Pengembangan Kreativitas sebagai Materi Pendidikan Seni

PENGEMBANGAN KREATIVITAS SENI BUDAYA TRADISI
SEBAGAI MATERI PENDIDIKAN SENI

Oleh: M. Jazuli (muhjaz61@gmail.com )

Pendahuluan
Ketika berbicara tradisi, apalagi dalam bidang seni budaya akan senantiasa dihadapkan pada kehidupan masa lalu, bernuansa simbolis yang lekat dengan mitos. Namun tradisi bukanlah suatu yang beku, statis, melainkan bisa dinamis dan berkembang sesuai tuntutan situasi. Tradisi hidup menampakkan dua sisi mata uang, yakni bertahan dan berubah. Bertahan karena untuk tujuan ketaatan dan perlindungan (pelestarian), sedangkan berubah karena kapasitas reflektif manusia (berpikir, bertindak, merasakan, berimajinasi, dan tafsir ulang), biasanya dipelopori seorang tokoh karismatik. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa tradisi selain ditemukan juga diciptakan. Tradisi dapat menjadi sumber inspirasi dan inovasi masa depan bagi pembangunan tradisi yang lebih baru. Oleh karena itu pembelajaran sebuah (seni budaya) tradisi menjadi signifikan dalam jagat pendidikan karena memiliki implikasi terhadap pengembangan wawasan (budaya) maupun wahana pembentukan jati diri. Apalagi pemikiran tentang pelestarian budaya tradisi terasa kering dan terbatas (sarana dan dana), pewarisan yang tersendat, banyak generasi muda kurang peduli, lemahnya database, dan rapuhnya kelembagaan adat.
Eksistensi seni masuk dalam jagat pendidikan (kurikulum) di sekolah karena memiliki esensi (materi dan cara) dan keunikan (peran dan nilai) yang berbeda dan tak bisa digantikan dengan Mapel (mata pelajaran) lainnya. Seni dapat memenuhi salah satu kebutuhan hidup manusia yakni kebutuhan estetik (aesthetic needs), rasa indah yang menyenangkan. Hasil kajian atau penelitian para ahli pendidikan seni menginformasikan, bahwa dampak hasil belajar seni dapat membantu meningkatkan daya kreatif (Read, 1970; Ross, 1983), dapat membantu perkembangan mental anak melalui kegiatan kreatif dan apresiatif (Chapman,1978; Lowewnfeld, 1982), dapat membantu perkembangan kepribadian dan pembinaan rasa estetik (Wickiser, 1974; Ross, 1983), dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana terapi mental.

Tegasnya, bahwa dampak pengalaman berkesenian bagi anak dapat diidentifikasi sebagai berikut: (1) seni sebagai wahana ekspresi dan aktualisasi diri, (2) sebagai sarana pembinaan kreativitas dan sikap apresiatif, (3) sebagai sarana pengembangan bakat, (4) sarana pembinaan keterampilan, (5) sarana pembentukan kepribadian, dan sebagai wahana pembinaan komunikasi estetik.
Bertolak dari uraian di atas, tampaklah bahwa tradisi (seni budaya) dapat menjadi sumber materi pembelajaran seni budaya yang kaya inspirasi, kaya nilai dan makna yang terefleksi dalam keanekaragam bentuk (wujud) penampilannya, baik seni tari, rupa, musik, dan teater. Namun demikian untuk mengembangkan materi tradisi dalam konteks pendidikan tidaklah sederhana karena membutuhkan pemikiran kreatif dan langkah yang strategis. Untuk itulah tulisan ini hendak mendiskusikan tentang pengembangan kreatif seni budaya tradisi dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sebagai sumber materi pendidikan seni budaya.
Landasan Pemikiran
Untuk mengembangkan materi seni budaya tradisi ke dalam kurikulum, saya hendak bertolak dari dua asumsi. Pertama, hubungan manusia (guru/agen, seniman, pelaku budaya) dengan lingkungannya (sosial, budaya, dan mental) tidak pernah netral. Hal ini karena manusia memiliki kapasitas reflektif (berpikir, bertindak, dan berimajinasi) sehingga manusia sering menjadi faktor konstitutif bagi lingkungannya. Kedua, manusia bukanlah hamba struktur dan kultur yang pasif melainkan agen yang aktif karena setiap pilihan tindakannya melibatkan kesadaran dan makna subjektif tertentu (Gidden, 1984; Berger dan Luckman, 1990; Jazuli, 2003). Guru misalnya, cara berpikir guru tidak berada dalam jagat vakum karena mereka memiliki dunia sosial yang syarat dengan nilai dan norma yang mengatur pola kehidupannya (social framework). Respons para guru terhadap kurikulum bisa berlainan karena setiap guru memiliki interpretasi yang tidak bebas dari nilai dan makna suatu fenomena sosiokultural yang melatarbelakanginya. Dalam situasi tertentu guru akan terlibat pada suatu skenario, jaringan, pengambilan keputusan, nilai dan norma tertentu. Dengan demikian, suatu realitas sosiokultural (di antaranya kurikulum dan kondisi sekolah) tidak bersifat tunggal karena bergantung pada heterogenitas makna yang diberikan oleh para guru sebagai pelaku praktik sosiokulturalnya.
Sekilas tentang Pendidikan Seni Budaya dalam KTSP
KTSP sebagai kurikulum berbasis kompetensi sangat menekankan capaian pembelajaran pada kompetensi tertentu, dan harus dimiliki oleh setiap lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi yang dimaksud merupakan penggambaran penampilan dari pengetahuan dan kemampuan siswa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak secara konsisten yang dapat diamati. Bertolak dari isi KTSP tersebut, tujuan mapel seni budaya di dalam KTSP pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa memiliki kemampuan: (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya, (2) menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya, (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya, (4) meningkatkan peran serta seni budaya pada tingkat lokal, regional, maupun global, (5) mengolah dan mengembangkan rasa humanistik, yang secara khusus berimplikasi untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berapresiasi, berkreasi, dan berinteraksi melalui aktivitas seni budaya. Dalam mapel seni budaya aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Artinya mapel seni budaya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya (lihat PP No. 19 tahun 2005).
Statemen KTSP tersebut menunjukkan betapa penting peran budaya dalam pembelajaran seni, terutama nilai-nilai budaya lokal. Untuk itulah pembelajaran seni budaya harus melibatkan budaya lokal (terintegrasi dengan tradisi budaya lingkungannya), memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan kegiatan yang aktif, kreatif, variatif, kritis, dan harus menyenangkan dalam keragaman budaya lokal. Hal itu dapat dilakukan dengan pemberian pengalaman estetik, yakni melalui kegiatan apresiasi dan kreasi (lihat Jazuli, 2008). Dengan demikian pendidikan seni budaya sekurang-kurang memuat fungsi sebagai berikut: (1) untuk wahana komunikasi karena mengajarkan untuk berinteraksi, mengungkapkan pikiran, emosi maupun aspirasi siswa, (2) untuk membantu siswa dalam menumbuhkan kreativitas dan membangun bakat, (3) untuk membantu siswa memahami pelajaran yang lain karena berkesenian sering memberikan (cara) pemahaman yang berbeda, (4) belajar seni budaya merupakan cara yang baik untuk memahami peradaban, dan (5) belajar seni budaya berarti melatih siswa menumbuhkah dan pengembangkan kepekaan rasa estetik dan penilaian artistik. Sungguhpun demikian, fungsi pendidikan seni budaya akan berlangsung sebagaimana yang diharapkan manakala guru sebagai agen pembelajaran memahami substansi kurikulum, baik yang menyangkut isi, cara pandang maupun pemahaman konsep dan tujuan pendidikan seni budaya. Sebab, pemahaman guru tentang substansi kurikulum akan menentukan ketepatan program pengajaran dan model pembelajaran bagi para siswanya.
Strategi Pengembangan Materi Seni Budaya
Program pengajaran merupakan rambu-rambu bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip kependidikan, konsep dan tujuan pembelajaran, tak terkecuali pada program pengajaran seni budaya. Prinsip kependidikan, konsep dan tujuan akan mempengaruhi model dan karakteristik kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus mampu memahami dan melakukan pilihan-pilihan atas nama ketiganya.
Dalam jagat pendidikan banyak dijumpai kata “prinsip” tetapi kalangan para ahli pendidikan relatif tidak banyak yang membahas masalah prinsip pendidikan secara mendetail. Macam prinsip pendidikan secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) prinsip pendidikan untuk semua (Education for All), (2) prinsip pendidikan yang sesuai dengan bakat manusia, (3) prinsip wajib belajar dan mengajar, (4) prinsip pendidikan yang menyenangkan dan menggembirakan, (5) prinsip pendidikan yang berbasis pada riset dan rencana, (6) prinsip pendidikan yang unggul dan profesional, (7) prinsip pendidikan yang rasional dan objektif, (8) prinsip pendidikan yang berbasis masyarakat, (9) prinsip pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman, (10) prinsip pendidikan sejak usia dini, (11) prinsip pendidikan yang terbuka, dan (12) Prinsip pendidikan sepanjang hayat (long life education). Prinsip tersebut sangat penting sebagai sandaran guru untuk menentukan model dan karateristik serta proses pembelajarannya, meskipun tidak semuanya digunakan.
Pemahaman guru seni budaya terhadap konsep seni akan mengarahkan bagaimana cara memotivasi dan membimbing kegiatan seni, memilih bentuk kegiatan, media dan cara mengevaluasi pembelajarannya. Sungguhpun konsep seni sendiri relatif beragam, bergantung dari cara pandang atau pendekatannya. Sekurang-kurangnya seni dapat ditinjau dari asal kata, dari pendapat para pakar, dan dari pandangan masyarakat. Contoh asal kata “seni” dari bahasa Sansekerta “sani” berarti pemujaan, permintaan, pencarian dengan hormat dan jujur; “cilpa” berarti berwarna, kemudian menjadi “su-cilpa” bentuk yang dihiasi dengan indah, “genie” berarti genius (bahasa Belanda); Orang Jawa menyebut suatu produk kehalusan jiwa manusia yang indah dengan istilah ‘kagunan (kesenian) atau karawitan (rumit)’ karena pengerjaan produk yang dimaksud lebih menekankan pada kehalusan dan kerumitan, seperti tatahan-sunggingan wayang kulit yang ngrawit, cecekan batik yang halus. Dalam bahasa Latin terdapt istilah “ars, artes, artista”. Ars adalah teknik atau craftsmanship artinya ketangkasan, kemahiran mengerjakan sesuatu (Soedarso, 1990; Jazuli, 2008).
Contoh konsep seni dari kalangan pakar seni. Masing-masing pakar memposisikan dirinya sebagai pencetus konsep seni yang paling tepat, tanpa menggugat konsep seni lain yang juga sama tepatnya. Kata ‘seni’ tidak hanya digunakan dalam arti keterampilan dan produk keterampilan, melainkan dalam arti luas keterampilan apa saja. Dickie dalam buku Aesthetics (1989) mencatat pengertian seni sebagai berikut: seni sebagai imitasi (Plato dan Aristoteles), seni adalah komunikasi perasaan (Tolstoy), seni sebagai bentuk bermakna (C. Bell), seni sebagai ekspresi perasaan (Collingwood), seni adalah perwujudan (Santayana), seni adalah penjelmaan (Bosanquet dan Reid), dan seni adalah simbolisasi perasaan (Langer). Simbol tidak menyampaikan ‘makna’ untuk dimengerti, melainkan ‘pesan’ untuk diresapi. Elastisitas seni tampak pada peresapan pesan itu sendiri. Ki Hajar Dewantara mensyaratkan tiga hal untuk bisa disebut indah, yaitu adanya integritas atau perfeks, ada proporsi yang tepat atau harmonis, dan adanya klaritas atau kejelasan. Herbert Read (1972) mengemukakan bahwa keindahan adalah kesatuan bentuk-bentuk, artinya susunan bentuk yang bagus adalah yang dimanfaatkan untuk mengekspresikan suatu perasaan atau emosi tertentu. Wickiser menyebut lima identitas seni dalam hubungannya dengan pendidikan seni, yakni ekspresi, imitasi, keindahan, hiburan, dan komunikasi. Dari kelima identitas tersebut, hanya ‘ekspresi’ yang diakui Wickiser sebagai konsep seni, sedangkan yang lain hanyalah atribut atau ciri-ciri seni (Lihat Jazuli, 2008).
Contoh konsep seni dari pandangan masyarakat, seperti seni sebagai ekspresi, penikmatan, dan sistem perlambangan, bahkan pedoman perilaku. Kesenian sebagai bagian dari tradisi budaya masyarakat senantiasa hidup baik sebagai ekspresi pribadi maupun ekspresi kolektif warga masyarakat. Oleh karena itu, kesenian lahir dari masyarakat dan tumbuh berkembang selaras dengan kepentingan masyarakat (nilai fungsi). Kesenian mempunyai nilai penikmatan, sehingga suatu aktivitas dapat disebut seni bila mampu memberikan kesenangan, kebahagiaan, santapan rasa melalui pengalaman imajinasi setiap orang sesuai tingkat persepsinya. Seni merupakan pernyataan idealisasi intelektual yang didasari oleh seperangkat sistem perlambangan. Untuk itu setiap karya seni selalu memiliki keunikan yang berasal dari loncatan imajinasi seniman yang tak terduga, tidak lazim, yang kemudian mempengaruhi dan menarik gairah sekitarnya sebagai pemberian pengalaman baru. Pengalaman imajinasi memang berawal dari sang seniman dan baru memperoleh kesempurnaan bila diterima oleh penikmatnya. Dalam konteks tertentu kesenian berfungsi sebagai pedoman terhadap berbagai perilaku manusia yang berkaitan dengan ekspresi simbolik, keindahan, dan interaksi sosial.
Strategi berikutnya adalah tentang kehidupan kesenian, termasuk konteks pembelajaran seni budaya, terdapat hubungan dialektik antara tradisi, inovasi, partisipasi, dan profesi. Logika demikian, menandakan bahwa kehidupan seni tak terlepas dari kreativitas dan hubungan dengan bidang kehidupan lainnya. Untuk mengembangkan seni tradisi dalam pendidikan perlu landasan pemikiran (konseptual) yang dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) hubungan antara seni tradisi dan inovasi memerlukan pengaturan atau sistem manajeman, (2) hubungan antara inovasi dan patisipasi membutuhkan pengkayaan dan rekayasa, (3) hubungan partisipasi dengan profesi dimediasi oleh legalitas, (4) hubungan tradisi dan profesi dimediasi oleh tatanan etis dan normatif, (5) hubungan antara tradisi dan partisipasi memerlukan subsidi, (6) hubungan antara inovasi dan profesi memerlukan sikap proaktif dan kreatifitas (Jazuli, 2000). Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini.

Pemaknaan dari bagan di atas dapat dijabarkan seperti berikut ini.
Tradisi (materi pembelajaran), inovasi (misi dan tujuan pembelajaran), partisipasi (siswa belajar), dan profesi (guru). Seni tradisi yang dimanfaat untuk pembelajaran yang inovatif memerlukan manajemen pengelolaan yang proporsional sesuai misi dan tujuan pembelajaran, artinya untuk kepentingan pembelajaran materi seni budaya tradisi tidak sekedar apa adanya (sebagaimana adanya) tetapi juga perlu modifikasi, pengemasan, dan penataan ulang. Bukan saja bentuk-wujudnya tetapi yang lebih utama adalah ruh, nilai, dan tujuan dari karya seni budaya tradisi itu sendiri. Misalnya dalam seni tari dapat berupa pemadatan dan pengembangan ragam gerak maupun durasi waktunya. Misi atas nilai-nilai seni budaya tradisi dan tujuan pembelajaran agar dapat diterima oleh siswa belajar. Ruh atau visi macam apa yang terkandung di dalam ekspresi seni budaya tradisi. Semua itu memerlukan strategi pemberdayaan dan rekayasa, artinya guru harus piawai dalam menggunakan cara (metode, pendekatan, teknik) agar tujuan pembelajaran seni tradisi dapat diserap atau diterima oleh para siswa.
Hubungan guru (profesi) dalam proses pembelajaran kepada siswa (partisipasi) dimediasi oleh kompetensi (kurikulum, sertifikasi) sebagai bentuk legalitas dalam menjalankan tugas maupun fungsi masing-masing. Hal ini terkait dengan kedudukan dan peran guru maupun siswa. Hubungan antara guru (profesi) dengan seni tradisi dimediasi oleh norma dan etika. Artinya guru dalam memanfaatkan seni tradisi harus memahami norma dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebab di dalam seni budaya tradisi biasanya memiliki aturan dan prosedur tertentu yang dipatuhi dan dilakukan, seperti tari istana Jawa selalu terdapat sikap sembahan. Hal ini dimaksudkan agar guru dalam memanfaatkan seni tradisi tidak terjadi kesalahpahaman memaknai nilai dan tujuan seni tradisi sehingga dapat dianggap merusak tradisi.
Hubungan antara materi seni budaya tradisi dengan siswa belajar (partisipasi) dimediasi subsidi yang dapat berupa sarana prasarana, dukungan dari penentu kebijakan (penguasa), pendanaan, dan sebagainya. Selama ini banyak seni tradisi yang terseok-seok bahkan punah karena tidak diinfus oleh mediasi tersebut. Hubungan antara guru (profesi) dengan hal-hal yang inovatif memerlukan sikap dan perilaku yang proaktif dan kreatif. Suatu profesionalitas hanya mungkin terbentuk bila ada etos kerja yang kuat, aktif, kreatif, ulet, disiplin, dan tentunya semangat membara (optimis). Misalnya guru yang memahami profesinya tentu tidak akan merasa kekurangan bahan ajar maupun metode mengajar karena guru semacam itu selalu berusaha mencari wawasan baru untuk menunjang dan mengembangkan profesinya.
Penutup
Pemanfaatan seni budaya tradisi sebagai materi dalam pendidikan menjadi relevan ketika kita mulai merasa kehilangan identitas dan nilai-nilai budaya bangsa sendiri. Betapa tidak ironis, kita dihadapkan pada serbuan budaya instan, pop, dan budaya global. Media komunikasi seperti koran, radio, internet, jejaring sosial dan televisi menjadi media telah masuk ke ruang-ruang privasi kita. Budaya instan dan global itu dengan mudah memengaruhi diri anak-anak kita, baik pada tataran kognitif, afektif, dan lambat laun akan sampai pada ranah psikomotorik. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai budaya tradisi yang baik dan positif sangat urgen dilakukan dan dikembangkan melalui berbagai cara strategis maupun media yang canggih, dan dilandasi dengan semangat untuk meneguhkan identitas lokal dalam percaturan global.

Pustaka Acuan

Berger, Peter L. & Luckmann Thomas. 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan. Terjemahan Hasan Basri. Jakarta: LP3ES.
Dickie, George, et.al. 1989. Aesthetics: A Critical Anthology. New York: St. Martins Press.
Eisner, Elliot W. 1992. “Alternatuve Approaches to Curriculum Development in Art Education.” Studies in Art Education. Vol 45 No 1. Hal 16-24.
_____. 1997. The Educating Artistic Vision. New york: The Macmillan Company.
Feldman, E.B. 1967. Art as Image and Idea. Englewood-Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc
Giddens, Anthony. 1984. The Constitution of Society: Outline of The Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press.
Habermas, J. 1971. Knowledge and Human Interests. Boston: Beacon Press.
Jazuli, M. 2000. “Tiada Kekuasaan tanpa Keunggulan”. Makalah Seminar Konvensi Nasional Pendidikan IV tentang Reformasi Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Baru, Universitas Negeri Jakarta, tanggal 19-22 September 2000.
_____. 2003. Dalang, Negara, Masyarakat. Semarang: LimPad
_____. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Surabaya: UNESA Press.
Read, Herbert. 1970. Education Trought Art. London: Faber and Faber.
_____.1972. The Meaning of Art. London: Faber and Faber.
Ross, Malcom. 1983. The Aesthetic Impuls. Oxford: Pergamon Press.
Soedarso Sp. 1990. Tinjauan Seni. Yogyakarta: Suku Dayar Sana.
Wiskiser, Ralph L. 1974. Menuju ke Pendidikan Seni. (terj. Art Education to Art Education). Malang: P3T IKIP Malang.

Perihal muhammadjazuli
saya pengajar di FBS Universitas Negeri Semarang. Untuk Menghubungai saya di 081 325 7229 29 atau di 024 850 8074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: