KARYA BUKU

TELAAH TEORETIS SENI TARI

Bila anda ingin memahami khasanah dunia tari, buku ini memberikan apresiasi seni tari yang cukup lengkap. Diawali dengan pengertian tari yang memberikan pencerahan mengapa tari meng-’ada’ dan apa makna tari bagi kehidupan manusia beradab dan berbudaya. Tari tampil dihadapan penonton dengan berbagai unsur pelengkapnya sehingga menarik untuk dinikmati.

Tari senantiasa berkembang selaras dengan tuntutan hidup manusia. Oleh karena itu periodesasi perkembangan tari bisa dilacak sejak zaman Batu hingga zaman sekarang. Sejalan dengan setiap tahap perkembangan, tari memiliki bentuk, fungsi, dan tujuan yang berbeda pada setiap zaman. Demikian pula tolok ukur keindahan dan nilai filosofisnya

PANORAMA DUNIA KARANG MENGARANG

Seorang penulis produktif, The Liang Gie berkata, mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikan bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Dengan demikian pengarang adalah orang yang bidang kerjanya melakukan kegiatan karang mengarang.

Untuk menjadi pengarang yang baik dibutuhkan penduan, petunjuk, bahkan pembimbing. Buku ini hadir sebagai salah satu pedoman untuk mengarang secara baik dan dapat menjadi teman yang baik karena ikut membimbing bagaimana cara mengarang dengan baik dan benar menurut kaidah-kaidah ilmiah.

PARADIGMA KONTEKSTUAL PENDIDIKAN SENI

Dunia pendidikan di negeri ini cenderung lebih menekankan aspek kognitif (intelektual), dan kurang diimbangi dengan pendidikan olah rasa dan olah hati. Artinya ada diskriminasi terhadap pencerdasan emosional dan spiritual.

Seni merupakan sebuah cara pemahaman melalui pengalaman artistik individu untuk mengenali diri sendiri maupun orang lain. Seni juga merupakan sesuatu yang alamiah dalam kehidupan manusia, seperti halnya bernafas dan berjalan. Seni adalah aspek intrinsik dari kehidupan manusia. Oleh karena itu pendidikan seni merupakan bentuk pendidikan nilai yang bermuara kepada pendidikan moral dan spiritual.

Hasil penelitian telah menginformasikan bahwa pembelajaran seni yang baik (strategi dan pendekatan) mampu untuk memberdayakan Anak Jalanan. Penelitian yang lain, bahwa pembelajaran seni tari di sekolah mampu menimbulkan rasa percaya diri anak yang berupa tumbuhnya perasaan bangga, memiliki sifat pemberani, mampu mengendalikan emosi dan mengasah kehalusan budi, menumbuhkan rasa bertanggung jawab dan rasa mandiri, mudah berinteraksi dengan orang lain, memiliki prestasi lebih baik, berkembang imajinasinya dan kreativitasnya.

DALANG, NEGARA, MASYARAKAT

Ideologi agen berperan secara signifikan di dalam proses hubungan sosial. Siapapun yang memposisikan diri sebagai agen, tak terkecuali dalang, akan ikut membentuk dan dibentuk oleh kondisi sosiokulturalnya, dunia sekitarnya. Hal ini hanya bisa dipahami manakala manusia diperlakukan sebagai subjek yang berpikir dan bertindak atas kehendak bebas.

Pergeseran orientasi dan cara pandang agen (dalang) dari motif sosial (moral) ke motif ekonomi (rasional) tidak terlepas dari tuntutan sosiokulturalnya. Dari sinilah ideologi agen dibentuk dan kemudian diungkapkan melalui praktik sosial dan tindakan simbolis yang mendasarkan pada kepentingan dalam konteks peristiwanya. Berangkat dari sini pula posisi dan strategi agen baik yang berupa reproduktor, akomodator, dan emansipator bertaut erat dengan varian ideologi yang tersimpan di kepala sang agen.

PARADIGMA SENI PERTUNJUKAN

Wacana Seni Tari, Wayang dan Seniman.

Barangkali kreativitas seni akan selalu mengalir tanpa henti. Alirannya begitu deras hingga dapat mengikis tebing-tebing pesimisme yang datang dari dalam maupun luar komunitasnya. Karya-karya seni akan selalu menghiasi cakrawala umat manusia di muka bumi ini.

Seni pertunjukan merupakan komunitas yang telah lama menjadi budaya manusia, atau bahkan setua umur manusia itu sendiri. Seni pertunjukan barangkali juga merupakan alat komunikasi antarsesama untuk menyampaikan pesan positif suatu bangsa.

Wacana seni pertunjukan dari waktu ke waktu selalu mengalir tanpa henti. Berbagai isu akan selalu muncul mewarnai kehidupannya. Tak pelak bila kajian-kajian seni pertunjukan akan semakin menunjukkan eksistensinya dalam menghadapi tantangan global, dunia yang sarat dengan informasi. Herakleitos seorang filsuf Pra-Sokratik berkata: Panta rhei kat uden menei – Semua mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal dengan mantap.

JAGATKU, JAGATKU, JAGAT PERGURUAN TINGGI

SEBUAH KOSMOLOGI MANDALA JAWA

Mandala adalah diagram magis mempunyai satu titik tengah sebagai inti atau pusatnya – sebagai sumbu dari garis-garis imajiner yang membentang ke poros vertikal (habluminnallahi) dan poros horizontal (hambluminannas) untuk menghubungkan tata ruang, kawasan dalam mandala. Sungguh pun secara kosmologis kedua garis itu mempunyai jangkauan tak terhingga, tak terbatas. Sebab jagat itu sendiri pada dasarnya juga tak terbatas, tak terhingga, manusialah yang membatasi karena memang serba terbatas. Titik pusat inilah secara kualitatif merupakan kristalisasi power, substansi otoritas, sumber energi, sekaligus simbol ‘aku’ (manifestasinya bisa berupa subjek yang bertindak, pengamat, dan berupa lembaga) yang dapat memancar ke berbagai dimensi ruang-waktu. Apa yang dimaksud inti atau pusat merupakan simbolisasi dari sesuatu yang dianggap suci, dianggap paling tinggi, paling penting. Jadi diagram mandala, sebuah rekonstruksi teoretik melalui cara berpikir deduktif.

Dari titik pusat (Inti) ‘aku’, sebagai simbol subjek yang bertindak, yang bisa berperan sebagai pelaku utama, pengamat, pengkaji, maupun perguruan tinggi itu sendiri sebagai institusi. Kemudian membentang vertikal menghasilkan tiga tahapan kualitas capaian atau sasaran, yaitu 1) pembentukan pribadi yang utuh pada lingkaran dasar; 2) penyempurnaan ilmu pada lingkaran tengah; 3) ketenteraman dan kedamaian dunia pada lingkaran puncak. Garis vertikal lanjutan dengan simbol di luar jangkauan manusia. Pada bentangan horizontal dari titik pusat konsentris pada lingkaran1, terbelah menjadi empat wilayah yang sekaligus berfungsi sebagai penyangga ketiga capaian vertikal, yaitu Jagat Pendidikan di wilayah Timur, Jagat Penelitian di Selatan, Jagat Pengabdian kepada masyarakat di Barat, dan Jagat Pengelolaan di wilayah Utara.

TEORI KEBUDAYAAN (Diktat)

Diktat Teori Kebudayaan disusun untuk menunjang kelancaran proses pembelajaran mahasiswa dalam upaya memahami berbagai wawacana, fenomena, dan wawasan kebudayaan yang ada dan terus tumbuh berkembang sesuai tuntutan zaman. Diktat ini lebih merupakan wacana awal, pengantar untuk memacu dan menstimuli para mahasiswa atau siapa pun yang ingin memahami kebudayaan secara tekstual maupun kontekstual.

Tentu saja isi buku ini lebih memprioritaskan kepada persoalan yang berkait dengan fenomena empirik, konsep, dan teori kebudayaan yang berkembang. Bagaimana sebuah kebudayaan bisa mengalami kemunduran maupun kemajuan, apa faktor yang mempengaruhinya, bagaimana satu faktor itu berkorelasi dengan faktor lainnya. Apa yang sesungguhnya terjadi pada kebudayaan kita, kebudayaan lokal, dan kebudayaan global.

contact person Bp. Jazuli (081325722929)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: