Kompetensi Sosial Guru Berasrama

Workshop Penyusunan Panduan Pendidikan Karakter Mahasiswa PPG Berasrama
dalam Rangka Mempersiapkan Guru Profesional Masa Depan
diselenggarakan oleh Kapusbang PPG UNNES, 12 Februari 2014

Oleh: M. Jazuli

Pendahuluan
Guru adalah faktor yang krusial dan sangat dominan di dalam pendidikan karena perannya sebagai komunikator (agen perubahan), fasilitator (pelayanan), motivator (profesional), dan reproduktor atau tutor (Jazuli, 2008). Guru sering dijadikan figur teladan bagi siswanya, bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Posisi itulah menjadi keharusan guru memiliki kompetensi yang memadai untuk mengembangkan siswa secara utuh sesuai dengan tujuan pendidikan. Dalam Undang-undang Guru dan Dosen disebutkan bahwa seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Selain itu Undang-undang juga mengamanatkan bahwa salah satu kewajiban guru adalah memberi teladan serta menjaga nama baik profesi, lembaga dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diterimanya. Mengingat posisi, peran dan tugas itulah kompetensi guru harus senantiasa dibina dan dikembangkan secara terus menerus. Pembinaan dan pengembangan dapat dilakukan secara individual maupun kelompok dan formal maupun nonformal. Secara formal dapat ditempuh dengan pelatihan-pelatihan atau dengan mengasramakan guru untuk ditempa kemampuannya.

Lazimnya sebuah asrama, dirancang untuk menjadi rumah kedua bagi para penghuninya (dalam hal ini guru). Artinya, semua penghuni diperlakukan sebagai anggota keluarga dan bertujuan untuk membuat sadar bahwa mereka dihormati sebagai individu dan dihargai perilaku sosialnya. Asrama dapat menjadi wahana yang relatif efektif untuk mengembangkan program kegiatan yang terkait dengan pengembangan diri maupun kemandirian penguhuninya, seperti menanamkan kesadaran budaya, empati, toleran, kerja kelompok dan keterampilan sosial ke dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebuah asrama biasanya dilengkapi fasilitas rumah tangga, ada staf pengelola, pimpinan asrama, dan tata aturan untuk menjamin ketertiban dan keamanan.
Tinggal di asrama berarti hidup berkelompok dengan orang lain yang tidak dikenal sebelumnya. Hal ini akan membantu seseorang mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain berdasarkan perkembangan intelektualitasnya. Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain inilah merupakan inti dari kompetensi sosial. Sebab, kompetensi sosial mempunyai hubungan yang erat dengan penyesuaian sosial dan kualitas interaksi antarpribadi. Kompetensi sosial menjadi salah satu dari empat kompetensi.
Berdasarkan latar tersebut di atas pembinaan kompetensi sosial guru dalam Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) menjadi krusial dan mendesak, apalagi dikaitkan dengan pendidikan karakter. Pertanyaan yang muncul adalah kompetensi sosial macam apa yang harus dimiliki guru? Bagaimana pembinaan dan pengembangan kompetensi sosial guru dilakukan? Apa peran Guru dalam Lingkup Sosial? Faktor apa saja yang mempengaruhi kompetensi sosial guru ?
Dalam tulisan ini hendak dicoba menawarkan skenario pembinaan kompetensi sosial guru dalam kehidupan berasrama.
Kompetensi Sosial Guru
Kompetensi sosial guru adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar (lihat Standar Nasional Pendidikan, tahun 2008, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir d). Menurut Al-Ghazali (Mulyasa, 2007) guru mengemban tugas sosiopolitik, yaitu guru memiliki tugas untuk membangun, memimpin dan menjadi teladan yang menegakan keteraturan, kerukunan, dan menjamin keberlangsungan masyarakat. Kompetensi sosial guru sangat diperlukan sebagai salah satu faktor keberhasilan proses belajar peserta didik. Hal ini karena guru sebagai komunikator pembelajaran, fasilitator, motivator, dan reproduktor dalam pembelajaran, sebagaimana digambarkan Jazuli (2008) pada tabel berikut ini.
FUNGSI PERAN TUGAS
AGEN PEMBAHARUAN
Menyampaikan nilai kehidupan KOMUNIKATOR
Sebagai transfomator informasi/ ilmu pengetahuan yang hidup
PELAYANAN
Dasarnya pengabdian FASILITATOR Memfasilitasi bagi tumbuhnya rasa kebersamaan, kepekaan, kepedulian, komitmen, konsisten, dan pengem-bangan diri siswa.
PROFESIONAL
Ahli dan tanggung jawab atas profesinya MOTIVATOR Memacu siswa agar berpikir ke masa depan, bersikap positif dan konstruktif, menumbuhkan nilai-nilai kearifan/keluhuran budi siswanya, serta selalu mengem-bangkan potensinya sendiri.
TUTOR
Nara sumber terpercaya, selalu memproduksi dan mereproduksi informasi/ilmu pengetahuan REPRODUKTOR Menjaga keamanan lahir batin dan menjamin hasil pemikiran para siswanya dalam proses pembelajaran agar menjadi ikon yang berwibawa dalam pembela-jaran dan lingkungan belajarnya (bagian ini berupa Tabel)

Guru adalah penceramah jaman dalam melaksanakan fungsi, peran, dan tugas harus selalu menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja,lingkungan sekitar dan sistim budaya yang berlaku.
Mulyasa (2007:176) merumuskan tujuh kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh guru agar dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, yaitu: (1) memiliki pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama, (2) memiliki pengetahuan tentang budaya dan tradisi, (3) memiliki pengetahuan tentang inti demokrasi, (4) memiliki pengetahuan tentang estetika, (5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial, (6) memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan, (7) setia terhadap harkat dan martabat manusia Ketujuh kompetensi sosial ini penting bagi guru agar dapat melaksanakan dua fungsi di sekolah yakni: (a) fungsi pelestarian dan pewarisan nilai-nilai kemasyarakatan dan (b) fungsi agen perubahan. Sekolah berfungsi untuk menjaga kelestarian nilai-nilai kemasyarakatan yang positif agar pewarisan nilai tersebut dapat berjalan secara baik. Sekolah juga berfungsi sebagai lembaga yang dapat mendorong perubahan nilai dan tradisi menuju kemajuan selaras dengan tuntutan kehidupan.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008, kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh guru mencakup kemampuan untuk: (1) berkomunikasi dengan baik secara lisan, tulisan, dan isyarat, seperti berkata dengan kata-kata yang tepat dan mengesankan; (2) memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi secara proposional, seperti facebook, twitter, blog, e-mail, e-learning maupun fasilitas internet lainnya; (3) berkomunikasi dan bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dan memperhatikan sistem nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat. Dengan demikian guru harus melengkapi dirinya dengan pengetahuan tentang hubungan antarmanusia, memiliki keterampilan membina kelompok, keterampilan bekerjasama dalam kelompok, dan menyelesaikan tugas bersama dalam kelompok; (4) menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan, artinya seorang guru hendaknya benar-benar mengajar dari hati, tanpa paksaan, selalu berupaya untuk saling terbuka dalam membangun persaudaraan, dan mampu berperan sebagai orang tua, kakak, dan atau teman. Sedangkan peranan dan cara guru berkomunikasi dalam kehidupan bermasyarakat diharapkan mempunyai karakteristik tersendiri yang sedikit berbeda dengan mereka yang bukan guru. Bagaimanan pun guru mengemban misi kemanusiaan dan sosial. Oleh karena itu seorang guru harus memiliki standar kualitas pribadi yang mencakup tanggung jawab, wibawa, dan disiplin, serta standar profesi (akademik) dan potensi sosialnya (reproduktor dan motivator).
Adapun indikator kompetensi sosial guru antara lain dapat terlihat dari: (1) cara bertindak objektif serta tidak diskriminatif; (2) berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun; (3) mudah beradaptasi dengan lingkungan kerjanya beserta keragaman sosial budayanya; (4) piawai dalam berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri maupun profesi lain secara lisan, tulisan, dan atau bentuk lain (bandingkan dengan Panduan Serftifikasi Guru Tahun 2006). Sedangkan tingkat keberhasilan komunikasi dalam kompetensi sosial seorang guru ditentukan oleh siapa audience atau sasaran komunikasi, perilaku apa yang diharapkan dari sasaran setelah berlangsung dan selesainya komunikasi, kondisi dalam arti kondisi apa sasaran ketika komunikasi sedang berlangsung, dan capaian bahan komunikasi yang harus dikuasai oleh sasaran komunikasi.
Pembinaan dan Pengembangan Kompetensi Sosial Guru dalam Kehidupan Asrama
Pembinaan dan pengembangan kompetensi sosial untuk guru, calon guru, dan peserta didik tentu berbeda. Kemasan pembinaan dan pengembangan harus memerhatikan karakteristik masing-masing, baik yang berkaitan dengan aspek psikologis, bentuk/model dan sistem yang mendukungnya. Strategi pembinaan dan pengembangan dapat dilakukan melalui pengembangkan kecerdasan sosial, pelatihan atau penataran, kegiatan yang bertujuan untuk beradaptasi dengan tempat tugas, dan menyadarkan tindakan komunikasi non-verbal guru.
Kecerdasan sosial guru akan membantu memperlancar jalannya pembelajaran serta dapat menghilangkan kejenuhan siswa dalam belajar. Cara yang bisa dilakukan di antarannya banyak membaca buku pengetahuan yang relevan dengan tugasnya, diskusi, melakukan kunjungan dan berbaur dengan masyarakat. Pelatihan atau penataran itu dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja, keahlian atau kemampuan lainnya. Namun agar dapat mencapai sasaran yang inginkan dalam menyelenggarakan pelatihan kompetensi sosial perlu target atau capaian atas dimensi kompetensinya. Beberapa dimensi ini, misalnya dapat ditemukan, dipilih dan dipilah dari 35 konsep life skills atau kecerdasan hidup. Sedikitnya ada 15 yang dapat dimasukkan ke dalam dimensi kompetensi sosial, yaitu: (1) Kerja tim, (2) Melihat peluang, (3) Peran dalam kegiatan kelompok, (4) Tanggung jawab sebagai warga, (5) Kepemimpinan, (6) Relawan sosial, (7) Kedewasaan dalam berinteraksi, (8) Berbagi, (9) Berimpati, (10) Kepedulian kepada sesama, (11) Toleransi, (12) Solusi konflik, (13) Menerima perbedaan, (14) Kerjasama, dan (15) Komunikasi. Kegiatan adaptasi dengan tempat kerja bertujuan agar guru dapat bekerja secara optimal di tempat tugas. betah bekerja di tempat tugas, dan menunjukkan kesehatan kerja di tempat tugas. Upaya menyadarkan tindakan komunikasi non-verbal guru sangat penting karena seringkali siswa lebih mudah melihat ketidakselarasan antara gerak mata, mimik wajah, dan ucapan yang muncul pada diri guru. Untuk itu guru hendak senantiasa tampil dengan senyum, rileks, terbuka dan siap diajak bicara, serta memberikan sambutan yang tulus kepada siswa dengan penuh hangat dan hormat.

Peran Sosial Guru
Peran sosial guru sesungguhnya tidak jauh beda dengan perannya dalam pembelajaran, yang membedakan adalah konteks dan tujuan. Oleh karena itu peran sosial guru adalah juga sebagai komunikator (pendidik), motivator (penggerak potensi), fasilitator (pengatur irama), reproduktor (di antaranya sebagai penengah konflik).
Peran komunikator karena ilmu seorang guru tidak hanya diberikan di dalam kelas tetapi harus ditularkan kepada masyarakat agar nilai kemanfaatannya lebih besar. Misalnya dengan mengajari masyarakat teknik dasar menjahit baju, membuat kerajinan dan sebagainya. Sebagai motivator guru harus aktif menggerakkan potensi besar siswa maupun masyarakat agar berpikir ke masa depan, bersikap positif dan konstruktif, menumbuhkan nilai-nilai kearifan/keluhuran demi mencapai kesejahteraan dan kemajauan. Peran fasilitator yakni guru harus menjadi transformator yang hidup agar mampu membaca potensi dan karakteristik seseorang, dan dapat menempatkan pada posisi yang tepat dalam kehidupan bermasyarakat maupun di sekolah. Dengan kemampuan dan pengalamannya, guru dapat membantu mengatur irama pola hubungan antarwarga masyarakat. Dalam pembelajaran Seorang guru harus bisa menjadikan orang tua, teman, sahabat sehingga mampu menjadi stabilitator, pelindung, dan penjaga dalam menggerakkan dan mengawasi setiap kegiatan pembelajaran siswa. Setiap orang pasti mempunyai masalah, baik yang berhubungan dengan dirinya maupun orang lain, bahkan banyak dari mereka yang menyelesaikan masalah dengan emosional, mudah menghakimi orang lain. Akibatnya, kehidupan sosial kurang harmonis. Dari sinilah peran guru sebagai reproduktor harus mampu mereproduksi dan memproduksi informasi yang mampu menjadi solusi ketidak harmonisan karena konflik. Misalnya menawarkan solusi dari permasalahan yang ada dengan kepala dingin, mengedepankan akal dan hati dari pada nafsu amarah, mengutamakan pendekatan psikologi persuasif daripada emosional oportunis sanagat dinantikan demi tercapainya kerukunan warga.

Faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Sosial Guru
.Sekurang-kurangnya ada dua faktor yang sering mempengaruhi kompetensi sosial guru, yakni latar belakang pendidikan dan pengalaman dalam pembelajaran.
Perbedaan latar belakang pendidikan akan mempengaruhi kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan interaksi pembelajaran. Misalnya sikap keilmuan dipengaruhi oleh karakteristik ilmu itu sendiri, lingkungan pendidikan, dan sebagainya. Pengalaman mengajar dapat mempengaruhi kompetensi pembelajaran guru, Sebab pengalaman secara teoretis yang diterima di jenjang pendidikan profesi tidak selamanya menjamin keberhasilan guru dalam mengajar, apabila tidak ditunjang dengan pengalaman interaksi langsung dengan lingkungan belajar atau interaksi langsung dengan siswa. Dengan kata lain jam terbang seorang guru berpengaruh terhadap kompetensi sosial guru.

Penutup
Urgensi pembinaan dan pengembangan kompetensi sosial guru dalam kehidupan asrama sangat mendukung profesi dan kariernya. Sebab, di dalam asrama kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain merupakan inti dari kompetensi sosial – yang sangat erat hubungan dengan penyesuaian sosial dan kualitas interaksi antarpribadi guru. Oleh karena itu, upaya pembinaan dan pengembangan kompetensi sosial guru harus terus dilakukan secara berkesinambungan, baik secara formal maupun nonformal. Asrama merupakan satu pilihan yang tepat untuk membina dan pengembangkan kompetensi sosial guru agar lebih profesional.
Betapa tidak, Asrama mampu sebagai wahana yang relatif efektif untuk pengembangan diri maupun kemandirian guru, seperti menanamkan kesadaran budaya, empati, toleran, kerja kelompok dan keterampilan sosial ke dalam kehidupan sehari-hari. Asrama dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kecerdasan sosial, pelatihan atau penataran, praktik kegiatan yang bertujuan untuk beradaptasi dengan tempat tugas maupun masyarakat, dan menjadi media penyadaran tindakan komunikasi non-verbal guru.

Pustaka Acuan
Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta:Prenada Media.
Farida Sarimaya. 2008. Sertifikasi Guru. Bandung:Yrama Widya.
Jazuli, M. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Surabaya: Unesa Press.
Mulyasa, E. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudarwan Danim. 2011. Pengembangan Profesi Guru. Jakarta:Prenada media

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: