluasi kebijakan dan tindakan. Secara struktural, ideologi adalah sebagai sistem pembenaran atas suatu kepentingan, seperti gagasan dan formula politik atas setiap kebijakan dan tindakan yang diambil oleh penguasa. Hal ini berarti bahwa pengklaiman terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataaan (praksisnya) dapat disebut ideologis, termasuk kepada paham (isme) atau teori-teori keilmuan (Jazuli, 2000). Namun demikian, jika ada orang yang bersikap ideologis bukan berarti tanpa pemikiran rasional. Sebab ideologi-ideologi besar yang dikenal dalam sejarah manusia mempunyai rationale yang mendalam dan filosofis, seperti ideologi kapitalis dan sosialis bahkan juga ideologi yang berupa doktrin-doktrin dalam agama-agama dan tradisi-tradisi yang berkembang di tengah masyarakat dan negara.

Pertautan Ideologi dan Kepentingan
Kepentingan mengandaikan adanya suatu kebutuhan yang bermakna. Oleh karena itu, siapa pun yang merasa punya kebutuhan ada kecenderungan akan mempertaruhkan ideologinya guna memperoleh apa yang dibutuhkan. Ini berarti bahwa kepentingan menjadi faktor krusial yang mampu mempertautkan antara spirit dan prinsip keintelektualan dengan ideologi. Keintelektualan memang sah digunakan untuk mencari nafkah, karena nafkah merupakan sebuah kebutuhan untuk memenuhi kewajiban duniawi. Statemen ini mengindikasikan bahwa intelektual dapat ‘berperan ganda’ bergantung pada kompetensi bidangnya. Misalnya sebagai seorang pedagang, staf ahli menteri, dosen, bahkan penjahat besar sejauh dia mampu melakukannya. Kita tentu masih ingat bahwa di negeri ini setiap terjadi peristiwa chaose atau ada kerusuhan dicari ‘siapa aktor intelektual’ di balik peristiwa tersebut. Namun demikian, semua peran semacam itu hanyalah fungsi deferensiasi, yang penting tidak mengorbankan keintelektualannya, terutama sikap independen dan kebebasan berpikir kreatif. Barangkali benar apa yang dikatakan Shils, bahwa surutnya peran intelektual sejalan dengan berkembangnya ekonomi negara-negara berkembang, karena kaum intelektual banyak yang terserap ke dalam diferensiasi fungsinya masing-masing. Ada yang masuk dalam profesi tertentu, ada yang aktif dalam birokrasi, ada yang terkesima dalam sukses bisnis, dan ada yang mengabdi di perguruan tinggi (Hendrajit,1993). Posisi seperti itu pada dasarnya merefleksikan apa yang saya sebut dalam orasi ini ‘penjual jasa’ atas keintelektualannya dan kepentingan ideologinya. Lebih-lebih dalam wacana global yang sarat dengan persaingan dan penguasaan teknologi komunikasi. Dari sini intelektual dituntut agar lebih profesional dalam bidang yang ditekuninya, piawai dalam membangun relasi dan mengembangkan image-image baru, serta memiliki kiat dan nyali untuk mengambil resiko dalam setiap aktivitas yang dipilihnya. Singkatnya, seorang intelektual di era global sekarang ini harus berani memperkenalkan spesisfikasi keahlian, berani membuat terobosan-terobosan yang prospektif, dan berani menjual jasa sesuai dengan kompetensinya.

Posisi dan Peran Intelektual
Posisi dan peran intelektual di era global menurut hemat saya akan sangat ditentukan oleh tiga premis nilai. Pertama, kesadaran diri sebagai subjek yang bertindak. Sebagai aktor (subjek) yang bermain seorang intelektual harus senantiasa memperhatikan hak, hak asasi, fungsi ilmu pengetahuan, otonomi pribadi dan demokrasi. R.A. Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan adalah contoh konkret penemu kesadaran diri kaum perempuan. Kesadaran diri itu ditemukan dan diperjuangkan melalui berbagai kendala objektif maupun subjektif. RA. Kartini sangat sadar terhadap dominasi tradisi patriakal, dan dari situlah beliau mengambil distansi untuk menyadari tradisi sebagai tradisi. Premis nilai kedua, bersikap kritis. Dalam konteks ini intelektual harus berani mengeliminir prasangka-prasangka dari tradisi dan agama untuk ditafsir ulang sesuai jamannya, bergairah dalam mengkaji penghayatan, dan mempersoalkan dimensi otoritas yang taken for granted. Kritik yang disampaikan tidak hanya mengandung realitas negatif, tetapi juga harus bersifat konstruktif, dalam arti mengarah kepada kemajuan dan memberi substansi positif ke masa depan. Kita tidak perlu mengklaim diri kita yang paling benar dan paling layak karena hanya akan menciptakan sikap-sikap ideologis. Jika terjebak pada suatu ideologi berarti kita enggan untuk berubah. Kasus Inul yang suka ‘ngebor’ yang dikecam oleh sebagian ulama beserta institusinya karena diklaim telah menyebarkan virus pornografi. Kasus Inul merupakan fenomena konkret pemikiran ideologis sehingga memunculkan sikap arogansi. Betapa tidak, dalam kehidupan sehari-hari kita tak jarang menjumpai fenomena porno, baik di televisi, di Mall, dan ditempat lainnya. Kasus sikap ideologis lainnya adalah invansi Amerika dan sekutunya ke Irak. Amerika memang menang bertempur tetapi sesungguhnya kalah berperang karena tidak mampu menemukan Sadam Husein, apalagi membunuhnya. Premis nilai ketiga, berpikir dan bertindak progresif, dalam arti mengadakan perubahan-perubahan secara kualitatif baru dan kontekstual, serta selalu membangun kesadaran akan pentingnya transformasi sosial. Dalam premis nilai ini, intelektual sangat berkepentingan untuk melanjutkan pencerahan di dalam tiga sektor kebudayaan guna meraih otonomi dan tanggungjawab dalam kehidupan masyarakat, yaitu (1) memajukan dimensi kognitif kebudayaan dalam bentuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; (2) memajukan refleksi moral-etis atas praksis sosial. Misalnya: mengadakan pengujian secara terus menerus atas kesahihan moralitas dan hukum yang berlaku agar semakin adil dan manusiawi; (3) mengadakan pencerahan terhadap ekspresi estetis dalam masyarakat, seperti mengembangkan seni dan kreativitas yang mampu mengekspresikan makna-makna tradisi dan kebudayaan kita.
Ketiga premis nilai sebagaimana yang saya kemukakan tadi tidak bisa dipisah-pisahkan, bahkan senantiasa berkorelasi secara komplementer (saling melengkapi). Kesadaran menimbulkan daya kritis yang pada gilirannya menentukan progresivitas, dan progresif menggugah kesadaran subjektivitas, demikian seterusnya. Semuanya itu merupakan manifestasi dari jasa kaum intelektual yang harus dijual atau diberikan kepada hidup bermasyarakat dan berbangsa. Jasa-jasa semacam itu merupakan bentuk kontribusi yang sangat dibutuhkan, dan boleh jadi cukup marketable dalam wacana global, selaras dengan ungkapan ”think globaly, act locally”. Oleh karena itu, bila ada intelektual yang berperan sebagai penjual kelontong, importir atau eksportir, bahkan suka mencari proyek, semuanya itu merupakan keniscayaan yang mungkin dan sah-sah saja selama komitmen keintelektualannya tidak terdistorsi dan menjadi subordinasi oleh kepentingan lain.

Sekian, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum wr wb

Semarang, 23 April 2003

PUSTAKA ACUAN

Berger, Peter L dan Luckmann Thomas. 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan. Terjemahan Hasan Basri. Jakarta: LP3ES.
Budi Hardiman, F. 1993. “Kaum Intelektual dan Modernitas”, dalam Kebebasan Cendekiawan. Jakarta: Pustaka Republika, p. 92-108.
Dawam Rahardjo, M. 1993. “Cendekiawan Indonesia Masyarakat dan Negara: Wacana Lintas Kultural”, dalam Kebebasan Cendekiawan. Jakarta: Pustaka Republika, p. vii-xix.
Friedman, Jonathan. 1995. “Global System, Globalization and the Parameters of Modernity”, dalam Mike Featherstone, Scott Lash and roland Robertson (ed). Global Modernities. London, Thousand Oaks, New Delhi: SAGE, p. 69-90.
Hendrajit, 1993. “Memahami Pergeseran Peran Intelektual”, dalam Kebebasan Cendekiawan. Jakarta: Pustaka Republika, p. 47-53.
Jazuli, M. 2000. “dalang Pertunjukan Wayang Kulit: Studi Ideologi dalang Dalam Perspektif Hubungan Negara dan Masyarkat. Disertasi Doktor Universitas Airlangga Surabaya.
_______. 2001. Paradigma Seni Pertunjukan. Yogyakarta: Lentera Budaya.
Julian Benda, H. 1960. “The Treason of Intellectuals:, dalam Gerge B. de Huszar (ed). The Intellectuals: A Controversial Potrait. Illinois: The Free Press of Glencoe, p. 217-231.
Larrain, Jorge. 1996. Konsep Ideologi. Yogyakarta: LKPSM
Mannheim, Karl. 1991. Ideologi dan Otopia. Yogyakarta: Kanisius.

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: